Langsung ke konten utama

Kesetiaan Si Mpus



Binatang peliharaan jika dirawat dengan sepenuh hati pasti akan mengerti lewat sikap-sikap manjanya. Apalagi jika kita memperlakukan seperti anak sendiri. Binatang itu bahkan akan menaruh kesetiaan pada pemiliknya. Binatang seperti kucing atau pun anjing sangat peka terhadap ketulusan maupun kejahatan.

Saya suka sekali terhadap kucing lokal maupun non lokal dan telah berkali-kali memiliki kucing. Namun kucing saya yang paling setia hanyalah tiga dari beberapa kucing yang pernah saya asuh. Kucing juga merupakan binatang kesukaannya Nabi Muhammad Saw. Masih heran gitu kalau ada orang yang gak suka bahkan sampai benar-benar benci terhadap kucing. Padahal kucing itu lucu sekali, tingkahnya bikin gemes dan bisa menghilangkan mood yang tidak baik atau jadi mood boster.

Kisah pertama, kucing si pengetuk pintu dan pembangun solat malam. Saya lupa nama kucing pemilik bulu super lembut yang hobi bangunin di sepertiga malam itu. Dia saya asuh ketika saya masih duduk di bangku SMP. Memiliki warna dominan abu-abu yang bercampur dengan warna oren. Menurut saya dia kucing yang pintar sekali karena memanfaatkan kaki dan kepalanya untuk mengetuk pintu. 

Ceritanya, pintu rumah sering tertutup jika semua ada di dalam atau ada di dapur. Si kucing selalu bermain di luar rumah. Ketika semua pintu masuk tertutup dia akan milih pintu depan karena di sebelahnya ada kaca besar. Si Mpus akan mengetuk pintu dengan kaki dan kepalanya. Sering ku ketahui bila pintu tak kunjung dibuka dia akan menggedor kaca dengan keras. Semakin dibiarkan maka gedoran itu semakin keras. 

Keunikan dia yang sampai saat ini bikin saya terharu ialah kebiasaan mengetuk kaca di sepertiga malam. Malam hari ketika semua akan tidur si kucing sengaja di keluarkan ke dapur paling belakang agar tidak pup atau pipis sembarangan. Nah, kebiasaan si Mpus dia tidak mau lama-lama sendirian di dapur atau di luar. Dia ambil inisiatif yaitu membangunkan saya dengan mengetuk kaca jendela kamar. Kebetulan di bawah kaca ada tumpukan kayu sehingga memudahkan kucing untuk berpijak. Si Mpus menggalakkan aksinya setiap hari dan di jam yang sama yaitu antara pukul 02.00-03.00 dini hari. Lucunya, bila tidak segera dibukakan dia akan terus mengetuk dan menganggu tentunya. Mengingatkan saya untuk bangun, maksudnya bangun membukakan kaca jendela. hehehe

Namun sayang sekali, Si Mpus tidak bertahan lama. Saya ndak tahu kenapa Si Mpus tiba-tiba nggak mau makan dan jarang pulang. Ternyata dia memiliki tempat persembuyian sendiri yaitu di samping rumah tepatnya di bawah tanaman pagar. Dia sakit hampir dua minggu dan sekeluarga berusaha mengobati dia tapi tetap tak ada perubahan. Suatu ketika dia aku gendong dari persembunyiannya tubuhnya sangat dingin. Keesokan harinya ketika pulang sekolah dia sudah tidak ada. Dan ibuku tak kuasa memberi tahuku. Si Mpus telah tergeletak lemas di atas tungku. Rasanya sesak banget padahal lagi lucu-lucunya. Dengan isak tangis Si Mpus aku kuburkan di sebelah rumah. 

Kisah kedua, Alvin si kucing hantu. Alvin seekor kucing berdarah campuran dengan ibu persia dan bapaknya dari Indonesia. Karena dia campuran wajar jika memiliki mata yang indah. Memiliki bulu abu-abu bergaris hitam dan memiliki ekor yang sangat panjang. Alvin diasuh keluargaku sejak dia masih bayi dengan tingkah nakal yang menggemaskannya. Saat Alvin tinggal di rumah aku juga memiliki tiga kucing lokal. Dan Alvin ditakuti oleh semua kucingku.

Seiring tubuhnya yang semakin besar dan lincah Alvin menjadi penakut. Kucing paling tua saya menjadi momok bagi Alvin. Sehingga membuat Alvin sering keluar mencari kawan lain. Alvin menjadi kucing yang dicintai oleh semua karena ekornya yang panjang dan tidak nakal. Si kucing berekor panjang itu selalu ikut bapak ke masjid untuk berjama'ah dan tidak akan pulang sampai bapak pulang. Juga selalu ikut jika anggota keluarga pergi ke warung. Dia akan menunggu di bawah tanaman pagar depan warung sampai kami beranjak meninggalkan warung. 

Sedihnya, kebersamaanku dengan Alvin harus terpisah lantaran aku harus kuliah di Surabaya. Sebelum lebaran Alvin menghilang dari rumah dan tidak ada yang tahu keberadaanya. Uniknya, ketika h-1 saya berada di rumah tiba-tiba Alvin menampakkan diri. Dia kembali menjalani kehidupan bersama kami. Ntah selama ini dia ke mana juga tidak ada yang tahu. Hal tersebut tak hanya sekali, beberapa hari setelah aku kembali ke Surabaya Alvin kembali menghilang. Lalu ketika  saya pulang Alvin juga pulang dan seolah tidak pernah menghilang karena tetap menjadi Alvin yang setia. 

Alvin menghilang dan muncul terhitung sebanyak empat kali. Terakhir tahun 2016, kala itu saya terpaksa tak bisa pulang selama setengah tahun di hitung dari lebaran. Ketika setelah sekian lama saya tak pulang Alvin tak kunjung pulang. Sedih sekali rasanya, ternyata lebaran itu kepulangan Alvin yang terakhir kali. Dan sampai sekarang tidak ada yang tahu, tetangga pun juga tak ada yang tahu. Saya  berfikir, jika Saya sering pulang mungkin Alvin juga akan pulang. Syedih deh..




Kisah ketiga bukan yang terakhir, Miku Miku si kucing primadona.  Setelah semua kucing saya hilang dan meninggal saya hampir setahun tidak memiliki kucing. Hidup saya terasa hampa karena salah satu kebahagiaan saya adalah merawat kucing yang menggemaskan. Alhamdulillah, tahun Januari 2018 saya diizikan oleh Allah merawat kucing lagi.

Kucing perempuan itu bernama Miku Miku, artinya masa depan yang cerah. Memiliki bulu dominan putih, juga terdapat warna hitam-orens di kepala dan tubuhnya. Menurutku dia sangat cantik, bulunya bersih  dan lucu sekali. Ketika saya bawa ke rumah giginya belum tumbuh semua tapi sudah lahap makan tulang. 

Walau kebersamaan bersama Miku-miku baru beberapa hari tetapi rasa sayang terhadap dia sudah sangat besar. Dan sangat sedihnya lagi saya harus meninggalkan kucing cantik itu karena kembali ke Surabaya. Perkembangan Miku Miku selalu saya ikuti lewat video call melalui adek atau kakak saya. Kata bapak, Miku Miku sudah beberapa kali di tawar atau di minta oleh orang-orang karena kecantikannya. Lucunya, dia pernah ditawar dengan durian montong. hahaha ada-ada aja. 



Maret 2018  seminggu sebelum saya pulang, Miku Miku enggan makan dan lemas. Ketika saya pulang, Miku-miku berada di teras rumah menyambut kedatangan saya. Dan langsung saya kasih makan hebatnya dia mau makan dengan lahap. What so amazing, isn't it? 

Selama saya pulang dia benar-benar kurawat dengan sepenuh hati. Saya belikan susu dan sentrat. Sempat dia berhari-hari enggan tidur sendiri tetapi maunya tidur bersama saya di kamar. Semoga Miku Miku selalu sehat dan tidak menghilang. AAMIIN.

Kesimpulannya adalah berlakulah baik pada binatang maka mereka juga akan memperlakukan sama. 


Maria Umma Dewi

Me and My Pet

Salam Positif



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...