Langsung ke konten utama

Senandung Aluna

Bintang si kucing berbulu tebal keturunan persia milik keluarga Aluna telah berputar-putar di kaki Aluna, artinya gadis kecil yang baru berusia 8 tahun itu harus bergegas mandi sore. Tapi Aluna tak seperti biasa ia tak segera melangkahkan kaki ke kamar mandi. Ada rasa ganjil. Ia harus mandi sore, tapi kedua orang tua yang menjemput kakaknya di bandara belum juga datang.
Pagi hari ketika Aluna sedang asyik bermain dengan Bintang, Mama dan Papa berpamitan akan menjemput kakak di Bandara, lalu mampir sebentar ke toko hewan karena Aluna meminta Bintang harus punya adik. Mereka berjanji akan pulang sebelum Aluna bangun dari tidur siang dan akan datang ke kamar sebelum Bintang berputar-putar di kaki Aluna. Bintang telah berputar-putar dan ini sudah sore.
Aluna sudah bersih dan wangi. Bintang kembali berputar-putar di kaki Aluna, putaran ini beda dengan putaran untuk menyuruh Aluna mandi. Putaran kali ini mengajak Aluna ke taman belakang tempat biasa Aluna dan keluarga termasuk bibi berkumpul sambil menunggu Papa pulang dari kantor. Bintang tak bisa diam dan terus berputar menghalangi jalan Aluna untuk menuju pintu.
Bintang aneh sekali, gumam Aluna heran.
Aluna meraba-rabakan tangannya dan menggendong Bintang, dengan sedikit jengkel ia mengelus-elus bulu lembut si Bintang. Tak seperti biasa Bintang memberontak, tetapi Aluna berhasil membuka pintu.
Aluna mendengar sesuatu yang tak pernah ia dengar di rumahnya, alunan do’a, isakan tangis dan riuhnya entah apa itu Aluna menyebutnya, ia teramat bingung.
“Aluna sayang, ikut Bibi ya”
Aluna belum sempat menjawab. Bibi mengendong paksa Aluna ke taman belakang, Bibi tampak terburu-buru terasa dari kecepatan langkahnya. Aluna tak memahami apa yang sedang terjadi, ia ragu dengan apa yang barusan didengarnya karena ia tak bisa melihat.
“Bi, ada apa. Kenapa Aluna mendengar orang berdo’a, menangis dan rumah begitu ramai?” mata bulat Aluna berputar-putar sedikit cepat, tanda ia begitu bingung dengan apa yang ia dengar dan rasakan.
“Tidak sayang, tidak ada apa-apa.”
Bibi menyeka air mata yang sangat sulit ditahan. Walau gadis kecil yang ada dipangkuannya tak akan bisa melihat air yang mengalir dari kedua sudut matanya, tetapi Aluna pasti bisa merasa apa yang sedang terjadi di hadapannya.
“Ada apa bi, kenapa bibi menangis dan kenapa Papa, Mama dan Kakak belum pulang, Aluna sudah bangun bahkan Bintang sudah menyuruh Aluna mandi tetapi belum juga pulang?” Aluna meraba pipi Bibi yang beruntungnya telah air mata telah terusap oleh kain lengan baju bibi.
“Aluna sayang, percaya sama Bibi ya semua baik-baik saja. Ramai-ramai tadi itu teman-teman bibi, kan bibi juga punya temen. Papa, mama, kakak  nanti malam datang sayang tadi telepon Aluna masih tidur. Lagi cari tongkat baru buat Aluna”
Aluna mengangguk disertai senyum yang memperlihatkan lesung pipitnya, bibi tak kuasa menahan tangis dan langsung memeluk Aluna. Namun tanpa Bibi tahu, Aluna merasa Bibi telah berbohong dan menyembunyikan rahasia besar. Entah apa itu, tetapi Aluna merasa sedih dan kehilangan sesuatu.
Bibi tak mungkin menjelaskan kepada gadis kecil yang sekarang berada dipangkuannya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak tega melihat air mata yang akan turun setiap hari dari mata yang tak pernah diberi kesempatan untuk bisa melihat indahnya dunia. Padahal mata itu indah dan bulat begitu mempesona siapapun yang melihat pasti akan memujinya tetapi mata indah itu ternyata buta. Bibi tak mungkin merenggut kebahagiaannya selama ini bersama kedua orang tua dan kakaknya, ia bahagia bercanda ria bersama mereka walau ia tak bisa melihat wajah cantik Mama dan kakaknya, wajah gagah Papanya yang seorang dokter kandungan.
Lebih tak mungkin lagi bibi menceritakan bahwa keramaian, keriuahan dan lantunan do’a itu adalah karena mama, papa, dan kakaknya. Orang-orang itu datang dan melantunkan do’a untuk almarhum Papa, Mama dan Kakak yang meninggal karena kecelakaan maut sepulang dari Bandara. Mobil yang mereka tumpangi ditabrak oleh Elf dari arah yang berlawanan dengan laju kencang dan membuat keduanya ringsek tanpa ada yang terselamatkan satupun dari masing-masing penumpang kedua mobil yang bertabrakan itu.
Bagaimana tega Bibi menceritakan setiap detail kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa orang tua dan kakaknya. Tak sanggup mengatakan bahwa jenazah mereka telah dikebumikan bersamaan dengan keluarnya Aluna dari kamarnya. Tak mungkin Bibi mengubah senyum dan tawa yang setiap hari dilihatnya akan menjadi tangis dan teriakan rindu akan kehadiran mereka. Tak sanggup bila ia melihat Aluna berlari-lari dan meraba apapun yang ditemui, lalu terjatuh karena tersandung dan terluka. Lebih tak sanggup lagi bila Aluna setiap saat memutuskan kabur dari rumah karena ingin pergi kekuburan orang tua dan kakaknya, padahal seperti yang diketahui oleh semua bahwa dia tak bisa melihat. Bibi akan memilih diam dan akan terus diam.
Aluna sungguh ingin tahu keramaian yang tak biasa terjadi di rumahnya, walau bibi telah menjelaskan asal keramaian itu Aluna tetap curiga ada hal penting yang sengaja di sembunyikan darinya. Aluna sadar bahwa dirinya buta tetapi dia masih bisa mendengar dan memiliki perasaan yang tak kalah tajam dibanding dengan manusia normal. Aluna berontak. Bibi tak kalah hebat mencegah Aluna dengan pelukan eratnya, tubuh mungil gadis 8 tahun itu tak cukup kuat untuk melepaskan diri dari Bibi. Aluna tahu Bibi terus menangis. Akhirnya ia diam. Duduk di samping Bibi dan mengelus Bintang yang tampak gelisah dan terus mengeong.
Dalam diam Aluna terus berfikir. Mengapa Bibi menangis sampai terisak, terasa sangat sedih. Kenapa aku dilarang kedalam menghampiri keramaian itu, ada apa dengan Bintang yang juga kurasakan ia tampak gelisah. Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat kesepian, bukannya aku tadi mendengar keramaian. Kenapa semua terasa aneh? cerita itu aku tahu adalah dongeng yang dibuat-buat oleh Bibi. Aku ingin tahu.
Aluna tetap diam sambil mengayunkan kedua kakinya, ke depan dan ke belakang. Mendongakkan wajahnya kelangit, seolah sedang melihat keindahan senja menjelang malam yang akan terganti oleh cahaya bintang. Mata yang tak bisa melihat itu perlahan meneteskan air bening dari sudut mata bulatnya. Entah apa yang membuat air mata Aluna terjatuh dan dada terasa sesak. Mungkin karena sore itu benar-benar berbeda dari biasanya.
Hari semakin gelap dan Aluna masih duduk sambil mengayunkan kedua kakinya dikursi taman. Diam itu adalah penantian kepada papa, mama dan kakaknya. Bibi bilang bahwa mereka akan datang pada malam hari, Aluna yakin malam sudah tiba karena kulitnya terasa dingin oleh angin malam yang biasa ia rasakan ketika berada di luar rumah. Dan ketika ia kedinginan maka mama akan memeluk lalu mengantar ke dalam kamar lalu mendongeng sampai Aluna tertidur. Tapi malam ini tidak ada pelukan itu. Ia merasa semua berubah dengan cepat.
“Aluna mau kemana sayang?”
Gadis itu berdiri dari kursi dan meraba-raba kedepan, mencari-cari sesuatu.
“Aluna kedinginan Bi, Bintang di mana. Aku ingin memeluk Bintang karena Mama malam ini tidak memelukku.”
Deg. Gadis kecil itu membuat air mata Bibi terjatuh kesekian kali. Bibi segera menghampiri Aluna dan menyerahkan Bintang yang dari tadi tertidur pulas dipangkuan Bibi.
“Bintang tadi pulas dipangkuan Bibi, mari sayang Bibi antar ke kamar. Besok pagi pasti  Mama, Papa dan Kakak sudah berada di rumah sebelum Aluna bangun.”
Aluna tahu jawaban itu hanyalah sebagai penghibur agar ia tak merasa sedih atas keanehan ini. Tapi Aluna tahu jawaban itu memperkuat dugaan Aluna bahwa Bibi bohong, karena dari tadi Bibi duduk di samping Aluna dan tak menelpon ataupun mengangkat telpon dari Mama, Papa ataupun kakak.
Keramain, keriuhan dan lantunan do’a-do’a itu tidak Aluna dengar lagi, rumah terasa sepi seperti biasa tetapi tak sesepi ini. Aluna meraba-raba seluruh sudut rumah serta barang-barang yang biasa ia pegang, semuanya tampak seperti biasa tidak ada yang berbeda. Akhirnya Aluna menyerah dengan rasa penasaran yang tak mampu ia pecahkan. Aluna melangkah kekamar tidurnya dengan dituntun oleh Bibi, serta dibuntuti oleh bintang dikakinya yang sangat menganggu langkah kecilnya.
Kantuk begitu mendera Aluna tetapi ia ingin mendegar dongeng mama yang selalu menarik untuk ia dengar. Aluna juga enggan merebahkan diri kekasur walau bibi telah berkali-kali memintanya untuk tidur, dan memberi iming-iming dongeng lucu sebagai pengantar tidur. Aluna masih ingin duduk di sofa, diam entah berfikir apa sambil mengelus-elus bintang yang hari ini terdengar sangat cerewet.
Aluna melangkahkan kaki mendekati jendela, ia meraba-raba jendela yang terasa basah. Ia tahu bahwa di luar hujan, terdengar juga petir beberapa kali menggelegar membuat hatinya semakin terkecamuk oleh keganjilan demi keganjilan yang ia rasakan. Aluna menempelkan wajahnya ke kaca jendela, terasa sejuk yang lama-lama membuat pipi dan tubuhnya menggigil. Lalu ia menjatuhkan tubuhnya di bawah jendela. Melipatkan tangannya di atas kedua lututnya, menatap apa yang tak bisa ia tatap. Gelap.
“Aluna kangen Mama, Papa, kakaku tercinta peluklah Aluna” Aluna bersenandung dengan nada pilu yang ia ciptakan dan diulang-ulang dengan lirik dan nada yang sama.
Dalam gelap itu, gelap yang setiap hari ia lihat tak segelap biasanya. Gelap selama ini tak menakutkan seperti ini, ada mama yang selalu membelainya. Papa yang selalu mencubit dan menggendong layaknya bayi dan kakak yang jail dan tak mau mengalah merebut peluk mama saat ia akan tidur. Tapi hujan, petir dan gelap ini sungguh menyakitkan.
Aluna rindu walau perpisahan itu belum sampai sehari penuh. Hidupnya yang tak pernah lepas dari mama yang seorang ibu rumah tangga hebat, papa seorang dokter yang selalu pulang sore demi keluarga dan kakak yang sekolah di luar negeri tetapi selalu pulang dua bulan sekali. Ia sungguh merasa sendiri.  Walaupun tak benar-benar sendiri karena masih ada Bibi yang selalu ada tanpa dibutuhkan dan Bintang yang setia menemani Aluna kemanapun ia melangkah, tetapi keberadaan Bibi dan Bintang tidaklah cukup.
Aluna hanya ingin kehadiran mama, papa dan kakak. Hanya mereka. Mata bulat yang indah itu kembali menetes lalu mengalir deras, air mata itu butuh usapan lembut mama. Air mata itu memiliki rasa yang begitu menyesakkan dada Aluna, ia teramat takut rasa sepi itu akan selamanya ia rasakan. Ia benar-benar takut dan tak mau itu terjadi. Tapi Aluna tak pernah diberi kesempatan untuk tahu semua apa yang terjadi karena semua diam.
Hari-harinya dipenuhi oleh rasa sedih, sepi dan takut. Aluna gadis kecil yang tak pernah diberi kesempatan untuk mengetahui semua yang terjadi, hanya bisa mengartikan semuanya melalui rasa sepi yang ia rasakan semenjak ia bangun tidur di hari kepergian keluarganya.

Aluna terus bersenandung dari bangun hingga sampai tertidur dengan lirik dan nada yang sama, serta posisi dan tempat yang sama seperti ia bersenandung dihari pertama kesepian itu dimulai. Ia tahu, bahwa Mama, Papa dan Kakak tak akan pernah kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...