Langsung ke konten utama

Menikmati Hamparan Pasir Merah Muda Pantai Pulau Merah (Red Island)

Hai kawan-kawan yang penuh motivasi dan mencintai keadaan hidupnya :)

Tulisan kali ini akan sedikit memberi gambaran tentang wisata unggulan dari Banyuwangi, kota segudang surga di ujung Jawa Timur. Dia adalah Pulau Merah atau populer dengan nama internasional Red Island. Apa yang saya tulis nanti di bawah merupakan hasil pengalaman saya yang beberapa kali mengunjungi Pulau Merah. Simak ya...

Pulau Merah- Memiliki pantai berpasir putih agak kemerah mudaan yang begitu luas menghampar memanjang dari barat ke timur. Pasir yang lembut dan bersih sangat nyaman untuk anak-anak bermain, semua kalangan tua-muda bersantai duduk manis maupun tiduran. Juga tempat yang pas untuk membangun arena voli ataupun sepak bola. 

Pantai salah satu ikon Banyuwangi tersebut terletak di Desa Sumberangung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Sebutan Pulau Merah itu konon dilatar belakangi oleh pulai kecil yang berada di tengah pantai. Ketika laut surut, pengunjung dapat menghampiri pulau kecil yang memiliki tanah berwarna merah. Karena itulah, pantai indah itu dikenal dengan pantai Pulau Merah.

Mangunjungi pantai yang memiliki nama internasional Red Island itu dapat dilakukan di semua waktu. Pagi hari pengunjung dapat menikmati kesejukan dengan deburan ombak yang menggulung-gulung. Siang hari di bawah terik matahari juga tak kalah menajubkan dengan pemandangan yang semakin tampak menawan. Apalagi di sore hari, sambil duduk di pantai menikmati mata hari terbenam bersama sang.... 

Ombak bagus yang menggulung tinggi juga dimiliki oleh Pulau Merah. Tak heran bila setiap tahunnya diselenggarakan festival surfing international di sana oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. 

Jalan menuju pantai ini pun juga sangat mudah. Fasilitas untuk memudahkan pengunjung juga dilengkapai, seperti penginapan, warung-warung yang berjejer, penyewaan papan seluncur dengan ongkos 25 sampai 50 ribu, toilet dan masih banyak lagi. Oh iya, juga terdapat kursi untuk berjemur dengan payung besarnya.

Setiap liburan selalu dipenuhi oleh pengunjung dari Banyuwangi maupun warga asing. Sehingga kalau ingin suasana lebih sepi lebih baik mengunjungi saat tidak libur panjang. Kalau mengunjungi di hari biasa bisa aja tidak dipungut biaya hehehe...

Gengs, kalian enggak akan rugi datang ke Pulau Merah bahkan bakal kangen ingin ngunjungi lagi. Pasti tidak akan puas kalau cuma ngunjungi sekali saja. Saya saja yang warga Banyuwangi tidak pernah puas dan selalu ingin kembali ke Pulau Merah.

Saya ada beberapa dokumentasinya...

*Kalau lagi sepi bisa puas berpose dengan luasnya pasir yang bersih...

*Pulau Kecil yang wajib ada di kameramu. Kalau kamu belum berpose dengannya berarti kamu belum mengunjungi Pulau Merah.


*Cocok juga berkunjung bersama keluarga ....



Terima kasih.
Salam Positif!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...