Langsung ke konten utama

Janji Yang Kuucap Dalam Do'a

          Detik ini. Setiap detik. Aku merindukanmu, Ibu. Semangatku luntur, hatiku terasa sesak hingga air mataku menetes, lalu membentuk aliran layaknya dua air terjun kembar membanjiri pipiku. Setiap ku merasa dunia ini sungguh sunyi, tidak! Aku tak sendiri hanya saja keramain tak mampu mengalahkan rasa ini, tubuhkupun lesu, otakku lelah berfikir. Pikiranku melayang indah, teringat ibu. Aku segera menghempaskan tubuhku ke kasur yang sesungguhnya tak empuk, tak pernah di jemur. Mau dijemur dimana, jemur baju saja harus antri, yah derita anak asrama.
            Dalam tubuh yang terebah. Tubuhku bagai tak berdaya, aku diam membisu. Mataku jelalatan, memandangi setiap sudut kamar asramaku yang hanya berukuran 3x4. Pandanganku terpatung pada beberapa photo, yang beberapa bulan lalu sengaja ku tempelkan di dinding kamarku. Aku tak peduli mbak yang sekamar denganku, suka atau tidak dengan ulahku. Kala mataku semakin lekat menusukkan ke photo itu, dadaku sesak.
       Aku bangkit. Laptop segera ku keluarkan dari ranselku. Ah sial baterainya habis, aku lupa seharian tadi laptop butut yang kubeli dengan uang hasil tabunganku sendiri itu kubuat presentasi. Ku putar lagu-lagu tentang ibu.
“Ohh Bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku” tepat di lirik ini, kuputar ulang-ulang. Dalam benakku berpendapat, jika aku yang menciptakan lagu Bunda yang dinyanyikan Melly goeslow itu, liriknya akan ku tambah. Tak hanya di dalam hatiku, tapi di pikiran dan setiap hembus nafasku.
     Lagi. Dan lagi air bening perlahan menetes dari kedua sudut mataku. Dadaku kian sesak. Tangisku  memaksa jatuh, ku usap dengan kedua tanganku. Aku tak ingin, teman asrama tahu aku menangis walaupun seisi asrama itu tahu dan memahami aku sebagai anak yang paling melow bila bicara soal ibu dan keluarga. Perempuan yang sangat sensitif hati dan ketegarannya bila rindu dengan ibu. Paling rajin memutar lagu tentang ibu, entah itu milik melly Goeslow, Erie Susan, sampai keramatnya Rhoma Irama.
         Tangisku membuncah, tiada lagi bisa di bendung. Ku biarkan membanjir sepuasnya, meluapkan rasa rindu ini. Kala air mata menetes, ia sangat bandel. Terus, dan terus menetes tanpa memberikan sedikit celah bibir untuk menyungging sebagai rasa menghibur diri. Wajah inipun kubenamkan dibalik bantal, memejamkan mata membuatku semakin terasa sesak karena disitulah semua rasa bercampur aduk.
            Ini bukanlah kali pertama aku jauh dari ibu. Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama sampai menengah atas, ibu terpaksa merantau dari satu kota ke kota lain. Hal itu dilakukan ibu, semata untuk memperjuangkan kebahagiaan anaknya. Ah jika mengingat perjuangan ibu yang itu, aku tak cukup kuat untuk menahan segala rasa ini.
Terbiasa jauh dengan ibu, tidak menjadikanku bisa selalu menahan rindu. Justru kini, setiap detik hembusan adalah rindu. Apalagi, jika mengingat aku yang dulu kurang menyadari jasa ibu. Betapa menyusahkanya aku. Betapa menyebalkanya, dan mengecewakanya diriku ini. Setiap kata yang ku keluarkan, menjadi gumpalan sakit dihati. Perlakuan yang tak manis yang belum ku sadari, juga menjadi sakit hati dan pikirnya.

2014 lalu...
          Mendaki penuh dengan nafas yang tersenggal-sengal telah kami lalui, sekarang kami berada dalam puncak kemenangan. Kakak pertamaku sukses kerja dikalimantan dan bisa memenuhi kebutuhan sekolah adik-adiknya dan kebutuhan orang tua. Berkat kesuksesan kakakku, kami punya motor baru sebenarnya tidak benar-benar baru tapi dari tangan kedua yang sudah dipakai bertahun-tahun tapi bagi kami itu baru.
        Bapak dan ibu tak perlu lagi sangat bersusah payah kerja keras, tak perlu lagi setiap hari ke sawah, entah itu sawah milik sendiri atau orang lain alias jadi buruh disawah orang lain. Bagaimana lagi sawah bapak hanya sepetak, itupun tak luas mau tak mau bapak harus kerja disawah orang lain. Walau begitu ibu tak pernah ingin terlalu bergantung pada kakak, ibu tetap menjadi buruh cuci juga. Dia adalah super mom.
            Semua itu tak berlangsung lama, kami bagai burung yang terbang tinggi lalu tertembak oleh pemburu tak bertanggung jawab dan jatuh terhempas ke bumi sungguh menyedihkan. Ibuku kecelakaan bersama dengan kakak keduaku, tangan dan jari di kakinya patah, kakakku mengalami luka-luka dibagian kaki dan tangan. Mendengar itu kakak yang berada dikalimantan memutuskan pulang. Kami pikir kepulangannya itu hanya sebentar karena ingin memastikan ibu baik-baik saja, ternyata dia memutuskan untuk mencari pekerjaan di kota sendiri. Tak sampai setengah tahun kakaku menemukan jodohnnya, ia dengan cepat berkeluarga. Lengkaplah derita yang memang hampir lengkap.
           Semua itu dimulai. Kakak yang tak lagi bisa menyokong kehidupan adik-adiknya dan juga orang tua membuat ibu sungguh gelisah. Mengandalkan bapak juga tak mungkin, karena bapak adalah petani biasa yang harus dibantu tenaga dan pikirannya oleh ibu, sedangan ibu tak bisa membantu melalui tenaganya untuk menggarap sawah. Tangannya sama sekali tak cukup kuat untuk melakukan aktivfitas berlebih, makanpun masih kesulitan.
         Kian hari ibu kian gelisah, namun aku tak mendengar sekalimatpun ibu mengeluh ataupun menyerah. Tapi aku tahu itu sebuah kegelisahan, karena beberapa kali ibu mengucapkan padaku soal tawaran pekerjaan salah satu saudara yang berada di surabaya. Ibu belum bisa mengambil tawaran itu karena tanganya masih terasa sangat sakit bila digerakkan walaupun perkembangan kesembuhan sangat baik.
Aku benar-benar tahu ibu semakin gelisah dengan keadaan yang tak kunjung ada jawabannya dari do’a panjang yang selalu ibu panjatkan. Usaha dan kerja keras. Dua kata itulah yang memang harus dilakukan, tapi apalah daya ibu jika melihat tangannya.
Pertengkaran yang terjadi. Ibu dan bapak sering cek-cok saling menyalahkan dan merasa paling benar, suara keras-keras mereka kumandangkan didepan kami. Tak hanya itu, piring juga melayang bagai pesawat mainan didepan kami. Rasa takut bercampur marah juga menyelimuti hatiku, Tuhanlah yang pertama kusalah-salahkan. Mengapa ini semua terjadi? Mengapa kami terlanjur miskin? Mengapa kami hidupnya tak se-enak orang-orang kaya itu? Mengapa harus bertengkar? Mengapa-mengapa dan mengapa! Tak ada jawabnya!
       Bapak. Beliau menjadi muntahan marahku yang tak bersua jikalah manusia yang harus disalahkan ialah bapak. Bapak seharusnya yang bertanggungjawab membiayai hidup kami, walaupun hanya sebagai petani seharusnya menjadi petani yang super kreatif seperti petani yang lain sukses karena tanaman yang tak  hanya padi. Bapak kami masih ada tapi aku membencinya entah sampai kapan aku tak bisa berjanji.
Sial. Dialah tersangka utama! Kakakku yang seenaknya memutuskan pulang dan menikah dalam keadaan belum memiliki pekerjaan tetap dikota kelahiran. Ibu bapak korbankan sepanjang waktunya untuk dia tetapi kenapa dia hanya sebentar korbankan waktunya untuk bapak ibu. Andai dia tetap di kalimantan ataupun pulang lalu punya kerja tetap dan tidak keburu menikah, tak akan seburuk rupa seperti ini. Tak akan! Sungguh tak akan!
Keputusan ibu tidak tepat. Hari itu juga keputusan itu harus tepat. Tangannya masih sakit tetapi ibu memutuskan menerima tawaran pekerjaan di kota surabaya. Aku yang kala itu adalah anak perempuan yang merasa manja dan dimanja karena aku adalah perempuan sendiri diantara empat bersaduara, harus dengan ajaib menjadi anak perempuan yang mandiri, dewasa dan keibuan. Sulit. Ia sangat sulit kujalani.
           Kini, aku ada di sini. Di kota metropolitan Surabaya, ah! Bukannya kota ini menjadi singgahan pertama ibu bekerja diluar kota, sebelum ibu singgah ke-satu tempat ketempat yang lain. Bagiku surabaya tak terlalu buruk ialah kota yang dengan paksa memanggil ibuku tapi tak terlalu juga karena akhirnya tangan ibuku sembuh di kota hiu-buaya itu. Sembuh bukan karena waktu tetapi saudaraku yang dengan baik hati kala itu membawa ibuku berobat hingga sembuh. Ah Tuhan Engkau begitu manis menuliskan cerita untuk kami.
Aku malu dengan Mu ya Rabbi. Beberapa bulan yang lalu, disampingku kulihat senyum mekar dari raut wajah ibu, ia bangga, bersyukur dan aku yakin sangat bahagia. Inilah jawabmu Tuhan dan ibuku menyaksikan sendiri walaupun ia sangat lelah atas perjalanan lebih dari enam jam dan harus wira-wiri mengikuti prosedur daftar ulang kampus ibu tetap kuat dan selalu tersenyum. Aku berharap bahagia dan senyum itu ta pernah terenggut dari hidupnya.
Aku disini dengan mendapat bea siswa mungkin tepatnya bea mahasiswa ya, bisa menempuh pendidikan setrata satu. Ribuan calon mahasiswa menaruh harapan yang sama sepertiku, aku beruntung menjadi salah satu calon mahasiwa yang di terima kuliah dikota ini. Semua ini, bukan hanya karena perjuanganku. jika aku kembali berlari mundur melihat perjuanganku, perjuanganku tak ada apa-apanya di banding perjuangan jatuh bangun ibu. Perjuangan  yang tak kan bisa dihitung. Lantunan doa ajaib yang tak bisa di bandingkan dengan apapun. Jasa-jasa besar yang tak dapat di ukur. Semua itulah yeng mengatarku ada di sini. Atas restumu, Allah meridhoi dan mengabulkan menjadi sebuah nikmat yang tak bisa dijelaskan.

            Setiap ku menangis, mengingat ibu. Aku menyesal. Badanku terasa tercambuk oleh semangat yang berkobar. Dalam hatiku, aku berjanji “Aku tak akan biarkanmu susah, tak akan membiarkanmu lelah menikmati masa tuamu, tak akan membiarkanmu sendiri menikmati masa tuamu. Aku akan bersamamu, membuat hari-hari menuju masa tuamu dengan senang dan selalu menemanimu selama hidupmu. Akulah tangan dan kakimu.”

Sebelum detik ini aku menangis, bermalam-malam ibu hadir dalam mimpiku. Ada kebahagiaan yang menghiasi hari-hariku karena mimpi itu. Kala aku merindu seperti ini, menelepon ibu adalah obat paling mujarab. Ia ku akui, hampir setiap hari  kata-kata perhatian ku hantarkan ke ibu lewat pesan singkat, tapi itu tak cukup bagiku. Seperti kebanyakan anak, apalagi anak perempuan yang amat menyayangi ibunya.
Dalam percakapan di telepon pasti kabar menjadi pertanyaan pertama, lalu aku akan berbagi cerita. Cerita apapun itu, yang penting membahagiakan bagi ibu. kesedihan, tak ku biarkan mulut ini sepatah katapun membongkar cerita lain di balik kabar bahagia. Aku tak ingin terus-terusan menjadi beban ibuku, bebannya terlalu berat. Timbangan sebesar apapun tak akan mampu mengukur beratnya beban ibu. tapi hebatnya ibu tak pernah mengeluh. Subhanallah...
            Percakapanpun usai, sambungan telepon di putus. Baru saja berhasil membendung tetesan rindu pada ibu, aku harus kembali dengan susah payah berupaya menahan air mataku. Kenapa selalu seperti ini, aku bermimpi lalu mersakan rindu yang teramat. Menelepon dan ibu sakit. Sudah ku lantunkan dalam doaku. Jangan datangkan ibu kemimpiku, jika akhirnya yang kudengar ibu tak enak badan. Lebih baik aku tak pernah bermimpi, tapi ibu selalu baik-baik saja. Ah ibu biarkan aku berjanji dan menyampaikan kepada Allah.
Hidup dan matiku untuk ibu. bahagia ibu adalah bahagiaku. Rasa tenang ibu adalah tenangku pula. Ibu harus dirumah, duduk manis dan beribadah sepuasnya kepada Allah, biar akulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Tunggu aku bu, atas ridhomu semua akan cepat terwujud. Janjiku akan tertepati.
Sekarang. Aku memahami. Dan menyesal telah menyalahkan orang-orang yang telah berjuang untuk hidupku dan keluarga. Jauh, membuatku belajar banyak hal tentang kehidupan, perjuangan dan pengorbanan. Kakaku tidak salah. Bapakku tidak salah. Ibuku hebat luar biasa. Dulu aku hanya tak mengerti. Kini, aku tak ingin ada kesal sedikitpun pada mereka. Rindu, kangen, sayang dan cinta yang ingin kuluapkan pada mereka. Aku ingin buah proses perjuanganku dirantaun secepatnya dirasakan oleh mereka. Keluargaku adalah semangatku. Dan ibuku adalah nafaskuu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...