Langsung ke konten utama

Binar Mata Aisyah



Dia bukanlah gadis yang pandai mempercantik parasnya dengan bedak maupun perawatan wajah lainnya. Bukan pula gadis yang tertarik mengikuti gaya pakaian pada zamannya. Asal itu nyaman baginya maka ia akan kenakan. Hanya saja saat menatapnya ada kesejukan yang tiba-tiba menghembus dari pancaran auranya yang begitu kuat. Terasa tertarik ingin terus berada di dekatnya. Apalagi saat melihat dia tersenyum. Matanya ikut berbinar. Membuat dirinya tampak begitu cantik. 

Aku mengenalnya tak kurang dari empat tahun lebih empat bulan empat hari. Selama itu pula aku  seranjang dengannya. Merupakan keburuntungan besar dalam hidupku bisa mendapat sahabat sekaligus kakak di tempat yang jauh dari kota kelahiran. Hidupku akan selalu aman dan tidak akan menjadi berantakan seperti saat duduk di bangku SMA. Karena dia akan selalu mengingatkanku dengan nada lembut namun menohok. Tapi, kalimatnya tak menggurui. Dia juga tak hanya menasehati namun berbuat sesuai dengan apa yang keluar dari mulutnya.

Aisyah. Tak ada kepanjangan sehabis nama yang sama dengan istri Rosulullah SAW itu. Mbak Aisyah, aku memanggilnya. Aku memanggilnya mbak bukan karena dia lebih tua dariku. Kita seumuran hanya lahirku empat bulan sebelum dia. Pertama bertemu dengannya saat berada dalam kelompok OSPEK fakultas. Dia tak banyak bicara namun murah senyum. Aku yang menjadi ketua kelompok saat itu merasa sedikit sungkan dengannya. Kelakuanku heboh yang memang sudah melekat saat lahir di dunia merasa tidak enak saat melihat tingkah lembutnya. Jadi sejak hari kedua OSPEK aku menambahi "Mbak" di depan nama Aisyah. 

Dia memang tak banyak bicara. Namun ketika berdiskusi kelompok justru dia yang  paling aktif memberikan pendapat, saran dan sanggahan yang berlogika. Kinerjanya juga cepat dan tepat. Sebagai ketua pasti memiliki rasa senang dan suka memiliki anggota yang seperti itu. Walau dia lebih banyak diam ternyata tujuh di antara sepuluh lelaki di kelompokku menaruh perhatian padanya. Saat itu juga aku tahu bahwa Aisyah begitu cantik dengan matanya yang indah. 

Satu kamar dengan mbak Aisyah awalnya merupakan ketidaksengajaan. Aku tak betah di kosku yang banyak aturan lalu memutuskan pindah dan Mbak Aisyah kebetulan sendirian karena teman sekamarnya baru saja lulus. Ibu kos menempatkanku di kamarnya. Awalnya cukup terkejut ketika tahu aku sekamar dengannya tapi ada rasa senang juga karena sudah pernah mengenalnya. 

Kehidupanku yang tak teratur tiba-tiba berubah sedikit-demi-sedikit. Hampir setiap hari aku keluar malam hanya sekedar nongkrong di warung kopi sama teman-teman satu jurusan. Sering shopping membeli barang-barang yang tak terlalu dibutuhkan. Suka begadang hanya karena main HP dan paginya kesiangan ke kampus. Tetapi itu hanya berlangsung hampir setengah tahun setelah aku tinggal dengan Mbak Aisyah. Aku merasa malu dengan buruknya gaya hidupku bila kubandingkan dengannya. Hidupnya sangat bermanfaat.  Sungguh berbanding terbalik denganku. Selalu membaca, Ngaji, sholat malam, belajar dan sesekali menonton film. Mungkin kesamaan aku dan dia cuma satu, yaitu kalau main HP enggak berhenti-berhenti. Tapi bedanya aku kepo-in media sosial orang lain. Kalu mbak Aisyah, hp nya rame dengan nomer nyasar yang pastinya cowok serta grup-grup Unit kegiatan Mahasiswa. Dia memang aktif di beberapa kegiatan kampus.

Mbak Aisyah yang lembut sering mengajakku sholat berjama'ah, walau tahu aku malas dan ogah-ogahan. Tapi dia tidak pernah lelah. Aku yang dulu ogah-ogahan lama-kelamaan tak enak hati sendiri. Jadi lah rajin solat berjama'ah. Juga dia sering mengajakku hadir dalam kegiatannya sehingga membuatku tertarik untuk gabung bersama organisasinya. Tugas-tugasku yang selalu tertunda juga terselesaikan dengan cepat dan tepat. Entah sengaja atau tidak, Mbak Aisyah sering bertanya "Ada tugas apa kamu Ra?". Setelah aku jawab, dia pasti bilang "Aku juga ada tugas nih, yuk ngerjain bareng." Sehingga membuatku lebih bersemangat untuk menyelesaikan tugas tanpa dadakan lagi. 

Kebersamaan yang terjalin setiap hari membuat aku dan Mbak Aisyah menjadi sangat dekat. Terasa begitu lega ketika mengeluarkan segala unek-unek, kegalauan dan kekecewaan. Mbak Aisyah selalu memberikan solusi yang bisa memecahkan masalahku. Menasihatiku tanpa menggurui. 

Dia tak pernah kudengar mengeluarkan kata yang membuatku sakit. Tak pernah kudengar juga keluh kesah dari bibirnya. Hanya sesekali tak sengaja kulihat mata eloknya menetes di atas sajadah di sepertiga malam. Setela itu, mata eloknya akan berbinar penuh rasa syukur menikmati waktu subuh. Dan tampak semakin bercahaya selepas menunaikan sholat dhuha. Mbak Aisyah tak pernah meninggalkan sholat dhuha, sebelum kuliah dia selalu menyempatkan empat rakaat. Mungkin itu juga yang membuat parasnya bersinar meneduhkan. 

Mungkin orang yang belum mengenal Mbak Aisyah terlalu dekat akan mengira dia sosok wanita yang sangat tangguh. Pasalnya Mbak Aisyah memang tak pernah terlihat menyerah karena rasa sulit, beban hidup atau masalahnya. Ketika dia belum mencapai apa yang dia inginkan, justru dia semakin dekat dengan Tuhan dan semakin keras usahanya. Masalah yang bertubi-tubi datangpun disikapi dengan santai dan diselesaikan satu per satu. Dia juga tak pernah heboh memamerkan segala masalahnya kepadaku. Tak seperti aku yang pasti teriak-teriak memanggil Mbak Aisyah di depan pintu kamar karena tak sanggup memendam unek-unek di hati. Dengan nada lembut, dia hanya akan bilang memiliki kebimbingan selepas itu dia akan mengatakan, "Gak apa-apa di jalani aja sambil usaha dan do'a pasti berlalu." Dan aku hanya bisa berteriak."Semangat Mbak Cantikkkk pasti bisa dan selalu bisa." Lalu dia akan tersenyum manis dan berlalu mengambil air wudhu.

Padahal aku tahu, hidupnya cukup berat. Walaupun dia kuliah dengan beasiswa tetapi dia harus membagi beasiswanya untuk kedua adiknya agar tetap bisa sekolah. Ibunya menderita sakit lambung akut sehingga tidak bisa merasa lelah. Jadi untuk memenuhi kehidupannya, mbak Aisyah setiap jum'at sampai minggu menjadi asisten rumah tangga di salah satu perumahan dekat kampus. Tapi dia senang menjalani hidupnya.

Namun, pernah aku melihat dia merenung di kasur tampak sedih sekali. Ketika aku hampiri dia langsung memelukku lalu meneteskan air mata. Dan tak lama, dia menarik nafas lalu tersenyum. Tak lupa mengucap istigfar berkali-kali. Rupanya hatinya begitu sedih karena ada seorang lelaki yang berkata kasar padanya. Lelaki itu begitu menginginkan Mbak Aisyah hingga dia pernah sakit karena Mbaknya tak lagi mau untuk menemuinya. Padahal, katanya lelaki itu sudah berkerja, parasnya bersih dan baik hati. Tetapi Mbak Aisyah belum memikirkan memiliki hubuangan dengan siapa pun. Juga tak ingin menikah muda karena memiliki tanggungjawab kepada ibu dan kedua adik kandungnya. Sehingga walau lelaki itu mengejar sampai sakit pun Mbak Aisyah tak juga tersentuh hatinya. Masih semerter lima dan ingin meraih mimpi-mimpi yang masih ia cita-citakan jadi bukan Mbaknya tega hanya saja laki-lakinya yang tidak mengerti. Mbak Aisyah perempuan taat yang modern jadi tidak akan jatuh kepelukan lelaki begitu saja. Bagiku, laki-laki itu sangat bodoh telah membentak Mbaknya dengan kata-kata kasar. Mbak Aisyah memang memiliki hati yang sangat lembut sehingga jika mendengar bentakan yang tak mendasar kekuatannya akan runtuh. Ya bagaimana tidak, lelaki itu berkata."Aisyah, kamu perempuan sombong! Sombong dan sok pintar mentang-mentang aku lebih memilih kerja dan enggak kuliah, jangan sombong kamu!" diikuti dengan nada tinggi. 

Sejak itu aku benar-benar tahu kelemahan mbak Aisyah. Akan menangis jika ia mendengar bentakan yang seharusnya bisa dibicarakan baik-baik. Sebenarnya Mbaknya bisa membalas namun lebih memilih diam dan mengatakan maaf. Seharusnya tidak usah meminta maaf. Tetapi Mbaknya tak suka memiliki masalah dengan siapun. Dia lebih suka mengalah untuk kebaikan.

Dia benar-benar contoh yang sempurna bagi teman-teman dan kedua adikknya. Perempuan lembut yang tangguh. Dan aku belajar darinya bahwa mengeluh akan hanya membuat hidup semakin berat. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...