Langsung ke konten utama

Sosokmu, Peri Kecil Tak Bersayap

***
            Detik ini adalah hari pernikahan kami yang ke enam tahun. Menyeret ingatku mundur jauh. Terbayang-bayang dengan kisah manis penuh kebahagiaan bersamamu dan si peri kecil. Tart dengan lilin angka 6 bentuk kasih-sayangku yang tak pernah pudar padamu. Walau ada yang lebih menyayangimu dari pada aku dan Syafira.
            Allah telah menjemputmu dengan cara manis. Sebagai seorang anggota polisi yang siap mengabdi negara dalam keadaan apapun, itulah tugasmu. Kala itu booming penembakan brutal pada anggota polisi. Kamulah salah satu korbannya. Aku sempat marah. Namun ketika kulihat dalam tubuh yang kaku ada senyum manis di bibirmu. Senyum itu yang selalu menenangkanku di kala aku marah. Dengan hati yang masih keras terpaksa aku memaafkan tersangka pembunuhmu. Allah memang telah merenggut kebahagiaanku. Tapi Allah telah membayarkan. Menghujaniku dengan kebahagiaan yang akupun tak tahu bagaimana caranya, aku harus bersyukur.
            “Bunda...” teriak Syafira.
            Peri kecilku baru tiba dari sekolah. Namun dari teriakan kencangnya terdengar semangat yang masih sama ketika dia baru sarapan tadi pagi. Ia berlari menghampiriku dan langsung memelukku.
            Aku langsung mensejajarkan diriku dengan tinggi badannya. Kupeluk erat tubuh mungil si peri kecil. Kucium kedua pipinya. Ku kecup bibir merahnya. Dia pun membalasnya dengan menyatukan hidungnya yang mancung dengan hidungku. Bocah kecil ini tampak sangat bahagia. Aku penasaran atas kebahagiaan yang sangat terlihat dari tawanya usai memainkan hidung mungilnya ke hidungku.
            “Bahagia banget sih, ada apa hayoo...?”
            Bocah kecil ini tersenyum mekar menyembunyikan kebahagiaannya. Ku lontarkan lagi pertanyaan yang sama kebahagiaanku ini. Senyum lebar yang lagi-lagi menjadi jawabnya. Geregetan sekali melihat tingkah si peri kecilku. Sungguh mirip dengan Mas Arshad. Ah!
      “Sayang...kasih tahu bunda dong, janji deh nggak ngomong kesiapa-siapa” ku agkat jari kelingkingku, sebagai tanda perjanjian.
            “Syafira ayolah...” rengekku.
            “Mama cantik....!!!” Teriak Syafira.
            Bocah kecil ini dengan sigap berlari kencang. Tawa bahagia mengikuti larinya yang semakin menjauhiku. Kepalaku bergeleng-geleng tanpa mengangguk-angguk. Aku ingin tertawa keras tapi aku harus mengejar peri kecilku yang tampaknya menunggu kakiku untuk berlari. Dalam kejaranku tawa puas atas berhasilnya membuatku penasaran terus bergema. Kadang aku harus pura-pura menyerah, agar dia berhenti tapi bocah ini terlalu cerdas untuk di bohongi. Ia terus berlari, menyusuri seluruh ruangan di rumah. Sesekali bersembunyi, jika aku tahu tempat persembunyiaannya dia akan menjerit kencang sekali di ikuti oleh tawa lalu berlari lagi. jika tertangkap ia akan meminta ampun dan merayuku. Yah...ini adalah kebahagiaannya. Ku kecup dahulu baru kulepaskan dan membiarkan ia berlari. Aku mengejar lagi.
            Menanggkap. Melepas. Tanpa sedikitpun ada rasa jenuh. Membiarkan ia puas melakukan kelincahannya. Ada butiran tetesan bahagia yang jatuh dari sudut mataku. Kebahagiaannya juga bahagiaku.
            “Ampun bunda...” rengeknya dalam tangkapanku.
            “Muah...udah ya kita damai, titik. Mana jari kelingkingnya?”
            Ia memandang  jari kelingkingku yang minta di sambut oleh jari kelingkingnya. Lalu dia memandangku. Ku anggukkan kepalaku, tanda mengiyakan. Dia memberi isyarat agar aku mendekatkan telingaku pada bibirnya.  Aku menuruti. Rasa penasaran semakin meletup-letup.
            “Bunda cantik banget...!!!” ia lari lagi.
            Subhanallah...peri kecilku ini benar-benar membuatku geregetan. Baiklah aku mengalah. Tak akan lagi ku paksa ia membocorkan rahasia kebahagiaannya. Biarlah rahasia itu ia simpan sendiri di dalam kotak hatinya yang masih suci. Mungkin itulah dunia polos anak kecil. Pasti Mas Arshad kecil juga begitu. kalau tidak meniru orang tuanya, meniru siapa lagi?
            Terlihat keringat membasahkan seragamnya. Kupastikan ia mulai lelah. Tanpa ku kejar ia mendekatiku. Lalu memelukku dengan penuh kemanjaan.
            “Capek ya...makan dulu ya...”
            Syafira hanya mengangguk. Selain lelah sepertinya lapar juga ikut berdemo di tubuhnya. Ku suapi dengan lembut. Senang sekali melihat ia melahap habis makanan yang ku suapkan ke mulutnya.
            Ku elus pipinya. Kasian melihatnya begitu lelah.
            “Sayang ganti baju dulu ya...terus bobo siang...bobonya sendiri aja ya...mama mau beres-beres dapur dulu. Nanti habis sholat ashar kita ke tempat ayah...”
            Syafira menyadari bundanya baru membuat kue tart, hingga dapur sedikit berantakan. Syafira mengangguk tanpa protes. Ia segera menuju ke kamarnya. Namun beberapa detik kemudian, ia menghentikan langkahnya. Ia memutar balik badannya ke arahku.
            “Kenapa sayang?” Tanyaku. Heran.
            Ia kembali mendekat ke arahku. Seperti ada yang ingin di ungkapkan.
            “Bunda...kue tartnya untuk ayah? Tapi bunda tadi kata bu guru Syafira, orang islam tidak boleh merayakan ulang tahun apalagi meniup lilin, ayahkan juga gak bisa meniup kan udah di surga,” protesnya penuh dengan kepolosan.
            “Pintar sekali peri kecil bunda, bunda...cuma pengen buat aja, yaudah kamu cepat tidur enggak mau kan kalau nanti bunda tinggal?”
            “Enggak mau...!!!” teriaknya sambil berlari kencang menuju kamarnya.
            Aku terbahak dibuatnya. Peri kecilku...bunda sungguh bangga padamu. Tak perlu aku menjelaskan panjang lebar alasanku tentang persembahan kue tart untuk ayahnya. Dengan kecerdasannya, ia telah mengerti. Aku memang tak pernah merahasiakan sekecil apapun kisah tentang ayahnya. Juga tentang bundanya yang selalu ingin merayakan kebersamaan dengan ayahnya. Dia, peri kecilku adalah teman tempatku bercerita. Peri kecilku selalu mengerti hati bundanya.
            Aku dan peri kecilku berdiri disini. Mengelilingi tempat peristirahatan Mas Arshad yang paling abadi. Aku mengelus batu nisan yang telah terukir nama beserta pangkatnya. Briptu M. Arshad Habiebullah, S.H. Untuk ziarah kali ini berani kukatakan, ku tak akan menangis. Aku bahagia.
            Mataku mengalihkan pandangan ke arah Syafira. Bocah ini, aku tahu sudah memiliki rasa sedih. Sedih karena rindu pada ayahnya. Sebulan yang lalu ku ajak ke sini, ia menangis sesenggukan. Ia ingin di peluk oleh ayahnya. Entah apa masih menjadi rahasianya. Ia tampak tetap memancarkan cahaya kebahagiaan. Membuatku benar-benar mengharamkan air mata terjatuh.
            Sebelum berangkat tadi Syafira ngotot meminta membawa tas, yang tak ku tahu apa isinya. Wajah polosnya membuatku luluh, aku biarkan sesuka hatinya berkreasi. Syafira mengeluarkan kantong kresek. Lalu membuka ikatannya dan mengambil isinya. Ah...subhanallah...kantong itu berisi bunga mawar yang sudah siap tabur. Segenggam bunga yang telah Syafira ambil, ia taburkan ke gundukan tanah merah ayahnya.
            “Ayah...ayah bahagia di surga ya...surganya sudah harum, udah Syafira kasih bunga ini,” ucap peri kecilku. Senyum mekar terlihat di bibirnya.
            “Bunda ini!” Syafira memberikan dua genggam bunga padaku.
            Air mata yang sedari tadi telah menggenang di kelopak mataku. Menyadari hebatnya peri kecil. Gagal ku bendung. Jatuh dengan derasnya. Aku berusaha mengusap dengan kain kerudungku, namun aku tak ada daya. Syafira berusaha mengusap dengan tangan mungilnya, namun tangisku semakin pecah. Bunda bahagia sayang...Syafira memang tumbuh menjadi bocah yang ajaib. Membuatku bangga. Dia tahu bagaimana cara membuatku bahagia tanpa aku harus mengajarinya. Dia tahu apa yang harus ia lakukan tanpa harus menyusahkanku. Dia...menjadi dewasa sebelum ku pinta. Syafira...
            Langit telah tampak kemerahan. Matahari sudah melambai tanda perpisahan pada siang dan menyambut senja. Hari semakin gelap, menyadarkan kita untuk segera pulang. Langkah kaki bahagia mengiringi kepulangan kita.
            Dalam mobil pikiranku terusik oleh bunga-bunga yang di bawa Syafira. Dari mana ia mendapat bunga-bunga yang cukup banyak itu. Setahuku di sekitar sekolahnya tak ada penjual bunga. Kalaupun ia beli di luar area sekolah, itu sangat tidak mungkin. Setiap hari Syafira pulang di antar oleh bus sekolah tepat di depan rumah, artinya dia pulang dari sekolah langsung ke rumah. Apakah mungkin dia meminta pada tetangga, karena cukup banyak tetangga sekitar yang menanam bunga mawar. Tapi kapan dia sempat meminta, bunga-bunganya masih segar. Uh...peri kecilku...
            Selepas turun dari mobil peri kecil kugendong dengan manja. Menciuminya berkali-kali. memberikan pujian. Ku janjikan hadiah paling cantik. Yah...dibalik itu aku mau dia jujur atas rasa penasaranku hari ini untuk yang kedua kalinya.
            “Sayang...tadi bunganya indah ya...harum banget lagi pasti ayah senang sekali. Emmm kalau boleh bunda tahu, bunga yang harum banget itu Syafira dapat dari mana?”
            Syafira memberontak dan meronta untuk di turunkan. Sepertinya hari ini dia sengaja menjaga rapat-rapat rahasinya. Aku semakin penasaran. Ada apa anak ini? Setelah terpaksa kuturunkan dari gendongan, Syafira merebut kunci pintu rumah, lalu berlari dan segera masuk kedalam rumah. Anak ini aneh tapi untung bundanya tak ikut-ikutan aneh. Heh!
            Aku hendak mengejar Syafira. Namun pandangan mataku lebih memimpin langkahku. Aku menghampirinya. Mawarku...
            “Surat kecil untuk bunda, Bunda...Syafira minta dikit aja ya bunganya. Dikit aja. Terimakasih bunda. Bunda cantik banget.” Bacaku sedikit tercengang.

            Peri kecilku...kaulah bunganya bunda...kamu lebih indah dan lebih harum dari bunga apapun. Peri kecilku kaulah sumber kekuatan bunda. Sayapmu tak tampak tapi bunda merasakannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...