Aku masih
ingat benar dengan tempat ini. Tempat ini tak
bernama. Namun aku memiliki sebutan tersendiri untuk tempat ini. Danau Kenangan,
itulah nama yang saat ini kulemparkan tak begitu saja. Kenangan-kenanganlah yang membuatku memberi nama itu.
Kisah itu sudah kulupakan tapi tempat ini membuatku teringat dengan semuanya.
Ah...haruskah aku berlari menjemput kenangan itu. Yah...lima tahun lalu...
****
Tet…tet…tet…
Bel bergema tiga kali pertanda saatnya pelajaran wajib diakhiri. Semua berhamburan
keluar kelas bersorak-sorak gembira layaknya anak TK, lebih dari TK mungkin
Paud hehehe. Mereka bersorak bukan karena pulang, kalau pulang setiap hari juga
pasti pulang tetapi karena hari ini pulang lebih awal dari biasanya. Itu
sejarah baru di sekolah kami. Ya...bener. BARU.
Pulang pagi di manfaatkan oleh mereka-meraka
yang aktif dan sok aktif. Ada
yang kumpulan OSIS. Organisasi paling bergengsi di tingkat sekolah
menengah. Latihan footsall, basket dan kumpul-kumpul sekedar ngerumpi. Iih…bukan aku
banget yang itu. Yang lain punya kesibukan masing-masing, sementara diriku masih
tinggal dikelas seorang diri. Berdiam diri
dan enggak ngapa-ngapain.
Rhini sahabat terlamaku sekaligus terbaikku tiba-tiba muncul, dari mana aku
juga tak tau. Menghampiriku
yang tampak lesu dan tak bersemangat. Rupanya dia punya rencana. Rhini menarik
tanganku, mengajakku keluar. Hmmm...sebenarnya hatiku sangat berat, tapi
baiklah. Heh!
“Mau dibawa kemana aku?” tanyaku
jengkel.
“Udah diam aja,” katanya datar.
Ah…gila ternyata aku ditarik-tarik
hanya untuk dibawa ke pinggir lapangan footsall.
Melihat bola yang digiring kesana-kemari. Melihat cewek-cewek centil sambil
bersorak-sorak meneriakkan nama favorit masing-masing layaknya cheerleaders tapi mereka sekedar copy-paste dari wujud asli cheerleaders. Menyebalkan!
15 menit aku berdiri di pinggir lapangan, tak ada hal yang menakjubkan, yang
wah…atau bagaimana gitu. Uh!
Lalu kenapa aku di bawa kesini, itu pertanyaan besar.
Tapi aku biarkan diriku menggerutu sepuasnya tanpa ada niatan bertanya pada
Rhini.
Sampai tiba
waktunya pergantian pemain. Ah sial, keajaiban bagai datang seperti jelangkung yang
tak ada undangan tapi dengan PD-nya muncul. Sumpah tampan banget siapa sih cowok
itu? Tak ada ruginya juga aku ke sini, pangeran. Pangeran itu membuat
pandanganku tak beralih sedikitpun. Lesuku sekejap berubah menjadi bahagia.
Suka
pada pandangan pertama. Mungkin itulah yang detik ini merasuki hatiku. Mataku
terlalu jeli dengan hal seperti ini hehehe. Matakupun bersahabat dengan hati.
Ada dentingan dag dig dug di jantungku yang mengartikan berbeda. Itu sebuah
rasa. Aku semangat
mengikuti pertandingan ini sampai selesai. Bahkan aku terpaksa
copy-paste wujud cheerleader. Teriak aaa iii uuu eee ooo seperti sedang olah vokal saja
hehehe.
“Loh kok selesai?” keluhku dalam hati.
Mataku tak lepas dari gerak-gerik pangeran tampan itu. Kakiku melangkah
mengikuti pandangan mataku. Meninggalkan Rhini
begitu saja, tanpa memperdulikannya. Aku mengikuti pengeran tampan itu.
Berputar-putar di area lapangan footsall. Tak kutemukan sosok pengeran
tampan itu. Aku menghampiri tempat yang biasa digunakan nongkrong oleh anak footsall. Tak ada pangeran. Dia hilang
tanpa bekas sedikitpun. Ah...Ya Rabbi
help me.
“Brukkk…!!!”
Seseorang menabrakku dari belakang,
akupun tersungkur. “Ah…au…”
keluhku kesakitan.
“Maaf! Gue buru-buru.” Seseorang itu mengulurkan tanganya, “Maafin
gue ya, gue bener-bener ga sengaja,” nadanya terdengar ada rasa bersalah
darinya.
Ha? Pangeran…!!! Teriakku dalam
hati, “Eng-gak apa-apa kok, kamu pergi aja katanya buru-buru!”
“Okey! Sorry ya!” pangeran melambaikan
tangannya.
Oh...Tuhan! Engkau Maha Baik, so sweet. Aku penasaran
sejadinya. Dilihat
dari caranya menolongku, dia tampak baik. Uh...udah ganteng,
baik lagi. Ku ingin memecahkan rasa penasaran yang sudah berstatus AWAS
menandakan perasaanku siap meletus-letus. Kuputuskan
mengikutinya. Sepertinya
dia ingin segera pulang. Kuikuti
laju motornya yang pelan.
“Katanya
buru-buru tapi kok pelan amat, kayak cacing!” gerutuku.
Setelah berlaju pelan, kira-kira menghabiskan waktu 15
menit. Rupanya dia berhenti disebuah danau yang memang menjadi
tempat wisata tersohor disini tetapi tak
bernama. Aku mengikuti alur
langkah kakinya, aku sedikit mengendap layaknya maling tapi bukan maling barang
melainkan maling cinta, hehehe. Dia duduk dibawah pohon. Berpura-pura tak
melihatnya. Duduk disebelahnya berharap dia menegurku lebih dulu.
Satu...dua...tiga...ah gagal.
Empat...lima...en..
“Loh kamu cewek yang tak sengaja gue
tabrak tadikan?” tegur pangeran. Lalu pengeran mengulurkan tanganya, “Kenalkan
gue Bara,”
Yeah...enam titik awal keberhasilan
cinta. Harapanku ter-ijabah. Benar-benar Tuhan Maha Dahsyat. Semangat membara
tanpa ragu-ragu, dengan suara sedikit gemetar aku menjawab.
“Maria,” sembari kusambut
tanganya.
“Nama
yang cantik seperti orangnya!” pujinya.
Ragaku seperti melayang-layang di
udara. Aku bagai burung yang bebas terbang ke angkasa raya, menghampiri
kebahagiaanku. Kurasakan wajahku
berseri, mungkin memerah seperti udang rebus. Aku terdiam,
terpaku dan membisu. Tak bisa berkata sepatah katapun
jangankan sepatah kata satu karakterpun tak mampu, hanya senyum yang kurasa manis untuk dinikmati pangeran
yang ternyata bernama Bara.
Sejak perkenalan itu, entah
disengaja atau tidak. Kebetulan ataukah takdir. Ketika aku berkunjung ke danau
itu pertemuan menghiasi hari-hariku. Entah sedang sendiri
dengan penuh harapan atau bersama Rhini tanpa membawa harapan. Bermula dari
perkenalan, ngobrol dengan topik danau ini, ngobrol kearah pribadi. Lalu keakrabanpun
mengalir dengan lancarnya menimbulkan rasa saling menyayangi dan mencintai. Ia!
kita jadian setelah satu bulan pendekatan. Bahagia? Tentunyalah. Dari hanya menjadi
pengagum rahasianya kini bisa menjadi kekasihnya sekaligus menjadi princess baginya.
***
Dua tahun berhembus. Menerbitkan
kisah-kisah yang kita ukir dengan manis. Seawet itu juga aku menjalin hubungan
dengan pangeranku. Kini kita telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi
pilihan masing-masing. Pangeran di
Jakarta, sementara diriku tetap di Bandung. Pangeran pulang disaat dirinya punya
waktu luang saja, membuat diriku selalu merindunya.
Dua
semester melewati masa kuliah, kurasakan pangeran banyak berubah. Pangeran tak
semanis dulu. Kata-katanya menjadi kasar, sering memarahiku. Ketika aku berkunjung ke kontrakanya di Jakarta, dia tak
mengganggapku. Tak meresponku. Membiarkanku. Kecewa dan sakit yang ada.
Aku
merindu dia kembali menjadi pangeran tampanku yang baik. Lingkunganlah yang ku
yakini membuat dia seperti itu. Jakarta adalah kota keras maka pangeran berubah
bukan maunya tetapi tuntutan kota baru, kuharap itu benar adanya. Aku masih
memaklumi itu, berharap dia segera pulih seperti ketika dimasa SMA dulu, walau
aku ragu. Harusnya perasaan pangeran masih sama. Mencintaiku.
Minggu.
Setelah melewatkan berminggu-minggu tanpa pertemuan, minggu ini pangeran
pulang. Yeah…I’m
so happy. Mendatanginya
adalah jadwal wajib yang tak boleh di khianati. Memberi surprise, berharap pangeran menyukainya. Berharap dia kembali
menjadi pangeranku di kala SMA. Kabulkan Tuhan…
Depan
rumahnya ada sebuah mobil berwarna merah, yang tak pernah kulihat sebelumnya. Mungkin mobil barunya tetapi yang ku tahu pangeran tak
menyukai warna merah. Heran. Pintu rumahnya juga terbuka. Astagfirullah!
Dia berduaan dengan cewek lain. Dia melakukan yang telah lama kurindukan yang
tak kunjung ia lakukan kepadaku. Tertawa
bersama, menatap matanya penuh dengan ketulusan, mendengarkan ceritanya. Sungguh tak Adil.
“Pangeran…,” teriakku, penuh
amarah.
Mataku begitu saja mengalirkan tetesan kesedihan. Sakit.
“Putri…!”
teriaknya sembari
berusaha mengejarku.
Aku segera
pergi. Membawa
mobilku melaju dengan kecepatan begitu kencang. Menyetirku tak
karuan. Tak peduli, aku sakit. Aku berhenti di danau tempat kita diwaktu SMA. Tempat
kita berkasih. Dalam diam aku menangis. Menumpahkan semua rasa sakitku.
Berteriak layaknya orang gila. Lalu aku sekejap terdiam mengenang masa-masa
indah kita. Saat kau menjadi pangeranku.
“Maria...!!!”
Terdengar dari arah belakang seorang memanggil namaku,
membuyarkan lamunan dalam tangisku. Suara
itu tak asing bagiku. Benar
itu Bara, manusia yang tak
ingin aku anggap sebagai pangeran lagi.
Aku mencoba
melepasnya, ku benar-benar terjatuh atas ulahnya. Walau sangat
berat mengatakan “Putus” dan mengakhiri hubungan yang bersemi selama dua tahun
lebih, kini harus berakhir dengan nodanya. Tapi dia jerat erat
tanganku, dia genggam penuh rasa tulus.
“Jangan!
Jangan pergi dariku percayalah aku sangat mencintaimu,” katanya matanya
berusaha menusukku.
Aku
tak bisa berbohong atas perasaanku, aku tak bisa hidup tanpanya dan atas nama cinta
kudekap ia penuh rasa sayang.
“Jangan abaikan aku, jangan sakiti aku lagi pangeran…,”
Cairan
berlian membanjiri pipiku, ia mengusapnya. Caranya meminta maaflah yang tak
mampu aku untuk melepasnya. Dia benar-benar rasa yang tak mampu kubaca. Rasa
yang menjebakku dalam ketergantungan cinta.
Pangeran tau aku masih amat kecewa padanya. Berulang kali
kata maaf terutarakan dari bibir manisnya. Mencoba menghiburku
dan kembali ke masa SMA. Lalu dia memberiku setangkai bunga mawar yang ia petik
diseberang danau dengan perahu dayung. Dia tau aku tak puas dengan aksinya.
“Aku ingin engkau slalu Hadir dan temani aku..Disetiap langkah Yang
meyakiniku Kau tercipta untukku # Meski waktu akan mampu Memanggil seluruh
ragaku Ku ingin kau tau Kuslalu milikmu Yang mencintaimu Sepanjang hidupku”
Pangeran
menyanyikan lagu favorit kita di masa SMA. Kita sering menyanyikan lagu
Tercipta Untukku dari Ungu Band bersama sembari menari-nari ceria. Aku merasa
kembali ke masa indah itu, tapi tak tau mengapa rasa kecewa belum mampu ditimbun
dengan suara merdunya yang masih sama seperti dulu. Pangeran tau, aku masih tampak
kecewa walau aku tersenyum. Namun, pasti dia tau itu bukan senyumanku. Tiba-tiba
pangeran berlutut di hadapanku.
“Aku akan membuktikan padamu putri!”
katanya.
Tiba-tiba pangeran meraih bunga
mawar yang berduri tajam dari tanganku, menggoreskan duri di jari telunjuknya,
darah merah pekatnya mengucur. Aku
hanya mampu mendelik dengan aksinya.
“Apa yang kau lakukan pangeran jahat?”
“Bukti cintaku padamu putri!” katanya, tak
mempedulikan rasa pedih.
Cara
nekatnya membuatku melakukan hal yang sama. Ku rebut bunga itu dari tanganya,
ku ikuti aksinya. Darahkupun keluar tetapi tak mengucur sama sepertinya.
“Ini
kekuatan cinta kita.” Katanya sembari mempertemukan telunjuknya dengan
telunjukku.
Manisnya
bersikap membuatku melupakan semua rasa sakitku. Aku berharap dia tak
mengkhianati aksinya sendiri.
***
Bila
ingat dengan kejadian sebulan yang lalu, di Danau ini. Sebulan yang lalu
pangeran membuatku melupakan sakit hati yang ia goreskan dihatiku. Dia mampu
dengan mudah menghapus sakit hati itu. Dengan caranya yang tak mudah kupahami. Goresan
duri itu, bahkan masih membekas dijariku yang mungkin juga masih membekas di
jarinya. Apalagi pangeran membuat goresan dijarinya amat dalam.
jika
mengingat itu aku tak amat percaya apa yang kulihat didepan mataku ini. Amat menyakitkan. Menyiksa. Menghancurkan. Gelap. Kelam. Pangeran
tampanku, pangeran jelek. Pangeran baikku, pangeran jahat. Pangeran
sayangku, pangeran benciku. Pangeranku, bukan pangeran tapi penjahat. Aku
tak akan peduli lagi dengan
usia pacaran kita. Tak
akan Peduli lagi dengan
caranya meminta maaf. Tak akan peduli lagi dengan
rasa ini. Tak akan peduli lagi kau pernah
menjadi pangeran dihidupku. Aku tak akan
peduli!!!
Kuhampiri si
penjahat yang bernama Bara itu. Ku hempaskan dengan keras
tanganku ke mukanya. “PUTUS” pilihan kata yang paling mudah ku muntahkan. Ku
pukuli bandanya “PENJAHAT” menjadi kata pilihan kedua yang paling mudah ku semburkan.
Seribu kali kata maaf yang keluar dari bibir busuknya, telingaku tuli
untuk mendengarnya. Bermacam caranya, bersujud, berguling, berbaring, mataku
buta tuk melihat itu. Aku tak mau lagi mengenal penjahat Bara.
Selingkuh. Setega itu dia. Jahat. Jahat. Jahat. Aku benci Bara. Aku benci Danau
ini. Danau kau mempersatukan. Danau kau juga yang
memisahkan. Danau mungkinkah jika setelah aku bersatu dengan pangeranku dan tak
pernah kesini lagi, perpisahan ini tak terjadi? Aku menyesal kesini…
“Bagaimana
bisa kamu kesini, bukannya kamu sedang penelitian di Bogor?” selidiknya, heran.
“Ingat
kamu hanya manusia. Allah tahu segalanya...” kataku, ketus.
“Maafkan
aku sayang a...”
Kupotong
bicaranya. “Pergilah...aku tak butuh kamu lagi. Allah Maha Baik membuka semua
aibmu di tempat ini juga. Terimakasih atas pelajaran yang berkali-kali kamu
berikan padaku, semoga Tuhan tak membalasmu,” aku berlari meninggalkannya.
“Aku
tetap mencintaimu sampai kapanpun...” teriaknya.
Teriakkannya
yang terdengar samar-samar itu menjadi kata terakhir yang ku dengar dari
mulutnya. Entah itu tulus dari hatinya atau hanya ingin membuatku lagi-lagi
mempercayai kedustaanya.
***
Hmmm...lima tahun lamanya menimba ilmu
di negara Tembok Berlin. Sekarang aku mengukir kenangan lagi
disini, Danau Kenangan. Dengan tokoh pengeran yang berbeda. Yang kupercaya
pasti tak akan membuatku terluka. Karena janji suci sudah terucap dari
bibirnya. Aku percaya dialah pangeran abadi yang telah di simpan lama oleh
Allah untuk kebahagiaanku.
Iyah...bahagia kini menjadi milikku.
Komentar
Posting Komentar