Malam
itu ketika aku baru pulang dari Sukabumi sehabis menengok bunga-bunga cantikku,
ibu masih duduk di kursi goyang, hobi baru ibu selepas ayah meninggal. Kursi
goyang itu adalah tempat favorit ayah, aku dan kakak. Ayah sering memangku kami berdua di kursi itu sambil
menggoyang-goyangkan pelan. Kadang ayah
juga bercerita tentang masa kecilnya atau tentang ibu yang sangat gemar
memasak.
Aku
dan kakak sering menangis di kursi itu karena berebut ingin saling menguasai
kursi goyang. Tapi ayah tak pernah membela satupun dari kami.
“Sudahlah, buat berdua saja,” kata
ayah, mencairkan suasana. Lalu kami dengan muka cemberut kompak berteriak .”Tidaaakkkk,
pokoknya aku duluan.”
Tak
ada di niat kami untuk saling mengalah. Jika sudah begitu aku akan menangis
tersedu-sedu. Karena aku menangis, ayah akan menggendong membawaku duduk di
kursi goyang. Lucunya sesaat kemudian aku berhenti menangis, kakak menangis
kencang. Lalu ibu akan datang membawa beberapa kue masakannya yang masih
hangat. Seketika semuanya menjadi sejuk. Aku dan kakak kembali bersenda gurau.
Tersenyum geli mengingat kenangan manis itu.
Kakiku melangkah mendekatinya. Menyentuh pundaknya tanpa sekarakterpun huruf kukeluarkan.
Dengan cepat tanganku melingkari tubuhnya. Ku dekap erat tubuhnya yang kini
tampak sangat kurus. Tangannya dengan gemetar mengelus-elus pipiku. Tak sepatah
katapun yang keluar dari bibirnya. Ia diam membisu. Aku tak tahu, haruskah aku
duluan yang memecahkan keheningan atau ku biarkan saja wanita mulia dihadapanku
ini menikmati kebisuannnya.
Perlahan
jemarinya menyentuh lembut kepalaku yang masih berbalut jilbab biru. Ia merendahkan
kepalanya. Menjatuhkan kecupan ke keningku.
“Arinah
sayang...” suara lirih ibu, memecahkan kebekuan.
“Ibu
ada permintaan kecil untuk teman hidup ibu satu-satunya ini, apakah boleh?”
“Boleh
dong bu, apapun yang ibu inginkan pasti akan Arinah penuhi.” Jawabku penuh
bara.
“Tapi
permintaan ibu sangatlah...” ibu menarik nafas, lalu melanjutkan bicara yang
terpotong oleh hembusan nafas panjang tadi. “Berat sayang, ibu tidak akan
memaksa kamu.”
“Apasih
ibu...” tanganku merayap ke pundak ibu. Aku menatap mata ibu yang sedari tadi
telah menatapku. Tatapku adalah isyarat bahwa aku sanggup memenuhi apapun
permintaan ibu.
“Arinah
janji akan penuhi permintaan ibu,”
Kedua
jari kelingking kuangkat
tepat didepan ibu. Jari
itu ingin segera disambut. Hal ini dulu sering kulakukan dengan kakak. Jika sehabis
bertengkar, ibu dengan lembut dan bijak menyuruhku dan kakak saling mengaitkan
jari kelingking. Sebagai tanda tak akan bertengkar lagi, juga tanda perdamaian.
Aku ingin menunjukkan pada ibu, jari
kelingking itu adalah janji yang akan menepati permintaan ibu.
Ibu
tak menyambut kedua jari kelingkingku. Justru ibu mendekap tangannya. Menyunggingkan bibirnya.
“Ibu
hanya kesepian...Sayang temani ibu ya. Kamu jangan sering-sering ke puncak.
kalau bisa kamu cari pekerjaan di dekat sini saja. Ibu tahu dengan susah payah
kamu membangun bisnis bunga itu. Tapi ibu yakin, Allah tidak akan memutus
rezeky hambanya dimanapun hambanya berada, asalkan tetap berdo’a dan berusaha.
Tetapi ibu tidak memaksamu, mungkin ibu terlalu egois tidak memikirkan perasaan
kamu. Ibu hanya ingin bersamamu sebelum suatu saat Allah mengambil ibu. seperti
Allah megambil kakak dan ayahmu,” Tangis ibu pecah,
Leherku
seperti ada yang
mencekik keras. Lidahku sangat kelu. Dadaku terasa sesak. Tubuhku melemas,
seakan tulang-tulang berlarian melambaikan tangan pada tubuhku. Matakupun mulai
berair. Terhimpit. Batinku berperang dalam kebimbangan. Aku sudah rela kembali
kerumah, belum cukupkah?
Haruskah
aku benar-benar meninggalkan bisnisku dengan sia-sia. Relakah aku melambaikan
tangan pada bunga-bunga cantikku yang selama ini telah kujaga melebihi aku menjaga dirinya sendiri.
Sudikah aku bila
bunga-bunga itu berpindah ketangan orang lain. Ya, mungkin bisa saja aku
mempercayakan pada kedua pegawaiku. Tetapi jika mereka merawat dengan tidak
benar bagaimana. Jika bunga-bungaku mati semuanya. Ah...aku terlalu egois.
Bukannya aku akan bisa mengunjungi bunga-bungaku tiap akhir pekan bersama
dengan ibu. tapi...ah...
“Dan
Allah tidak akan memutuskan rezeky anak yang ingin berbakti kepada ibunya...”
Suaraku
terdengar berat.
Ibu
langsung memeluk erat tubuhku, yang kini menjadi buah hati satu satunya. Dalam
pelukan aku mencoba berbicara dengan hati ibu.”Aku akan menjadi embun di pagi
buta, mentari di siang hari, pelangi di waktu hujan, rembulan dalam gelap
malam, bintang penghias malam menghapus kesepian, ibu…”
Aku harus memulai semuanya dari titik nol.
Mencari pekerjaan atau menjadi pengusaha di kota jakarta, kota yang tak pernah sudi
kujadikan sahabat. Sebenarnya usaha tanaman bunga di Sukabumi masih bisa
mencukupi kehidupanku dan ibu walau tak secara langsung mengelola, namun kecil
keyakin bisnisku tetap berjalan mulus. Apalagi setelah ibu berbicara jujur
tentang kesepiannya, aku jarang sekali mengunjungi bunga-bungaku dan hanya bisa
memantau dari jauh.
Setelah
enam bulan berlalu.
Laporan
buruk mengenai bunga-bungaku kuterima dari dua pegawaiku yang mulai merasakan
penurunan pendapatan.
“Rawatlah
sejenak lalu jika urusanmu sudah selesai, pulanglah dan peluklah ibu...”
Pandanganku
gugur ke lantai. Dalam hati aku mengulang kata yang baru saja terucap dari
bibir suci ibu, pulanglah dan peluklah
ibu aku mencoba mengartikan dan memasukkan kedalam hatiku. aku menyadari, ibu
tak ingin kutinggalkan.
Tanpa
ada genangan di kelopak mata. Mendadak saja air mataku membanjir. Aku hanya
tertunduk tak bisa berkata-kata. Setahuku
aku bukanlah wanita yang cengeng. Tak pernah menerjunkan air mataku didepan
siapapun, selalu senyum dan keceriaan yang
kutampakkan untuk membalut semua sedih. Tapi semenjak aku harus kembali
ke rumah, hidup berdua bersama ibu yang selalu takut ku tinggalkan. Melihat
kondisi ibu yang sering termenung di kursi goyang, air mataku seolah tak pernah terbiarkan kering.
Selalu basah oleh kepiluan.
Ini
yang ku inginkan, berdiri ditengah-tengah anak-anakku alias bunga-bungaku
merawat mereka penuh dengan cinta. Setengah hari berada di Kebun bungaku,
kupikir kebahagiaan menghampiriku. Tapi pikiran cemas terus menggerogoti
kebahagiaanku. Ibu, yang tampak semakin mengkhawatirkan semenjak ditinggal oleh
Rena kakak perempuanku dan ayah. Tubuhnya semakin menyusut dan tak ingin
kutinggal sehari saja.
Tanpa
menunggu alasan yang samakin menumpuk. Akupun tak peduli hujan lebat berusaha
menghalangi keputusanku untuk pulang dan memeluk ibu. Ah mengapa aku tak membawa mobil saja tadi pagi? Bukan hujan lagi,
petir dan badai berusahan menghentikan perjalananku dari Sukabumi ke jakarta
ibu tidak ada dirumah. Mobil juga berada diluar, seperti baru
dipakai. Jika ibu yang menyetir sangat tidak mungkin. Ibu sudah trauma dengan
kecelakaan yang menimpa ayah. Mungkin ibu ada di belakang, di kursi goyang.
Tapi kursi goyang itu sendirian, diam karena tak ada yang
mengoyang-goyangkannya. Dimana ibu, bukankah semenjak aku kembali tinggal dirumah
ini ibu tak pernah keluar, apalagi biasanya jam siang seperti ini ibu lebih
suka membaca buku sejarah islami di kursi goyang ini atau tidur dikamarku.
Mengganjal.
Cemas. Takut. dari semua rasa itu yang begitu melekat adalah penyesalan. Mungkin ibu keluar mencari keramaian karena
di rumah ini terlalu sepi. Atau mungkin ibu pergi ke masjid untuk melaksanakan
shalat dzuhur, tapi dhuzur masih setengah jam lagi. kalaupun ibu keluar mengapa
pintu di biarkan tak terkunci. ah! Ibu...
“Arinah...akhirnya
kamu pulang juga...”
Aku
tertetegun. Kenapa tiba-tiba Tante Ani ada dirumah. Akhirnya kamu datang juga,
maksudnya apa? kan tante ani yang baru datang.
Tante
Ani mendekatiku, membelai kepalaku yang tertutup hijab merah jambu. Mendekap
erat, memberikan kekuatan. “Ibumu...setahun belakangan menderita kanker
payudara sayang, dia memang sengaja menyembunyikannya dari kami semua. Dan
kesedihan yang berlarut-larut membuat daya tahan tubuhnya drop. Puncaknya tadi
malam, ibumu menelepon tante ketika tante datang ibumu sudah pingsan di kursi
goyang ini...”
Tangisku
pecah tak tertahankan. Lemas tapi masih ada kekuatan untuk berlari menghampiri
ibu. Seharusnya aku kemarin tidak pergi. Seharusnya dirumah saja menemani ibu.
seharusya aku peka dengan kondisi ibu yang mulai terlihat sangat pucat
akhir-akhir ini. Harusnya aku sadar. Harusnya..harusnya dan harusnya....
“Kanker
payudara ibu anda sudah mencapai stadium empat, penanganan sudah terlambat dan Penyebaran
sel kanker sudah menjalar ke kelenjar getah bening dan yang lebih berbahaya
lagi sel kanker tersebut sudah menjalar ke tulang, otak, paru-paru dan hati.
Ditambah lagi stres dan kecemasan yang menambah sel kanker semakin bebas
menyebar ke seluruh tubuh.” dokter spesialis kanker payudara itu mengelus
pundak sisi kananku dengan lembut.
“Lakukan...lakukan
semua yang bisa dokter lakukan untuk ibu saya, saya mohon,”
“Itu
tugas saya sebagai dokter, selebihnya kita pasrahkan kepada Allah ta’ala.”
Di dalam ruangan mawar e 02
“ibu aku disini,,,,,”
Rawatlah sejenak lalu jika urusanmu
sudah selesai, pulanglah dan peluklah ibu,.
apakah aku sedusta itu hingga tak menyadari
keadaan ibu. Berhati batukah aku hingga tak bisa merasakan keluhan-keluhan ibu
selama ini. Terlalu tak pedulikah dengan ibu. Ah! Kenapa aku bodoh sekali,
seharusnya aku menyadari dengan perubahan ibu yang begitu drastis. Mukanya
semakin pucat, tubuhnya semakin kurus dan beliau banyak diam. Hanya ada sesal.
Sesal. Dan sesal.
Sebulan
telah berlalu. Ibu diperbolehkan pulang dengan segudang syarat, yang sebenarnya hanya merujuk pada pengertian banyak
istirahat dan tidak boleh berfikir berat.
Hal
pertama yang dilakukan ibu adalah, ya duduk di kursi goyang dengan menatap
nanar foto keluarga.
“tak
lama ibu akan menyusul ayah dan adikmu….”
Jangan ibu, jika aku harus mematikan semua bungaku. Akan
kumatikan tanpa bebekas tapi ku pinta, ibu tetap disisiku walau hanya duduk
dikursi goyang….
Komentar
Posting Komentar