***
Detik ini adalah hari pernikahan kami yang ke enam tahun.
Menyeret ingatku mundur jauh. Terbayang-bayang dengan kisah manis penuh
kebahagiaan bersamamu dan si peri kecil. Tart
dengan lilin angka 6 bentuk kasih-sayangku yang tak pernah pudar padamu. Walau
ada yang lebih menyayangimu dari pada aku dan Syafira.
Allah
telah menjemputmu dengan cara manis. Sebagai seorang anggota polisi yang siap
mengabdi negara dalam keadaan apapun, itulah tugasmu. Kala
itu booming penembakan brutal pada anggota polisi. Kamulah salah satu korbannya.
Aku sempat marah. Namun ketika kulihat dalam tubuh yang kaku ada senyum manis
di bibirmu. Senyum itu yang selalu menenangkanku di kala aku marah. Dengan hati
yang masih keras terpaksa aku memaafkan tersangka pembunuhmu. Allah memang telah merenggut kebahagiaanku. Tapi Allah telah membayarkan.
Menghujaniku dengan kebahagiaan yang akupun tak tahu bagaimana caranya, aku
harus bersyukur.
“Bunda...” teriak Syafira.
Peri
kecilku baru tiba dari sekolah. Namun dari teriakan kencangnya terdengar
semangat yang masih sama ketika dia baru sarapan tadi pagi. Ia berlari menghampiriku dan langsung memelukku.
Aku
langsung mensejajarkan diriku dengan tinggi badannya. Kupeluk erat tubuh
mungil si peri kecil. Kucium kedua pipinya. Ku kecup bibir merahnya. Dia pun membalasnya
dengan menyatukan hidungnya yang mancung dengan hidungku. Bocah kecil ini
tampak sangat bahagia. Aku penasaran atas kebahagiaan yang sangat terlihat dari
tawanya usai memainkan hidung mungilnya ke hidungku.
“Bahagia
banget sih, ada apa hayoo...?”
Bocah kecil ini tersenyum mekar menyembunyikan kebahagiaannya. Ku lontarkan lagi pertanyaan yang sama kebahagiaanku ini.
Senyum lebar yang lagi-lagi menjadi jawabnya. Geregetan sekali melihat tingkah
si peri kecilku. Sungguh mirip dengan Mas Arshad. Ah!
“Sayang...kasih tahu bunda dong, janji deh nggak ngomong kesiapa-siapa” ku agkat jari kelingkingku, sebagai tanda perjanjian.
“Sayang...kasih tahu bunda dong, janji deh nggak ngomong kesiapa-siapa” ku agkat jari kelingkingku, sebagai tanda perjanjian.
“Syafira ayolah...” rengekku.
“Mama cantik....!!!” Teriak Syafira.
Bocah
kecil ini dengan sigap berlari kencang. Tawa bahagia mengikuti larinya yang
semakin menjauhiku. Kepalaku
bergeleng-geleng tanpa mengangguk-angguk. Aku ingin tertawa keras tapi aku
harus mengejar peri kecilku yang tampaknya menunggu kakiku untuk berlari. Dalam
kejaranku tawa puas atas berhasilnya membuatku penasaran terus bergema. Kadang
aku harus pura-pura menyerah, agar dia berhenti tapi bocah ini terlalu cerdas
untuk di bohongi. Ia terus berlari, menyusuri seluruh ruangan di rumah.
Sesekali bersembunyi, jika aku tahu tempat persembunyiaannya dia akan menjerit
kencang sekali di ikuti oleh tawa lalu berlari lagi. jika tertangkap ia akan
meminta ampun dan merayuku. Yah...ini adalah kebahagiaannya. Ku kecup dahulu
baru kulepaskan dan membiarkan ia berlari. Aku mengejar lagi.
Menanggkap. Melepas. Tanpa
sedikitpun ada rasa jenuh. Membiarkan ia puas melakukan kelincahannya. Ada
butiran tetesan bahagia yang jatuh dari sudut mataku. Kebahagiaannya juga
bahagiaku.
“Ampun bunda...” rengeknya dalam tangkapanku.
“Muah...udah
ya kita damai, titik. Mana jari kelingkingnya?”
Ia
memandang jari kelingkingku yang minta
di sambut oleh jari kelingkingnya. Lalu dia memandangku. Ku anggukkan kepalaku,
tanda mengiyakan. Dia memberi isyarat agar aku mendekatkan telingaku pada
bibirnya. Aku
menuruti. Rasa penasaran semakin meletup-letup.
“Bunda cantik banget...!!!” ia lari
lagi.
Subhanallah...peri kecilku ini benar-benar membuatku geregetan.
Baiklah aku mengalah. Tak akan lagi ku paksa ia membocorkan rahasia
kebahagiaannya. Biarlah rahasia itu ia simpan
sendiri di dalam kotak hatinya yang masih suci. Mungkin itulah dunia polos anak
kecil. Pasti Mas Arshad kecil juga begitu. kalau tidak meniru orang tuanya,
meniru siapa lagi?
Terlihat keringat membasahkan
seragamnya. Kupastikan ia mulai lelah. Tanpa ku kejar ia mendekatiku. Lalu
memelukku dengan penuh kemanjaan.
“Capek ya...makan dulu ya...”
Syafira hanya mengangguk. Selain
lelah sepertinya lapar juga ikut berdemo di tubuhnya. Ku suapi dengan lembut.
Senang sekali melihat ia melahap habis makanan yang ku suapkan ke mulutnya.
Ku elus pipinya. Kasian melihatnya
begitu lelah.
“Sayang ganti baju dulu ya...terus
bobo siang...bobonya sendiri aja ya...mama mau beres-beres dapur dulu. Nanti
habis sholat ashar kita ke tempat ayah...”
Syafira menyadari bundanya baru
membuat kue tart, hingga dapur
sedikit berantakan. Syafira mengangguk tanpa protes. Ia segera menuju ke
kamarnya. Namun beberapa detik kemudian, ia menghentikan langkahnya. Ia memutar
balik badannya ke arahku.
“Kenapa sayang?” Tanyaku. Heran.
Ia kembali mendekat ke arahku.
Seperti ada yang ingin di ungkapkan.
“Bunda...kue tartnya untuk ayah? Tapi bunda tadi kata bu guru Syafira, orang
islam tidak boleh merayakan ulang tahun apalagi meniup lilin, ayahkan juga gak
bisa meniup kan udah di surga,” protesnya penuh dengan kepolosan.
“Pintar sekali peri kecil bunda,
bunda...cuma pengen buat aja, yaudah kamu cepat tidur enggak mau kan kalau
nanti bunda tinggal?”
“Enggak mau...!!!” teriaknya sambil
berlari kencang menuju kamarnya.
Aku
terbahak dibuatnya. Peri kecilku...bunda sungguh bangga padamu. Tak perlu aku menjelaskan panjang lebar alasanku tentang
persembahan kue tart untuk ayahnya.
Dengan kecerdasannya, ia telah mengerti. Aku memang tak pernah merahasiakan
sekecil apapun kisah tentang ayahnya. Juga tentang bundanya yang selalu ingin
merayakan kebersamaan dengan ayahnya. Dia, peri kecilku adalah teman tempatku
bercerita. Peri kecilku selalu mengerti hati bundanya.
Aku dan
peri kecilku berdiri disini. Mengelilingi tempat peristirahatan Mas Arshad yang
paling abadi. Aku mengelus batu nisan yang telah terukir nama beserta
pangkatnya. Briptu M. Arshad Habiebullah, S.H. Untuk ziarah kali ini berani
kukatakan, ku tak akan menangis. Aku bahagia.
Mataku
mengalihkan pandangan ke arah Syafira. Bocah ini, aku tahu sudah memiliki rasa
sedih. Sedih karena rindu pada ayahnya. Sebulan yang lalu ku ajak ke sini, ia
menangis sesenggukan. Ia ingin di peluk oleh ayahnya. Entah apa masih menjadi
rahasianya. Ia tampak tetap memancarkan cahaya kebahagiaan. Membuatku
benar-benar mengharamkan air mata terjatuh.
Sebelum
berangkat tadi Syafira ngotot meminta membawa tas, yang tak ku tahu apa isinya.
Wajah polosnya membuatku luluh, aku biarkan sesuka hatinya berkreasi. Syafira
mengeluarkan kantong kresek. Lalu membuka ikatannya dan mengambil isinya. Ah...subhanallah...kantong itu berisi bunga
mawar yang sudah siap tabur. Segenggam bunga yang telah Syafira ambil, ia
taburkan ke gundukan tanah merah ayahnya.
“Ayah...ayah
bahagia di surga ya...surganya sudah harum, udah Syafira kasih bunga ini,” ucap
peri kecilku. Senyum mekar terlihat di bibirnya.
“Bunda
ini!” Syafira memberikan dua genggam bunga padaku.
Air mata
yang sedari tadi telah menggenang di kelopak mataku. Menyadari hebatnya peri
kecil. Gagal ku bendung. Jatuh dengan derasnya. Aku berusaha mengusap dengan
kain kerudungku, namun aku tak ada daya. Syafira berusaha mengusap dengan
tangan mungilnya, namun tangisku semakin pecah. Bunda bahagia sayang...Syafira
memang tumbuh menjadi bocah yang ajaib. Membuatku bangga. Dia tahu bagaimana
cara membuatku bahagia tanpa aku harus mengajarinya. Dia tahu apa yang harus ia
lakukan tanpa harus menyusahkanku. Dia...menjadi dewasa sebelum ku pinta.
Syafira...
Langit
telah tampak kemerahan. Matahari sudah melambai
tanda perpisahan pada siang dan menyambut senja. Hari semakin gelap,
menyadarkan kita untuk segera pulang. Langkah kaki bahagia mengiringi
kepulangan kita.
Dalam mobil pikiranku terusik oleh
bunga-bunga yang di bawa Syafira. Dari mana ia mendapat bunga-bunga yang cukup
banyak itu. Setahuku di sekitar sekolahnya tak ada penjual bunga. Kalaupun ia
beli di luar area sekolah, itu sangat tidak mungkin. Setiap hari Syafira pulang
di antar oleh bus sekolah tepat di depan rumah, artinya dia pulang dari sekolah
langsung ke rumah. Apakah mungkin dia meminta pada tetangga, karena cukup
banyak tetangga sekitar yang menanam bunga mawar. Tapi kapan dia sempat
meminta, bunga-bunganya masih segar. Uh...peri kecilku...
Selepas turun dari mobil peri kecil
kugendong dengan manja. Menciuminya berkali-kali. memberikan pujian. Ku
janjikan hadiah paling cantik. Yah...dibalik itu aku mau dia jujur atas rasa
penasaranku hari ini untuk yang kedua kalinya.
“Sayang...tadi bunganya indah
ya...harum banget lagi pasti ayah senang sekali. Emmm kalau boleh bunda tahu, bunga yang harum banget itu
Syafira dapat dari mana?”
Syafira
memberontak dan meronta untuk di turunkan. Sepertinya hari ini dia sengaja
menjaga rapat-rapat rahasinya. Aku semakin penasaran. Ada apa anak ini? Setelah
terpaksa kuturunkan dari gendongan, Syafira merebut kunci pintu rumah, lalu
berlari dan segera masuk kedalam rumah. Anak ini aneh tapi untung bundanya tak
ikut-ikutan aneh. Heh!
Aku
hendak mengejar Syafira. Namun pandangan mataku lebih memimpin langkahku. Aku
menghampirinya. Mawarku...
“Surat
kecil untuk bunda, Bunda...Syafira minta dikit aja ya bunganya. Dikit aja.
Terimakasih bunda. Bunda cantik banget.” Bacaku sedikit tercengang.
Peri
kecilku...kaulah bunganya bunda...kamu lebih indah dan lebih harum dari bunga
apapun. Peri kecilku kaulah sumber kekuatan bunda. Sayapmu tak tampak tapi
bunda merasakannya.
Komentar
Posting Komentar