“Kalau kamu takut biar aku saja yang
mengungkapkan,” tegasnya, membantu kebimbanganku.
“Tidak,
akulah sahabatnya. Kamu tokoh ceritanya, jadi aku saja,” bantahku.
“Terserah
kamu saja, jangan di tunda-tunda atau semuanya akan lenyap. Pastikan semua
baik-baik saja. Kamu dan Dara, juga aku,” matamu menusukku tajam, meyakinkanku.
Percakapan
minggu lalu, mengingatkanku. Waktu telah berputar habis, hanya tersisa
sepersekian jam. Mengungkap atau lenyap.
Cintaku.
Dara. Merahasiakan bukan pilihanku. Mengungkapkan akan merobek hatinya. Aku
tahu bagaimana Dara menanggalkan perasaan dan pengharapan menjulang, yang tak
pernah tahu akankah terbalas. Bahkan pasti tak akan terbalas.
Jahat. Tuduhan itulah
yang menghujani kegelisahan hatiku. Hari ini aku amat bahagia. Pula, aku akan
lenyap. Atas bahagia itu aku gelisah. Bagaimana caraku memberi tahu Dara. Dari
mana aku akan mulai bercerita, apakah Dara akan menerima kebohongan dan
penghianatanku?
Acara Lamaran antara
aku dan Alif, akan dilaksanakan malam ini. Tidak ada kata dadakan, rencana dan
persiapan sudah jauh-jauh hari. Hanya hatiku yang mengatakan ini terlalu cepat.
Sampai detik ini, aku belum mengatakan sepatah katapun tentang aku dan Alif,
pada Dara. Merusak acara, atau menghancurkan hati Dara. Ah... kenapa harus
Alif, Dara.
Hari masih pagi.
Embun-embun belum memisakan diri dari dedaunan. Mataharipun masih malu-malu menampakkan
mukanya yang gagah, penuh sinar ke emasan. Ya, aku memiliki waktu singkat,
sampai sebelum matahari melambai pada bumi, tanda berpisah menyambut malam. Sebelum
acara berlangsung, yaitu pukul 20.00 tepat malam ini.
Kegelisahan setia
menemaniku yang mencoba menghubungi Dara. Aku meminta dia untuk datang ke Kafe,
tempat biasa kita nongkrong. Dara memiliki menu favorit disitu, aku akan
memanjakannya. Bukan upaya suap layaknya koruptor kita. Hanya sedikit
menyenangkan hatinya, sebelum ia sulit memaafkanku.
Tepat waktu. Dara sudah
duduk manis di pojok Kafe, tempat favorit kita. Memang sahabat setia. Ah, teganya hatiku menjahatimu,
Dara.
“Hai,
telat lagi ya...gak lama kan...???” sapaku dari belakang, mengejutkanya.
“Hei...lama
banget...,” Dara memalingkan mukanya, lalu berbalik lagi. “Enggak kok say
hahaha....” memelukku dalam keceriaan.
Ceriamu, baikmu.
Akankah tetap kau miliki itu, setelah semua menganga. Aku tak berharap banyak,
biarlah kamu sendiri yang akan menjawabnya. Baiknya, tak langsung mengarahkan
pembicaraan ke masalah hubunganku dengan Alif. Banyak tanya tentang keadaanya, tips selalu tampil ceria. Tentang pekerjaan
barunya yang membuat ia menjadi wanita karir, sehingga membuat kita jarang
bertemu, dan hal-hal lain yang tak terlalu penting.
Sial. Lagi-lagi nama Alif
yang muncul dari bibir mungilnya. Harapan besar Dara kepada Alif tak pudar
sedikitpun. Yang membuatku syok lagi, Dara tak pernah berusaha menghapusnya, walau
jelas Alif hanya menganggapnya teman. Jika aku tahu seperti ini, aku tak akan
pernah mengenalkan Alif pada Dara.
Mundur setahun
kebelakang, kami bertiga memang hanya teman, bedanya akulah yang terlebih
dahulu mengenal Alif. Jalan pertemuan kita adalah sama-sama menjadi peserta
lomba Perdebatan Mahasiswa Nasional. Di luar kompetisi perdebatan itu, kita
berteman baik. Aku mengenalkan Alif pada Dara. Kami bertiga dekat, bahkan Dara tampak jauh lebih dekat dengan Alif dari
pada aku, sedang aku lebih sering berdebat. Saling menjatuhkan dengan perbedaan
pendapat. Mungkin, dari situlah Dara tak pernah menyangka akan ada kisah manis
yang bernama cinta, di antara aku dan Alif.
Cerita Dara tentang
perasaanya pada Alif, membuatnya sangat bahagia. Helaan nafas panjang dan
pura-pura ikut bahagia. Menanggapi ceritannya, memaksakan tertawa dan mendoakan
harapannya tanpa ada rasa ikhlas sedikitpun.
Itulah yang detik ini aku lakukan. Yang sebenarnya membuatku sakit. Ada
orang yang sangat mencintai calon suamiku. Sahabatku sendiri.
“Oh
ya Va, tapi aku sepertinya sudah tidak ada harapan lagi deh...” keluh Dara,
merubah wajah cerianya menjadi kusut.
Aku diam dalam tanya.
Apa maksud Dara, apakah dia tahu kalau Alif akan melamarku. Tapi itu tidak
mungkin, minggu lalu kita sepakat hanya aku yang berhak mengatakan
semuanya pada Dara. Lebih tak mungkin
lagi, karena dari tadi Dara terlihat seperti biasa, ceria dan sama sekali tak
menyinggung hal itu. tak ada pula gurat amarah di wajahnya. Lalu?
“Kemarin
aku bertemu Alif dan adiknya di Mall,
katanya dia akan membeli cincin untuk melamar kekasihnya, itu tandanya aku...aku
game over Aliva,” Dara menyandarkan
badanya ke punggung kursi, raut mukanya terpancar rasa kecewa.
“Benarkah,
si-si-siapa perempuan itu?” aku tak bisa menguasai diri.
Badanku terasa dingin,
namun berkeringat. Pikiranku kacau, perasaanku gilasah. Alif malanggar
kesepakatan kita. Dara tak kunjung memberi jawaban. Mungkin perasaanya terlampau
kecewa hingga hatinya menjadi hancur. Aku menenangkan diri, berfikir positif
bahwa Alif tak membocorkan semua sesuai kesepakatan.
“Entahlah...inilah
cinta, tak harus dimiliki dan tak harus di sesali. Inilah takdir, tak ada yang harus disalahkan. Bukan
aku jodohnya Alif dan Alif bukanlah yang terbaik untukku, walaupun penantianku
sangat lama, tapi Allah sedikitpun tak memberi izin untukku sekedar Alif tahu
bahwa aku mencintainya. Ya, aku sangat yakin Allah akan memberiku jauh lebih
membahagiakan, daripada saat aku mencintai Alif. ” Ucapnya dalam tetesan air
mata, yang berusaha digagalkan dengan usapan jari.
Aku membantu membendung
Air mata Dara. Ku seka dengan lembut. Namun, air mata itu jatuh terlalu deras tak
hanya membasahi kedua pipi Dara, jariku juga basah karena air matanya. Kupeluk
ia, tangis itu semakin pecah hingga ia tak mampu berkata. Akankah aku tega,
melempari BOM ke hatinya, membuat ia lebih terluka lagi. Memporak-porandakan
hatinya yang sudah hancur. Sahabat apa psikopat aku ini, mau membunuh perasaan
sahabatnya sendiri. Air mataku ikut jatuh, aku merasakan sakit itu.
“Aku
tahu kamu memang perempuan wonder women.
Kamu sangat hebat Dara. Semoga Allah menghadiahimu sosok imam yang jauh lebih
baik dari Alif. Dara kau mengajariku arti ketulusan luar biasa, hatimu mengalir
suci. Bersabarlah...” ku peluk erat dia.
Dia membalas dengan
anggukan kecil di sertai senyum yang sedikit di paksakan. Aku melupakan
tujuanku datang ke Kafe ini. Segalanya ku pusatkan pada Dara, menghibur dan memberinya
motivasi. Banyak bercerita tentang dimasa awal kuliah, disaat menjadi mahasiswa
baru yang masih polos mengenakan baju hitam putih, seperti nama acara Show TV
saja. Aku berusaha menghilangkan Alif dalam pikirannya, terlalu sedih
melihatnya sakit.
Lebarnya percakapan
yang kita bahas, hingga tak terasa hari terlalu siang. Memaksaku mengingat acara penting nanti
malam, aku harus bersiap diri. Tentang Dara, aku tak tega menceritakan
sekarang. Ah biarlah waktu yang berbicara mengungkap kebenaran yang menyakitkan
ini.
Acara lamaran Alif
kepadaku berlangsung dengan manis. Kami semua bahagia, namun bahagia itu terasa
ganjal. Lagi, Dara. Aku memikirkan hati Dara yang sudah tercabik harus hancur.
keluargaku juga merasa heran atas ketidak hadiran Dara, yang sudah menjadi
keluarga kami sejak aku bersahabat dengannya. Dara bukan tak hadir, tapi aku
tak pernah mengundangnya. Mengundangnya hanya akan membunuh ia pelan-pelan. Ini
terlalu menyayat.
Alif akan menikahiku
seminggu kemudian. Aku memaksa menghadirkan rasa bahagia, impianku akan
terwujud yaitu menjadi istri Alif. Namun hatiku gelisah, tidakkah itu terlalu
cepat. Bagaimana dengan Dara, apakah aku harus menyembunyikan hari bahagia
untuk kedua kalinya? Ah aku lupa ini hari bahagiaku bukan bahagianya.
***
Takdir Allah tak bisa
di tebak. Kadang takdir itu menyakitkan, tapi tak harus disesalkan. Allah tak
akan memberikan takdir yang sama. Saat ini aku sakit pasti esok bahagia. Aku
akan bahagia melihat pernikahanmu dan Alif, walau ada bergumpal-gumpal rasa
kecewa dan sakit hati melihat kenyataan ini. Lebih sakit lagi kamu merahasiakan
padaku, Aliva. Aku akan tetap bahagia, walau tetap ada tangisan. Kamu sahabatku
yang detik ini memberikan pelajaran. Memberikan arti ketulusan dan rasa syukur
tanpa sesal.
Ini datang dari Allah.
Allah menggerakkanku melangkah kerumahmu. Cukup berada di ambang pintu menjadi
pilihanku, kamu tak perlu mengetahuiku ada disini. Semoga kau bahagia bersama
Alif dan segera menceritakan kebahagiaan itu padaku. Aku harus melangkah pergi.
Maaf tak bisa menemanimu.
“Aku mencintaimu Alif,
Untuk melepasmu. Merelakanmu untuk sahabatku, Aliva.”
Aku ingin menangis,
namun tangisku beku. Mataku terlalu lelah...
Komentar
Posting Komentar