Berjam-jam menunggu, tak terlalu menunggu juga. Buatku tidak sabar saja. Lomba memasak yang menjadi satu-satunya lomba yang harus aku ikuti, di jatuhkan tepat pukul satu siang. Ini sih masih pukul 9, waktunya pidato bahasa inggris. Untuk urusan lomba pidato bahasa inggris, mbak-mbak asrama (yah mereka punya nama sih tapi nanti saja ada bangiannya) mempercayakan penuh pada Nufa anak Sastra Inggris. Ya jelas, optimis pasti menang.
“Nufa,
Asy-syarifah
2”
MC
memanggil nama Nufa diikuti
nama asrama kami. Jeritan semangat kami gelegarkan padanya, yah agar dia tidak nervous dipanggung. Tapi tentu saja,
teriakan Darti yang paling menggila. Darti mahasiswi baru jurusan drama. Tidak
heran lagilah kalau dia paling aneh diantara kami yang masih disebut sebagai
maba (baca: mahasiswa baru) padahal semester dua sudah tercium baunya. Entah
sampai kapan sebutan itu meluncur mulus di telinga kami, ya mungkin sampai kami
punya adik tingkat.
Ah
ya, ada Iwid di ruangan
khusus yang sedang lomba hafalan suraah-surah di jus 30.
Upa! Salah.
Bukan Iwid tapi I-W-I-E-D diucapkan Iwied. Dia agak risih kalau namanya hanya
ditulis iwid, dan selalu mengeja huruf-huruf yang membentuk menjadi namanya
bila ditanya namanya. Serukan? Soal Iwied tak diragukan lagi. Ada kedamaian di
hidupku ketika mendengar suara emas dari bibir sucinya. Aku enggak pernah memujinya
langsung sih, tapi ini jujur kok. hehehe
“Morning...” Sapa Nufa mengawali
pidatonya.
Tanpa
di komando semua serentak menjawab “Morning”
dengan nada yang sama. Eh ada satu jenis manusia yang menjawab sangat keras dan
bersemangat. Ya, Darti. Dia memang sangat berjiwa entertainment, biarlah dengan itu dia tetap hidup.
“Ladies and Gentlement...” Sapa Nufa
setelah beberapa kali menyapa.
Gadis
itu, walau tak bisa lepas dari teks pidatonya dan terkesan lomba membaca bukan
pidato, ups. Namun bibirnya tak lepas dari senyum dan begitu enteng mengucapkan
kalimat-kalimat bahasa inggris, yang tentunya menjadi santapan lejat setiap
harinya.
“Thank
you, Wasalamu’alaikum warahmatullahi
wabaraktuh” Tutupnya di akhir pidato.
Selanjutnya
sesi tanya-jawab. Sebelum juri menghantamkan pertanyaan menjebak, Nufa lebih
dulu menerima pujian. Juri terpesona melihatnya begitu tenang dan ceria di atas
panggung, tak seperti peserta sebelumnya yang gugupnya tak bisa di sembunyikan.
Pertanyaan
pertama tentunya sangat berkaitan dengan temanya, kartini emansipasi wanita.
Juri pertama bertanya tentang pendapatnya mengenai penyelenggaraan putri
indonesia, miss universe dan
sejenisnya dalam era emansipasi. “Like
Elvira putri indonesia 2015.” Perjelas sang juri, menyebutkan putri indonesia
yang baru terpilih itu.
“Oh My God, hehehe” Jawaban pertama yang
keluar dari mulut Nufa.
Sontak
semua langsung pecah. Tertawa melihat tingkah Nufa yang sedari tadi memang
mengemaskan.
“Oh My God, Goddd...” Teriak melengking
Darti. Anak ini, tak tahan kalau harus diam.
Mungkin
Nufa tak menyangka mendapat pertanyaan itu, pasti dia tak peduli dengan hal
seperti itu. Apalagi sampai mengetahui siapa itu Elvira. Tapi dilihat dari raut
wajah para juri tererlihat jelas bahwa mereka sangat menyukai cara santai Nufa
dalam menjawab pertanyaan. Jawaban yang keluar dari mulutnya selalu mengundang
gereget. Walau jawabannya gak nyambung. Yah itulah Nufa, gadis ceria yang
mengemaskan.
Penampilan Nufa menggemaskan. Bagaimana Iwied? Sayang
sekali suara emasnya tak terdukung oleh kepercayaan dirinya. Ia ngeblank dan
lupa. Tapi setidaknya iwied pernah berjuang, hehehe.
pukul masih menunjukkan angka 11 kurang
sedikit. Lomba pidato masih berlangsung, ada 4 peserta yang tersisa. Dipanggung
peserta sedang menerima pertanyaan, kasian sekali dia kikuk. Bahasa inggrisnya
pas-pasan, hanya sepatah dua patah dan patah-patah kata yang terlontar dari
mulutnya. Tapi justru itu, menarik. Dia dengan segunung kepedeannya
menjawab dengan bahasa indonesia, aduh please
deh aku juga bisa kalee.
“Terjemahan
ada dibawah,” celetuk salah seorang juri, dia terbius mengucapkan bahasa
indonesia padahal tak satu kalimatpun dari tadi yang terucap dengan bahasa
indonesia. Dia penyebabnya, tapi itu lucu.
Kala malam syuro (Syuro sebutan
rapat bagi anak asrama Ukki, apalagi tuh ukki? UKKI singkatan dari Unit
Kegiatan Kerohanian Islam, salah satu organisasi dakwah terbesar di kampus
kami) semua itu di mulai. Mula-mula topik pertama adalah asrama. Aku yang
sebagai bendahara melaporkan keadaan keuangan bulanan. Uang selalu habis bila
di akhir bulan, maklum iuran kami terlalu murah tapi justru itu salah satu yang
membuat kami ingin terus ada disini. Seksi yang lain melaporkan keadaannya
masing-masing. Ia sip selesai, inilah topic utama.
“Untuk pidato bahasa inggris di wakili oleh dek Nufa, hafalan surah-surah di juz 30 di wakili oleh dek
Iwied, Lomba masak di wakili oleh dek Maria dan dek Darti, dan untuk lomba kebersihan
asrama semua member asrama As-syarifa 2 kita semua...lomba ini adalah program
tahunan asrama ukki, kita akan bertemu dengan 11 asrama, pasti kita bisa”
pengumuman mbak Faiza, umi di asrama kami.
Masak? Baiklah tidak masalah.
Dirumah maupun di asrama aku sudah sering masak, tidak terlalu berat apalagi
partnerku adalah Darti. Anak unik dari desa kecil pinggir hutan, yang teramat
pintar memasak. Aku dan Darti sudah menebak, pasti kamilah yang akan mewakili
masak. Aku sudah sering masak bersamanya, masakan aneh tapi lezat pernah kami
sajikan, pasti sekedar lomba memasak sangat gampang. Sombong dikit ah….
“Bahan utama memasak, kentang dan
bunga kol...” lanjut mbak puji.
“Hmm...bayangkan rek, masak apa
kalian,” reaksi khas mbak marlea, ups mbak lia.
“He’eh rek, yok opo lho?” tambah
mbak Feny.
“Tenang saja...hehehe...” jawabku
dan Darti, kompak sama sekali tak berbeban.
Usai rapat aku dan Darti berdiskusi
serius tentang masakan apa yang akan kami sajikan. Sebenarnya tak terlalu
serius juga sih, lebih banyak ketawa. Mana bisa aku dan dia serius.
Aku dan darti tercipta sangat
berbeda. Darti yang aneh, cerewet, pecicilan dan rame buanget berbanding 360
derajat denganku yang sok manis, pendiam dan sedikit bicara tapi kadang kalau
lagi mood banyak bicara juga. Akulah Maria yang disebut mbak faiza tadi setelah
darti. Mahasiswi baru jurusan satra Jerman. Yah itulah aku tapi kami cocok.
Bagai sutil dan wajan yang tak bisa di pisahkan. Ah mentang-mentang lomba
memasak sutil, wajan muncul juga.
Setelah
berjam-jam menunggu, akhirnya pengambilan nomor undian memasakpun jatuh. Aku
dan Darti saling mendesak agar bersudi mengambil nomor undian. Darti ngotot
agar aku saja yang mengambil, aku tak mau kalah. Ku lebih ngotot dari dia,
pokoknya darti yang harus ngambil. Setelah di desak oleh mbak-mbak agar kami
segera mengambil nomor undian memasak, Akhirnya kami sama-sama maju.
“Kamu
sajalah dar, aku yakin tanganmu adalah keberuntungan...”Pujian mautku.
Tanganku
membantu tangannya mengangkat, mengambil nomor. Tangan darti berhasil meraih
gulungan kertas keberuntungan kami, aku segera merebutnya. “Sembilan,” bacaku
lirih, kecewa.
Artinya
kami akan memasak pada ronde ke 3. Ah sama sekali tidak seru, sudah menunggu
malah harus menunggu lebih lama lagi. harapku aku dan darti berada di ronde
pertama, supaya kami cepat bisa bereksperimen dengan masakan yang tidak pernah
kami buat. Ya, benar sekali lomba itu adalah percobaan kami. Serukan? Hebatkan
kami?
Tidak
ada rasa gelisah, bahkan semua terasa enteng. Menang bukan tujuan kami, pengalaman
lebih berharga bagi kami, mangkanya sedari tadi kita enteng-enteng saja tanpa
beban. tapi kami tahu mbak-mbak punya harapan pada kami. Yah lihat saja nanti.
“Nomor
sembilan mbak...” ucapku pada mbak-mbak serta iwied dan nufa.
“Yah...masih
lama banget,” komentar mbak puji.
Kemudian
di susul oleh komentar-komentar mbak-mbak yang lain. Ah, belum memasak saja
kami sudah mengecewakan apalagi melihat hasil masakan kita yang gak tau seperti
apa wujudnya nanti. Mbak-mbak ribut menyuruh kami berdiskusi tentang
tahap-tahap memasak. Memberikan saran serta petuahnya. Kami risih, sebenarnya
itu semua sudah kami diskusikan. Tapi kami tahu, mbak-mbak sangat mendukung dan
percaya pada kami bahkan menyayangi kami sebagai adiknya sendiri, ih sok melow.
Semakin kami diberi petuah, aku dan darti semakin diam. Acuh. Kami hanya tak
mau gugup, kalau bisa menghadapi sesantai mungkin.
Empat puluh lima menit memang lama bila
hanya menunggu, tetapi akan sangat singkat digunakan untuk lomba memasak, yah
itulah waktu kami memasak nanti.
“Eh mar jangan kayak gitu ntar motong kentangnya,
ingat yang sudah kita diskusikan,” darti kembali mengingatkanku.
“kalau ternyata kamu yang tiba-tiba nanti motong,
hayo…”
“Ih maria, kan itu udah bagian kamu….”
“Yayaya, udahlah jangan cerewet!”
Ketika memasak, raut muka teman-teman pada panik. Lucu
sekali, apalagi di detik-detik waktu habis, itu yang seru. Eh
dasar darti, dengan seenaknya dia menggoda peserta lain. melangkah dari satu
meja peserta ke meja lain. wah parah, sok akrab banget. Yah bukan darti namanya
kalau hanya dia menyaksikan peserta lain memasak. Dia teriak-teriak tidak jelas, kadang menyemangati, menjunjung,
kadang juga tentunya bercanda menjatuhkan. Tidak takut karma apa, kalau-kalau
nanti waktu kami ada diposisi mereka bakalan digitukan. Ah , whatever all about darti.
Waktu
meluncur empat
sore, ronde ke tiga segera
di mulai. Aku dan darti kompak menata alat-alat dan bahan tambahan memasak.
Wajah kami ceria tanpa beban, apalagi darti yang selalu tersenyum, tertawa dan
bersuara riang. Tepat 16.45 menit, mulai. Nufa, Iwied serta mbak-mbak setia terjaga
di sebelah kami. Teriakan-teriakan semangat begitu jelas terdengar di telinga.
Aku
mengupas kentang, sesuai dengan pembangian yang kami sepakati dan darti memarut
wortel bahan tambahan kami. Aih, ada kamera segala. Aku sih senang banget ada
kamera, kamera itu akan menjadi sejarah bisu atas pengalaman seruku ini tapi
lihatlah darti. Masyaallah, dia
berpose dangan gonta-ganti gaya. Membiarkan masakan yang menangis ingin segera
diselesaikan.
“Para
penonton...Pasti uenak buanget...percaya saja...” cerocosnya sekian kalinya.
Waktu
terus berhembus, semakin sempit. Meja kami mendadak ramai, karena hanya masakan
kami yang terkesan lamban. Belum ada tanda-tanda selesai. Selesai? Bumbu aja
belum jadi, hehehe. Aduh! Benar aku dan darti seperti hanya main-main saja.
pembawaan yang santai, tak peduli waktu, dan seringnya bercanda mengundang semuanya
memperhatikan kami. Menyoraki kami agar cepat menyelesaikan masakan. Sepertinya
mereka lebih cemas kalau masakan kami tidak selesai dari pada kami yang punya
masakan. Sungguh mengganggu.
“Ayo
dek cepetan, waktunya tinggal 15 menit lagi...” desak mbak faiza, sang umi
kami.
Disusul
mbak puji yang dari tadi tampak heboh menyemangati kami.” Ayolah rek...duh
keburu waktunya entek lho...” dia
tampak gelisah. Ingin ketawa melihatnya.
“Bayangkan
rek...minta tolong rek…waktunya habis tuh, wes lah menyajikan kentang ulek
saja...” celetuk mbak lia, dengan gaya khasnya.
“He’eh
rek, ayo...” timpal mbak veeny.
Ah
mbak lia ada-ada saja. masak aku dan darti di minta membayangkan, bisa-bisa
nanti benar-benar hanya kentang matang yang sudah ku ulek halus saja yang mampu
kami sajikan. Tapikan ulekanku
luembut sekali. Selembut pelukanku pada dia…dia bantal!
Aku
dan darti mulai terlihat panik. Badanku terasa gerah, terlalu takut waktu
membunuh masakan kami yang belum berbentuk masakan. Suara-suara yang niatnya
menyemangati kami semakin membuat kami panik. Seharusnya mereka diam, biarkan
kami bekerja dengan tenang kalianlah yang membuat kami gugup, gerutuku kesal.
Tapi aku dan darti berusaha setenang mungkin. Gerakan cepat kami terapkan.
Kulihat wajah darti menegang, lucu juga. Waktu tersisa sepuluh menit, piring
masih kosong. Teriakan-teriakan mulai bergema lagi tapi aku sudah menutup
kupingku rapat-rapat, aku harus konsentrasi penuh.
“Gimana?
Pas!” suap darti, memastikan rasa masakan kami.
“Kurang...garam...eh..tapi
sedikit saja, ah terserah aku percaya kamu” kataku sedikit ragu karena panik
membuat lidahku mati rasa.
Kentang
yang sudah kami haluskan kami isi dengan sosis, wortel, seledri dan daun bawang
yang sudah matang bercampur bumbu lalu kami bentuk melonjong, orang menyebutnya
kroket. Kami berharap masakan kami juga disebut demikian. Kenyataannya tidak,
lebih mirip kentang kentaki isi karena tempung yang kami gunakan salah. ah
tidak peduli yang penting kami sudah memasak dengan bersuka ria.
Secepat
kilat, waktu berhitung mundur. Semua bibir ikut menyuarakan. Kami semakin panik
tapi aku dan darti tetap bisa tertawa. Apalagi darti, selalu heboh sama sekali
tidak takut kehabisan waktu yang semakin habis.
“tiga...dua...sa....tu...”
Tet...waktu
tergilas habis. Yee...piring kami tidak kosong walau juga tidak membuat wau.
Soal rasa biarlah lidah yang berkomentar.
Shalat
magrib telah berlalu. Pengumuman semua pemenang lomba akhirnya tiba juga. Kami
optimis karena terlihat jelas diantara lomba yang kami ikuti ada beberapa lomba
yang akan asrama kami menangkan. Lomba pidato bahasa inggris dan kebersihan
asrama. Hafalan jelas tidak, apalagi masak. Masak tidak mungkin, semua
acak-acakan. Tidak ada harapan menang, karena kami hanya senang-senang.
Benar
saja Nufa akhirnya maju menerima hadiah. Sekali lagi tebakanku benar,
kebersihan as-syarifah 2 juara dua.
Tibalah waktunya pengumuman juara masak.
“Gak
mungkin menang, acak-acakan gitu,” kataku, lemas setelah terdengar juara dua
bukan kami.
“Gak
apa-apa, tenang saja.” Ucap mbak puji, menghibur.
MC
menunda-nunda untuk membcakan pemenang juara satu. Ah memang sengaja tuh,
gerutuku kesal.
“Pye rek iki, minta tolong tuh masnya cepetan,”
mbaklia juga tak sabar
“Juara
satu, As-syarifah 2”
“horeee....”
teriak kami semua. Eh kok horeee ya, seharusnya Alhamdulillah tapi kami terbuai
oleh kemenangan. Maafkan kami ya Allah.
Aku
sungguh tak percaya. Kok bisa. bagaimana bisa. Aca-acakan kok menang. Yang
benar saja. Tapi kami memang menang. Aku dan darti jatuh dalam pelukan, kami
masih tak percaya. Bahkan kamipun tak merasakan masakan kami yang benar-benar
jadi. Sehingga kami tak tahu apakah masakan yang tersaji untuk juri tadi enak,
tapi menang juga.
Aku
dan darti maju menerima hadiah. Wajah kami ceria. Semua mata tertuju pada kami,
semua tahu kami hampir tak bisa menyelesaikan masakan. Pasti semua juga tak
percaya , sama seperti kami yang berdiri didepan eksis dibidik oleh kamera.
“Hahaha
hadiahnya panci...”
Keseruan ada dengan kebersamaan,
kusembahkan untuk rumah keduaku, Asy-syarifah 2. Surabaya.
Salam Positif!

Komentar
Posting Komentar