Langsung ke konten utama

Candi Borobudur yang Mendamaikan


Menjelajahi alam dan aset Indonesia adalah mimpi yang ingin saya wujudkan. Bagi saya melihat keindahan alam adalah rasa syukur kita kepada Tuhan Allah Swt. pencipta alam semesta ini. Kali ini giliran Candi Borobudur yang akan menghiasi beranda blog saya. Mengunjungi Borobudur pertama kali ketika duduk di bangku kelas 2 SMA membuat saya rindu dan akhirnya memutuskan kembali mengunjungi pada januari 2017. Saya akan selalu menghargai dan terkagum dengan keindahan Indonesia!

Candi Borobudur- Candi atau kuil Buddha serta monumen Budhha terbesar di dunia. Dibangun oleh Dinasti Sailendra antara tahun 780-840 Masehi. Peninggalan ini dibangun sebagai tempat pemujaan Budhha dan tempat ziarah. Pasukan Inggris pada tahun 1814 di bawah pimpinan Sir Thomas Standford Raffles berhasil menemukan candi bersejarah ini. 

Candi yang mampu mengikat pengunjung di seluruh dunia ini terletak di Borobudur, Jawa Tengah, Indonesia. Menemukannya sangat mudah karena petunjuk keberadaan Candi Borobudur terpampang di ruas-ruas jalan. Terdapat gapura besar yang menandai bahwa kita telah berada di kawasan candi Borobudur. 

Cukup merogoh kocek sebesar 40 rb bagi pengunjung dewasa dan 20 untuk anak-anak, pengunjung bisa puas menikmati salah satu keajaiban dunia itu. Berjalan santai menuju Candi Borobudur di suguhi oleh pemandangan hijau yang terlihat sangat terawat. Saat lelah bisa mendudukkan diri di bangku-bangku yang tersedia di kanan-kiri bahu jalan setapak. Menjumpai wisatawan asing dari seluruh dunia adalah hal biasa di Candi Borobudur, ntah perorangan maupun rombongan. 

Candi yang tampak kecil dari kejauhan tiba-tiba menjelma seperti raksasa ketika di dekati. Menitih tangga satu demi satu tak menghiraukan nafas cukup tersenggal karena memang tinggi. Tepat berada di bawah canti terbesar di dunia itu tubuh ini tampak kecil sekali. Semakin mendekat dan menginjakkan kaki ke badan Candi. Sedikit merasa melukai keajaiban dunia karena harus menginjaknya.Tetapi Candi ini begitu kokoh buktinya tertimpa abu merapi dan gempa tetap berdiri tanpa mengeluh kesakitan. 


Berada di puncak tertinggi Borobudur tumbuh ini terasa semakin kecil akan keindahan ciptaan Tuhan. Di bawah kita terdapat pepohonan dan gunung berjejer begitu menakjubkan. Sungguh pemandangan yang sangat indah sekali. Memandangi pegunungan dan pemandangan sejauh mata memandang membuat hati terasa damai. Dan pasti ingin kembali lagi. 

Turun dari Borobudur bisa menyempatkan diri untuk mampir di museum. Melihat-lihat peninggalan asli dan mempelajari sejarahnya di tempatnya langsung. Keluat Borobudur melewati pasar yang penuh dengan oleh-oleh dengan harga murah dan masih bisa ditawar pula. 


Terimakasih, jika pembaca belum pernah ke Candi Borobudur semoga bisa mengunjungi secepatnya ya. Cintai keindahan dan Jaga aset Indonesia. 

Salam Positif!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...