Langsung ke konten utama

Untukmu Asy-Syarifah 2




Berjam-jam menunggu, tak terlalu menunggu juga. Buatku tidak sabar saja. Lomba memasak yang menjadi satu-satunya lomba yang harus aku ikuti, di jatuhkan tepat pukul satu siang. Ini sih masih pukul 9, waktunya pidato bahasa inggris. Untuk urusan lomba pidato bahasa inggris, mbak-mbak asrama (yah mereka punya nama sih tapi nanti saja ada bangiannya) mempercayakan penuh pada Nufa anak Sastra Inggris. Ya jelas, optimis pasti menang.
“Nufa, Asy-syarifah 2”
MC memanggil nama Nufa diikuti nama asrama kami. Jeritan semangat kami gelegarkan padanya, yah agar dia tidak nervous dipanggung. Tapi tentu saja, teriakan Darti yang paling menggila. Darti mahasiswi baru jurusan drama. Tidak heran lagilah kalau dia paling aneh diantara kami yang masih disebut sebagai maba (baca: mahasiswa baru) padahal semester dua sudah tercium baunya. Entah sampai kapan sebutan itu meluncur mulus di telinga kami, ya mungkin sampai kami punya adik tingkat.
Ah ya, ada Iwid di ruangan khusus yang sedang lomba hafalan suraah-surah di jus 30. Upa! Salah. Bukan Iwid tapi I-W-I-E-D diucapkan Iwied. Dia agak risih kalau namanya hanya ditulis iwid, dan selalu mengeja huruf-huruf yang membentuk menjadi namanya bila ditanya namanya. Serukan? Soal Iwied tak diragukan lagi. Ada kedamaian di hidupku ketika mendengar suara emas dari bibir sucinya. Aku enggak pernah memujinya langsung sih, tapi ini jujur kok. hehehe
Morning...” Sapa Nufa mengawali pidatonya.
Tanpa di komando semua serentak menjawab “Morning” dengan nada yang sama. Eh ada satu jenis manusia yang menjawab sangat keras dan bersemangat. Ya, Darti. Dia memang sangat berjiwa entertainment, biarlah dengan itu dia tetap hidup.
Ladies and Gentlement...” Sapa Nufa setelah beberapa kali menyapa.
Gadis itu, walau tak bisa lepas dari teks pidatonya dan terkesan lomba membaca bukan pidato, ups. Namun bibirnya tak lepas dari senyum dan begitu enteng mengucapkan kalimat-kalimat bahasa inggris, yang tentunya menjadi santapan lejat setiap harinya.
“Thank you, Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh” Tutupnya di akhir pidato.
Selanjutnya sesi tanya-jawab. Sebelum juri menghantamkan pertanyaan menjebak, Nufa lebih dulu menerima pujian. Juri terpesona melihatnya begitu tenang dan ceria di atas panggung, tak seperti peserta sebelumnya yang gugupnya tak bisa di sembunyikan.
Pertanyaan pertama tentunya sangat berkaitan dengan temanya, kartini emansipasi wanita. Juri pertama bertanya tentang pendapatnya mengenai penyelenggaraan putri indonesia, miss universe dan sejenisnya dalam era emansipasi. “Like Elvira putri indonesia 2015.” Perjelas sang juri, menyebutkan putri indonesia yang baru terpilih itu.
Oh My God, hehehe” Jawaban pertama yang keluar dari mulut Nufa.
Sontak semua langsung pecah. Tertawa melihat tingkah Nufa yang sedari tadi memang mengemaskan.
Oh My God, Goddd...” Teriak melengking Darti. Anak ini, tak tahan kalau harus diam.
Mungkin Nufa tak menyangka mendapat pertanyaan itu, pasti dia tak peduli dengan hal seperti itu. Apalagi sampai mengetahui siapa itu Elvira. Tapi dilihat dari raut wajah para juri tererlihat jelas bahwa mereka sangat menyukai cara santai Nufa dalam menjawab pertanyaan. Jawaban yang keluar dari mulutnya selalu mengundang gereget. Walau jawabannya gak nyambung. Yah itulah Nufa, gadis ceria yang mengemaskan.
Penampilan Nufa menggemaskan. Bagaimana Iwied? Sayang sekali suara emasnya tak terdukung oleh kepercayaan dirinya. Ia ngeblank dan lupa. Tapi setidaknya iwied pernah berjuang, hehehe.
pukul masih menunjukkan angka 11 kurang sedikit. Lomba pidato masih berlangsung, ada 4 peserta yang tersisa. Dipanggung peserta sedang menerima pertanyaan, kasian sekali dia kikuk. Bahasa inggrisnya pas-pasan, hanya sepatah dua patah dan patah-patah kata yang terlontar dari mulutnya. Tapi justru itu­­­­­­­­­­­, menarik. Dia dengan segunung kepedeannya menjawab dengan bahasa indonesia, aduh please deh aku juga bisa kalee.
“Terjemahan ada dibawah,” celetuk salah seorang juri, dia terbius mengucapkan bahasa indonesia padahal tak satu kalimatpun dari tadi yang terucap dengan bahasa indonesia. Dia penyebabnya, tapi itu lucu.
Kala malam syuro (Syuro sebutan rapat bagi anak asrama Ukki, apalagi tuh ukki? UKKI singkatan dari Unit Kegiatan Kerohanian Islam, salah satu organisasi dakwah terbesar di kampus kami) semua itu di mulai. Mula-mula topik pertama adalah asrama. Aku yang sebagai bendahara melaporkan keadaan keuangan bulanan. Uang selalu habis bila di akhir bulan, maklum iuran kami terlalu murah tapi justru itu salah satu yang membuat kami ingin terus ada disini. Seksi yang lain melaporkan keadaannya masing-masing. Ia sip selesai, inilah topic utama.
“Untuk pidato bahasa inggris  di wakili oleh dek Nufa, hafalan surah-surah di juz 30 di wakili oleh dek Iwied, Lomba masak di wakili oleh dek Maria dan dek Darti, dan untuk lomba kebersihan asrama semua member asrama As-syarifa 2 kita semua...lomba ini adalah program tahunan asrama ukki, kita akan bertemu dengan 11 asrama, pasti kita bisa” pengumuman mbak Faiza, umi di asrama kami.
Masak? Baiklah tidak masalah. Dirumah maupun di asrama aku sudah sering masak, tidak terlalu berat apalagi partnerku adalah Darti. Anak unik dari desa kecil pinggir hutan, yang teramat pintar memasak. Aku dan Darti sudah menebak, pasti kamilah yang akan mewakili masak. Aku sudah sering masak bersamanya, masakan aneh tapi lezat pernah kami sajikan, pasti sekedar lomba memasak sangat gampang. Sombong dikit ah….
“Bahan utama memasak, kentang dan bunga kol...” lanjut mbak puji.
“Hmm...bayangkan rek, masak apa kalian,” reaksi khas mbak marlea, ups mbak lia.
“He’eh rek, yok opo lho?” tambah mbak Feny.
“Tenang saja...hehehe...” jawabku dan Darti, kompak sama sekali tak berbeban.
Usai rapat aku dan Darti berdiskusi serius tentang masakan apa yang akan kami sajikan. Sebenarnya tak terlalu serius juga sih, lebih banyak ketawa. Mana bisa aku dan dia serius.
Aku dan darti tercipta sangat berbeda. Darti yang aneh, cerewet, pecicilan dan rame buanget berbanding 360 derajat denganku yang sok manis, pendiam dan sedikit bicara tapi kadang kalau lagi mood banyak bicara juga. Akulah Maria yang disebut mbak faiza tadi setelah darti. Mahasiswi baru jurusan satra Jerman. Yah itulah aku tapi kami cocok. Bagai sutil dan wajan yang tak bisa di pisahkan. Ah mentang-mentang lomba memasak sutil, wajan muncul juga.
Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya pengambilan nomor undian memasakpun jatuh. Aku dan Darti saling mendesak agar bersudi mengambil nomor undian. Darti ngotot agar aku saja yang mengambil, aku tak mau kalah. Ku lebih ngotot dari dia, pokoknya darti yang harus ngambil. Setelah di desak oleh mbak-mbak agar kami segera mengambil nomor undian memasak, Akhirnya kami sama-sama maju.
“Kamu sajalah dar, aku yakin tanganmu adalah keberuntungan...”Pujian mautku.
Tanganku membantu tangannya mengangkat, mengambil nomor. Tangan darti berhasil meraih gulungan kertas keberuntungan kami, aku segera merebutnya. “Sembilan,” bacaku lirih, kecewa.
Artinya kami akan memasak pada ronde ke 3. Ah sama sekali tidak seru, sudah menunggu malah harus menunggu lebih lama lagi. harapku aku dan darti berada di ronde pertama, supaya kami cepat bisa bereksperimen dengan masakan yang tidak pernah kami buat. Ya, benar sekali lomba itu adalah percobaan kami. Serukan? Hebatkan kami?
Tidak ada rasa gelisah, bahkan semua terasa enteng. Menang bukan tujuan kami, pengalaman lebih berharga bagi kami, mangkanya sedari tadi kita enteng-enteng saja tanpa beban. tapi kami tahu mbak-mbak punya harapan pada kami. Yah lihat saja nanti.
“Nomor sembilan mbak...” ucapku pada mbak-mbak serta iwied dan nufa.
“Yah...masih lama banget,” komentar mbak puji.
Kemudian di susul oleh komentar-komentar mbak-mbak yang lain. Ah, belum memasak saja kami sudah mengecewakan apalagi melihat hasil masakan kita yang gak tau seperti apa wujudnya nanti. Mbak-mbak ribut menyuruh kami berdiskusi tentang tahap-tahap memasak. Memberikan saran serta petuahnya. Kami risih, sebenarnya itu semua sudah kami diskusikan. Tapi kami tahu, mbak-mbak sangat mendukung dan percaya pada kami bahkan menyayangi kami sebagai adiknya sendiri, ih sok melow. Semakin kami diberi petuah, aku dan darti semakin diam. Acuh. Kami hanya tak mau gugup, kalau bisa menghadapi sesantai mungkin.
Empat puluh lima menit memang lama bila hanya menunggu, tetapi akan sangat singkat digunakan untuk lomba memasak, yah itulah waktu kami memasak nanti.
“Eh mar jangan kayak gitu ntar motong kentangnya, ingat yang sudah kita diskusikan,” darti kembali mengingatkanku.
“kalau ternyata kamu yang tiba-tiba nanti motong, hayo…”
“Ih maria, kan itu udah bagian kamu….”
“Yayaya, udahlah jangan cerewet!”

Ketika memasak, raut muka teman-teman pada panik. Lucu sekali, apalagi di detik-detik waktu habis, itu yang seru. Eh dasar darti, dengan seenaknya dia menggoda peserta lain. melangkah dari satu meja peserta ke meja lain. wah parah, sok akrab banget. Yah bukan darti namanya kalau hanya dia menyaksikan peserta lain memasak. Dia teriak-teriak  tidak jelas, kadang menyemangati, menjunjung, kadang juga tentunya bercanda menjatuhkan. Tidak takut karma apa, kalau-kalau nanti waktu kami ada diposisi mereka bakalan digitukan. Ah , whatever all about darti.
Waktu meluncur empat sore, ronde ke tiga segera di mulai. Aku dan darti kompak menata alat-alat dan bahan tambahan memasak. Wajah kami ceria tanpa beban, apalagi darti yang selalu tersenyum, tertawa dan bersuara riang. Tepat 16.45 menit, mulai. Nufa, Iwied serta mbak-mbak setia terjaga di sebelah kami. Teriakan-teriakan semangat begitu jelas terdengar di telinga.
Aku mengupas kentang, sesuai dengan pembangian yang kami sepakati dan darti memarut wortel bahan tambahan kami. Aih, ada kamera segala. Aku sih senang banget ada kamera, kamera itu akan menjadi sejarah bisu atas pengalaman seruku ini tapi lihatlah darti. Masyaallah, dia berpose dangan gonta-ganti gaya. Membiarkan masakan yang menangis ingin segera diselesaikan.
“Para penonton...Pasti uenak buanget...percaya saja...” cerocosnya sekian kalinya.
Waktu terus berhembus, semakin sempit. Meja kami mendadak ramai, karena hanya masakan kami yang terkesan lamban. Belum ada tanda-tanda selesai. Selesai? Bumbu aja belum jadi, hehehe. Aduh! Benar aku dan darti seperti hanya main-main saja. pembawaan yang santai, tak peduli waktu, dan seringnya bercanda mengundang semuanya memperhatikan kami. Menyoraki kami agar cepat menyelesaikan masakan. Sepertinya mereka lebih cemas kalau masakan kami tidak selesai dari pada kami yang punya masakan.  Sungguh mengganggu.
“Ayo dek cepetan, waktunya tinggal 15 menit lagi...” desak mbak faiza, sang umi kami.
Disusul mbak puji yang dari tadi tampak heboh menyemangati kami.” Ayolah rek...duh keburu waktunya entek lho...” dia tampak gelisah. Ingin ketawa melihatnya.
“Bayangkan rek...minta tolong rek…waktunya habis tuh, wes lah menyajikan kentang ulek saja...” celetuk mbak lia, dengan gaya khasnya.
“He’eh rek, ayo...” timpal mbak veeny.
Ah mbak lia ada-ada saja. masak aku dan darti di minta membayangkan, bisa-bisa nanti benar-benar hanya kentang matang yang sudah ku ulek halus saja yang mampu kami sajikan. Tapikan ulekanku luembut sekali. Selembut pelukanku pada dia…dia bantal!
Aku dan darti mulai terlihat panik. Badanku terasa gerah, terlalu takut waktu membunuh masakan kami yang belum berbentuk masakan. Suara-suara yang niatnya menyemangati kami semakin membuat kami panik. Seharusnya mereka diam, biarkan kami bekerja dengan tenang kalianlah yang membuat kami gugup, gerutuku kesal. Tapi aku dan darti berusaha setenang mungkin. Gerakan cepat kami terapkan. Kulihat wajah darti menegang, lucu juga. Waktu tersisa sepuluh menit, piring masih kosong. Teriakan-teriakan mulai bergema lagi tapi aku sudah menutup kupingku rapat-rapat, aku harus konsentrasi penuh.
“Gimana? Pas!” suap darti, memastikan rasa masakan kami.
“Kurang...garam...eh..tapi sedikit saja, ah terserah aku percaya kamu” kataku sedikit ragu karena panik membuat lidahku mati rasa.
Kentang yang sudah kami haluskan kami isi dengan sosis, wortel, seledri dan daun bawang yang sudah matang bercampur bumbu lalu kami bentuk melonjong, orang menyebutnya kroket. Kami berharap masakan kami juga disebut demikian. Kenyataannya tidak, lebih mirip kentang kentaki isi karena tempung yang kami gunakan salah. ah tidak peduli yang penting kami sudah memasak dengan bersuka ria.
Secepat kilat, waktu berhitung mundur. Semua bibir ikut menyuarakan. Kami semakin panik tapi aku dan darti tetap bisa tertawa. Apalagi darti, selalu heboh sama sekali tidak takut kehabisan waktu yang semakin habis.
“tiga...dua...sa....tu...”
Tet...waktu tergilas habis. Yee...piring kami tidak kosong walau juga tidak membuat wau. Soal rasa biarlah lidah yang berkomentar.
Shalat magrib telah berlalu. Pengumuman semua pemenang lomba akhirnya tiba juga. Kami optimis karena terlihat jelas diantara lomba yang kami ikuti ada beberapa lomba yang akan asrama kami menangkan. Lomba pidato bahasa inggris dan kebersihan asrama. Hafalan jelas tidak, apalagi masak. Masak tidak mungkin, semua acak-acakan. Tidak ada harapan menang, karena kami hanya senang-senang.
Benar saja Nufa akhirnya maju menerima hadiah. Sekali lagi tebakanku benar, kebersihan as-syarifah 2  juara dua. Tibalah waktunya pengumuman juara masak.
“Gak mungkin menang, acak-acakan gitu,” kataku, lemas setelah terdengar juara dua bukan kami.
“Gak apa-apa, tenang saja.” Ucap mbak puji, menghibur.
MC menunda-nunda untuk membcakan pemenang juara satu. Ah memang sengaja tuh, gerutuku kesal.
“Pye rek iki, minta tolong tuh masnya cepetan,” mbaklia juga tak sabar
“Juara satu, As-syarifah 2”
“horeee....” teriak kami semua. Eh kok horeee ya, seharusnya Alhamdulillah tapi kami terbuai oleh kemenangan. Maafkan kami ya Allah.


Aku sungguh tak percaya. Kok bisa. bagaimana bisa. Aca-acakan kok menang. Yang benar saja. Tapi kami memang menang. Aku dan darti jatuh dalam pelukan, kami masih tak percaya. Bahkan kamipun tak merasakan masakan kami yang benar-benar jadi. Sehingga kami tak tahu apakah masakan yang tersaji untuk juri tadi enak, tapi menang juga.
Aku dan darti maju menerima hadiah. Wajah kami ceria. Semua mata tertuju pada kami, semua tahu kami hampir tak bisa menyelesaikan masakan. Pasti semua juga tak percaya , sama seperti kami yang berdiri didepan eksis dibidik oleh kamera.
“Hahaha hadiahnya panci...”


Keseruan ada dengan kebersamaan, kusembahkan untuk rumah keduaku, Asy-syarifah 2. Surabaya.

Salam Positif!




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...