Langsung ke konten utama

Kasih Tut Piano

Langit tak lagi secerah tadi, karena matahari sudah lelah membantu langit menyinari bumi. Ia ingin tidur, biarlah bulan yang menggantikannya. Namun matahari masih sedikit berbaik hati menghiasi langit hingga mampu menampakkan mega di ufuk barat. Sejuk. Sore menjelang malam memang waktu indah untuk sekedar duduk sendirian. Itulah yang dilakukan Dara akhir-akhir ini. Menatap senja.
            Dara berdiri dari kursi putih pajang anggun yang berada di taman belakangnya itu. Ia masuk kedalam rumah. Tujuannya adalah kamar namun ia terhenti mematung ketika melewati piano kesayangannya. Segera ia memalingkan badannya dan bergegas memasuki kamar. Kakinya meraih sebuah buku biru, yang konon ia sebut sebagai diary. Lembar demi lembar ia lewati. Ya, ini yang ku cari, gumamnya puas. Dara mengigit buku diary itu. Duduk di dekat jendela,  kembali menatap senja.
“Setiap denting nada mengalun menggetarkan jiwa, memberikan keelokan pada jari-jari yang menari menyiulkan tutsnya. Putih, hitam identitasmu seakan pilihan langkah pemainnya. Penampilanmu anggun dengan balutan kayu warna putih yang elegan, kaupun tak usah berbicara hanya dengan tuts nadamu membuat mengerti. Nadamu berbicara, sedih, senang, romantis, humoris atau sekedar basa-basi ada padamu. Piano! Aku ingin kamu menyertaiku dalam perjalanan panjang hidupku dan akupun ingin menyertaimu disetiap perjalanan hidupku, aku ingin bercerita dengan nada-nada romantis tanpa harus berucap. Aku ingin seperti Ananda Sukarlan, Pianis hebat yang mendunia.”
                        Mata Dara tiba-tiba basah. Hatinya tersayat membaca tulisannya sendiri. Tulisan itu telah Dara tulis sepuluh tahun silam, ketika ia baru menerima hadiah piano berwarna putih elegan dari orang tuanya. Kala itu semangatnya menggebu ingin menjadi pianis muda, seperti yang ia tuliskan. Ananda Sukarlan. Sampai ia ngotot ingin punya guru privat piano agar cita-citanya cepat tergapai.
                        Dara yang sudah jenius memainkan piano juga mencipta nada. Kompetisi demi kompetisi ia menangkan. Permainan pianonya sudah tak bisa diragukan lagi. Bukan kompetisi lagi yang ia ikuti tetapi undangan demi undangan yang ia terima. Sepertinya sebentar lagi aku bisa seperti Ananda Sukarlan, gumam di hatinya dengan bangga. Ia selalu membayangkan dirinya mendunia karena menarikan jari-jarinya diatas nada hitam, putih. Brruaakkk! Kecelakaanpun terjadi. Kedua tanggannya harus di amputasi. Dunianya menjadi berantakan. Hancur. Gelap.
“Dara...” Teriak mamanya di depan pintu.
“Masuk saja Ma tidak Dara kunci,” sahut Dara tak bergairah.
                        Mamanya menatap nanar anaknya. Ia tahu ada tangisan sebelum mamanya masuk. Iya, tangisan itu setiap hari kini setia menghiasi hidup anaknya. Tapi mama enggan bertanya perilah tangisnya. “Bagaimana tawaran Mama kemaren sayang?”
                        Sejurus Dara menatap mata sang mama dengan penuh kekesalan. Kenapa harus di bahas lagi sih ma, berontak di dalam hatinya. Ia tak berkata. Tak berminat menjawab pertanyaan yang sebenarnya mamanya sudah mengetahui jawabannya. Dara menunduk, murung.
“Dara...sayang...Mama tahu kamu menolak tapi Mama lebih tahu mimpi kamu, jika selama ini kamu memainkan piano dengan jiwamu mama yakin walaupun kamu kehilangan...maaf tanganmu yang selama ini kamu gunakan untuk bermain piano se...” Mama menarik nafas panjang, menahan genangan yang tak sabar ingin terjun. “Seharusnya kamu tak kehabisan akal, jiwamu harus mampu merasuki seluruh tubuhnya. Bukannya kamu pernah bilang sama kita semua, piano adalah hidupmu. kamu masih bisa memainkannya sayang...”
“Dengan kaki maksud Mama?” Dara membelakangi mamanya, ia menjatuhkan dirinya ke kasur. “Tapi bukan itu mimpi Dara Ma...mana mungkin Ma...Dara harus memulai semuanya dari awal. Baiklah dara piawai dengan segala macam nada, tetapi menarikan kaki? Tidak!”
“Kamu pasti bisa...bahkan ketika berita kamu tersebar ada seorang yang bersimpati ingin melatihmu bermain piano dengan kaki. Bangkitlah Dara...” kedua tangan mamanya menyentuh pundak Dara yang kini tak terhiasi oleh tangan.
“Tidak Ma, Dara tidak berminat!”
“Banyak di dunia ini yang bermain alat musik termasuk piano dengan kakinya, mereka bisa kenapa kamu tidak. Mama yakin setelah kamu bisa menerima ini semua, dengan sendirinya kamu akan bersemangat bermain piano kembali...” mamanya berlalu meninggalkan Dara yang diliputi oleh marah yang kini menjadi rasa bimbang.
                        Bukan keputusan yang mudah untuk menerima saran mama begitu saja. Dara tak membenci piano. Piano tetaplah alat musik paling berlian di hidupnya. Bukan hanya sekedar alat musik, tetapi teman hidup yang telah membawanya terbang ke berbagai negeri. Tangannya pun ikut tersengat oleh ke elokan piano. Di puja-puja. Tangan cantik. Lihai. Ajaib. Bla-bla-bla.
                        Tangannya hilang. Tak ada pujian. Tak ada permainan cantik. Dara tenggelam oleh kesedihan yang berlarut-larut, tak bisa menerima keadaannya sekarang. Ia enggan sedikitpun menyentuh piano kesayangannya. Menatap piano hanya membuat genangan air mata di pipinya. Piano seelok itu tak pantas di mainkan oleh diriku yang tak memiliki tangan, keluhnya setiap ia ingin mendekati pianonya.
                        Dara tak bisa tidur. Pikirannya terus memaksa membayangkan wajah mamanya yang begitu tulus ingin membarakan samangatnya. Telinganya pun terus terngiang oleh kalimat-kalimat yang keluar dari bibir manis mamanya. “Bermain piano dengan kaki?” gumam dalam hatinya. Empat kalimat itu selalu muncul. Setiap mata memandang yang dara lihat hanya empat kalimat itu. benarkah itu yang harus ia lakukan. Bisakah semua penikmat permainan cantik pianonya menerima ia kembali degan keadaan sangat berbeda. Ah! Biar Tuhan saja yang menentukan.
                        Pagi sekali Dara sudah duduk di depan pianonya. Terasa asing. Berdebar dan gugup. Bertahun-tahun ia duduk di sini tetapi rasa aneh itu baru ia rasakan hari ini. Ia hanya menatap piano dengan rasa ganjal. bingung. Tak tahu harus bagaimana ia memperlakukan barang semewah itu. ia hanya diam namun terlihat jelas otaknya juga perputar keras memecahkan keganjalan yang terjadi. Kembali ia melihat empat kata “Bermain-piano-dengan-kaki” menari diatas tuts piano. Ya, aku tahu, gumam dihatinya.
                        Dara mengangkat kaki kanannya. Canggung. Tubuhnya sedikit bergoyang. Keseimbangan tubuhnya sedikit rapuh. Tidak bisa pasti aku akan jatuh, gerutu dihatinya. Tapi aku harus mencoba, ayolah Dara kamu pasti bisa melakukan hal semudah ini. Lalu dengan penuh keraguan Dara mengangkat kaki kirinya. Keseimbangan tubuhnya semakin rapuh. Tangan? Tak ada tangan untuk berpegangan. Badannya terdorong kebelakang. Jatuh! Tidak!
“Bukan begitu caranya nona manis?” Seorang lelaki menangkap Dara sebelum ia terjatuh kebelakang.
“Lepaskan aku, kenapa kamu kesini?” lelaki itu adalah Aldo teman kolaborasinya dalam permainan piano. Dalam acara besar mereka selalu terlibat dalam satu permainan manis. Dara telah lama menyimpan rasa pada lelaki itu, ia selalu kagum akan nada-nada yang keluar dari permainan kerennya. Dan Dara juga tak tahu Aldopun memiliki satu rasa yang sama. Namun keduanya tak pernah memiliki kesempatan untuk saling memiliki walau hati sudah merasa.
“Kembalilah menjadi teman kolaborasiku.” Pinta Aldo, sedikit memelas.
“Aku tidak punya tangan Aldo..”
“Kembalilah menjadi teman kolaborasiku,” Aldo memeluk gadis yang telah lama dikagumi itu. “Kamu punya kaki, kamu bisa menggunakannya. Jangan menyakiti dirimu sendiri Dara...dan kamu sekarang punya aku yang akan selalu ada untuk kamu...aku mencintaimu Dara” Cairan bening menetas di lengan Dara. Air mata Aldo.
                        Dara tak bisa berkata. Tangisnya pecah menjelaskan bahwa ia bahagia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...