Langsung ke konten utama

Beratnya Mencintaimu


Diam adalah pilihan paling tepat bagi mahasiswi berlengsung pipit jurusan bahasa Inggris disalah satu universitas ternama di Bandung. Dia harus dengan cerdik membuat skenario kisah cintanya sendiri. Tetapi tidak tepat bila sendiri karena kekasihnya ikut bermain di dalamnya. Walau dilakukan berdua dia tetap merasa skenario itu terlalu melukainya. Membuatnya juga tak bebas bergerak seperti sebelum hidupnya harus sedikit dibagi dengan kekasihnya.
Diam di balik mabuk asmara yang meluap-luap. Ia adalah perempuan yang sangat aktif  diberbagai organisasi kampus. Juga sangat ekspresif  menyampaikan segala bentuk peristiwa yang ada dalam hidupnya. Tapi untuk kali ini dia tak ada pilihan selain harus diam dan profesionalitas diatas segalanya bagi perempuan yang juga menjadi idola semua dosen karena kecerdasannya.
Seperti hari-hari biasanya gadis energik itu selalu rajin datang sebelum pukul 07.00, walau kadang kelasnya dimulai di atas pukul 8 bahkan siang. Dia harus stand by di ruang Badan  Eksekutif  Mahasiswa  alias BEM.
Gadis itu baru turun dari motor bebek kesayangannya, tiba-tiba dari belakang terdengar suara khas seorang pria memanggilnya.
“Sya... dek Rasya!”
Gadis itu ternyata memiliki nama Rasya. Seketika Rasya terdiam dan secepat kilat memutar kepala ke arah datangnya suara itu.  Seperti tebakannya, ya pemilik suara itu adalah kekasihnya. Ia terkejut dan tak bisa menguasai dirinya. “Ii-aaa?” suara nada menyeretpun terdengar jelas, ia gugup.
Rasya tampak malu dan salah tingkah. Karena memang selama mereka berpacaran sapaan dek sebagai sapaan sayang dari kekasihnya tidak pernah terlontarkan  ketika mereka ada di kampus. Biasanya jika mereka bertemu, mereka hanya saling lempar senyum. Selebih itu jika memang ada kepentingan mereka akan mengobrol, tentunnya obrolan soal kuliah bukan diluar itu.
“Ayo kita barengan!”
Rasya hanya tersenyum sebagai jawaban ia, memamerkan lesung pipitnya.
Dalam diam mereka berjalan berdampingan memasuki kawasan gedung bahasa Inggris. Tangga pertama telah terinjak oleh kedua kaki mereka, keduanya lalu berpisah. Rasya membiarkan kekasihnya berjalan duluan dan memastikan kekasihnya sudah tak terlihat oleh matanya baru ia akan berjalan melewati tangga yang sama untuk menuju kelas, yang hari itu ada jadwal kuliah pagi.
Kenapa  kekasihnya tidak mengantar hingga di depan kelas? Kenapa kekasihnya harus berjalan duluan? Lalu kenapa  juga Rasya harus memastikan kekasihnya sudah berada di kantor baru ia akan menaiki tangga menuju kelasnya? Kenapa enggak jalan sama-sama? Lalu siapa kekasih Rasya, mengapa masuk kantor bukan masuk kelas dan ada urusan apa pula?
Alasan kuat dan tidak masuk akal. Ia dan kekasihnya berpendapat keras, orang-orang kampus tak seharusnya mengetahui kedekatan mereka yang dijalin secara serius. Bukanya kita harus tahu tempat dimana kita berpijak, orang-orang terpelajar menyebutnya dengan profesionalitas, ia kan? Tegas dalam hatinya.
Rasya sangat lihai menyembunyikan status hubungan pacaran dengan kekasihnya. Semua tampak biasa saja, ketika kekasihnya banyak yang mengagumi, mendekati, bahkan mengila-gilainya layaknya fans berat. Karena memang kekasihnya setara sempurnanya dengan Rasya. Bahkan, lebih pintar dari Rasya. Mereka saling memahami, pasangan mereka memiliki daya pesona luar biasa. Rasya sadar betul, ia berpacaran dengan siapa dan segala risiko sudah disiapkan secara lahir dan batin walau terkadang hancur berkeping-keping.
 Alif Ilhamana, atau biasa dipanggil Rasya dengan Mas Alif  dan para mahasiswanya memanggilnya P.Alif. Dia adalah dosen termuda di universitas sekarang tempat ia mengajar, walau ia masih muda, tak membuat ia diragukan. Justru keberadaanya memberikan nafas dan pemandangan yang segar, menumbuhkan semangat yang tinggi, itulah pendapat para mahasiswi didikanya.
Alif tak hanya menjadi kekasih sekaligus dosen Rasya, tapi ia juga menjadi pembimbing  skripsinya. Itu artinya, pertemuan mereka di kampus tidak hanya sebatas di kelas, di ruang dosen tapi bisa saja dimanapun tempatnya sesuai dengan kesepakatan janji yang Alif  dan Rasya Buat.
Kelas untuk hari ini hanya sampai pukul 11.00. Rasya bukan mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Dia akan pulang jika hari sudah petang, matahari bersembunyi di balik kegelapan malam. Dia juga bukan mahasiswa kunang-kunang alias kuliah nangkring-kuliah nangkring. Mungkin hanya duduk-duduk di bawah pohon beringin dekat gedung jurusannya untuk menyegarkan otak bersama Angel sahabatnya yang paling heboh. Ya, dia adalah mahasiswa kura-kura alias kuliah rapat-kuliah rapat. Kegiatan rutin Rasya adalah kumpul-kumpul dengan anak organisasi, sekedar rapat atau ngegosip juga bisa. Jika tidak rapat, Rasya akan membeku di perpustakaan.
Khusus untuk Hari ini dan beberapa bulan kedepan Rasya mengurangi kegiatan  rapatnya, ia akan sering ada janji bimbingan skripsi bersama dosen Alif. Hari inipun setelah makan siang, ia memiliki janji. Rasya lebih memilih menunggu tiba waktu bertemu dengan dosen pembimbing skripsi,  makan siang di kantin bersama Angel.
“Eh Katanya kamu nanti mau bimbingan skripsi ya sama pak Alif, sendiriankan, aku ikut ya?”
Rasya tersedak, perntayaan Angel membuatnya salah tingkah. Rasya bingung jawaban apa yang harus ia keluarkan untuk melegakan hati Angel. Rasya hanya menyipitkan mata, tanda ia heran.
Ni anak tahu aja kalau soal mas Alif, lah tapi emang tadi aku kasi tahu. Bimbingan skripsi saja harus di buntuti, protes dihatinya.
“Ya Sya, bentar aja deh pokoknya ketemu sedetik aja aku dah seneng. Please Rasya cantik...”
Angel merengek, membujuk Rasya.
“Tapi ngel... inikan hanya bim.”
Belum Rasya selesai bicara, Angel memotognya. “Ayolah Sya, sekali ini saja..”
Rengekan Angel membuat hatinya luluh, ia hanya mengangguk untuk tanda setuju.
Angel sangat puas. Dia menyanyi sambil menari-nari. Rasya menyesali anggukan kecil yang baru saja ia perlihatkan pada Angel, seharusnya No, gumam Rasya.
“Sya, dari sekian mahasiswi yang tergila-gila dengan pak Alif, kok kamu bukan salah satunya. Masa kamu enggak kagum sama Pak alif yang pintar, keren dan ganteng itu?”
Sepersekian detik Angel menunggu jawaban Rasya, namun yang diterimanya hanya juluran lidah dan diam seribu bahasa. Itu urusanku, gumam Rasya dihati.
Lagi. Tanpa kata. Rasya berdiri dan mlengos meninggalkan Angel. Membebankan makanan dan minuman yang belum sempat Rasya bayar, lebih tepatnya ganti rugi karena Angel ngotot ikut bimbingan skrispsinya alias ingin ketemu dosen Alif.
Di ruang kelas yang tak terpakai semua itu dimulai. Kecanggungan Rasya atas mata jeli Angel yang tak lelah-lelahnya mencoba menyelediki sesuatu yang entah apa itu. Kecemburuan yang membuat hati dan pikirannya amat terusik oleh keakraban Angel dengan dosen Alif. Angel membuatnya menjadi sempurna, ia pintar. Mungkin bisa dikatakan licik.
Bohong. Ini bukan sedetik.
            Dia punya ide cemerlang agar dirinya bisa terus ngobrol dengn dosen Alif. Bertanya tentang eksistensi dunia terhadap bahasa inggris yang mulai tergeser oleh bahasa Mandarin dan Jepang sampai tetang dunia kerja yang cocok untuknya, tak hanya itu dia juga menjadikan obrolan itu semakin mengalir. Cantik. Dia bercerita mengebu-gebu ingin melanjutkan S2 di Australia tetapi, tetapi dan banyak tetapi akhirnya diskusi antara motivator dan pendengarpun asyik dinikmati oleh Rasya yang berpura-pura merevisi bagian yang dicoret oleh dosen Alif.
Beberapa kali Rasya berdehem. Dosen Alif tersadar, itu bukan sebuah tanda bahwa Rasya ingin ia bimbing namun sebuah isyarat. Kecemburuan. Tetapi setiap muntahan kalimat yang keluar dari mulut manis Angel terlalu kuat menarik perhatian Alif, ia tak tega bila harus tak mendengar curhatan mahasiswa yang penuh semangat itu (dalam tanda kutip). Namun Alif tahu apa yang harus ia lakukan. Atas nama Profesionalitas, semua terselesaikan.
“Saya disini bukan untuk melayani curhatan Anda, namun saya harus membimbing proses penyelesaian skripsi teman anda. Mungkin dalam kesempatan lain anda bisa berdiskusi lagi dengan saya!” tegas Alif .
Ruangan kelas itu sejurus membeku. Tak ada suara kecuali suara mesin AC. Rasya tak mau membela Angel yang memang sangat menganggu bimbingannya dan juga hatinya tentunya. Angelpun berusaha memahami kalimat tegas Alif, yang jika diterjemahkan dengan bahasa kasar. Ia diusir. Ah! Sakitnya.
Angel menoleh kearah Rasya. Tak mendapat pembelaan sekedar dari raut muka saja. Dengan senyum yang dipaksakan mengembang, akhirnya ia undur diri dan mengucapkan sekian rasa terimakasih dan harapan bisa berdiskusi lagi dengan Alif. Oh tak lupa juga, ia menyemangati Rasya untuk kesuksesan skripsinya. Dan kemudian ruangan kelas yang dijadikan tempat bimbingan antara dosen Alif dan Rasya menjadi sangat hening. Membeku. Tak ada kata yang  bisa mengawali obrolan mereka, tentang skripsi maupun perasaan Rasya.
Ruang kelas harus dikosongkan karena matahari akan kembali bersembunyi dibalik pegunungan yang tinggi.  Tetap sama, tak ada obrolan, diskusi atau perdebatan seperti yang terjadi dibimbingan sebelumnya hingga waktu memaksa keduanya keluar dari kelas dan mengakhiri bimbingan. Mereka berjalan keluar gedung bersama, namun masih tetap diam. Diam dan diam hingga keduanya terpisah oleh tempat kendaraan masing-masing. Tak ada janji untuk bertemu di depan gerbang kampus seperti bimbingan sebelumnya. Hari ini Rasya benar-benar dibakar api cemburu.
Seminggu yang lalu dia telah menjadi seorang wanita yang amat bodoh. Kebodohannya itu juga ia sesali hingga detik ini, entah mengapa Rasya seorang wanita yang cakap dan tegas bisa membisu dan takhluk pada pengakuan suka oleh kakak kelasnya yang sedang menempuh S2. Rasya tak bisa langsung berkata bahwa ia memiliki kekasih, apalagi kekasihnya seorang dosen alasannya hanya satu ia tak ingin satu orangpun tahu dan tak membiarkan hati Geo kecewa.
Rasya tahu, Geo pasti mengungkapkan rasa kagumnya yang tak mampu ia sembunyikan  sejak Rasya gabung di BEM. Dari dulu perasaanya kepada Geo tak pernah berubah yaitu hanya menganggapnya seorang kakak tak lebih. Kenapa ia tak mampu langsung berkata TIDAK? Kenapa harus mau disuruh Geo untuk mempertimbangkan jawabannya? Bukan masalah itu, kali ini Geo serius dan ingin meminangnya.
Rasya duduk tak tenang dikursi panjang yang terbuat dari kayu, tampak warnanya sudah sangat lapuk sekali hampir tak tega dirinya menduduki kursi itu. Ia memenuhi janji Geo duduk di kursi lapuk di bawah pohon beringin dekat taman bunga belakang gedung jurusannya, sama seperti seminggu yang lalu ketika Geo mengungkapkan keinginannya meminang Rasya. Ia tak gelisah hanya saja takut, alasan yang ia berikan  tak diterima Geo. Pasti Angel yang juga telah mengenal dekat Geo akan kecewa mengetahui jawaban Rasya dari mulut Rasya sendiri maupun Geo. Ah, tak peduli.
“Mas Geo, terimakasih atas niat baik yang seminggu lalu Mas sampaikan ke Rasya. Aku tidak tahu harus menyampaikan dengan bahasa yang bagaimana, namun yang lebih tidak kuketahui ialah kenapa perasaanmu tak pernah lapuk seperti kursi kayu yang kita duduki ini. Tiga tahun yang lalu kursi ini warnanya masih coklat pekat dan gagah, kini hampir kehitaman dan mungkin sebenarnya menangis karena tak kuat kita duduki.”
Rasya tersenyum menunggu tanggapan Geo, yang juga melempar senyum padanya. Bibirnya sudah terbuka, suara hampir berbunyi namun Geo lebih dahulu bersuara.
“Lalu keputusan Rasya ?”
Tenggorokan Rasya terasa kering, karena ludahnya sudah berkali-kali ia telan untuk menahan kalimat-kalimat yang berjubel ingin keluar satu persatu namun tertahan oleh ketidak tegaan. Menata. Merapihkan dan memilih kalimat terbaik agar tak mengecewakan, tapi di manakah letak kalimat sopan yang tak akan menyakitkan itu. Dicari semakin sulit, bersembunyi di otak bagian manakah kalimat sakti itu. Menggali dan memutar otak. Ya Tuhan...
“Maaf, aku bukan tak menyukaimu. Menurutku kamu lelaki yang sangat baik bisa mengayomi adik-adik kelas dan temen-teman Mas Geo. Tetapi maaf aku tidak bisa memaksa diriku untuk menerima pinangan Mas Geo, alasannya apa...ya inilah perasaan yang berbicara. Artinya bukan aku” bibirnya menyungging lembut.
“Perasaan bisa tumbuh karena kebersaman, kamu tidak pernah memberiku kesempatan Rasya. Kamu tidak bisa berkata bukan aku, Tuhan belum melihat usaha kita kenapa aku percaya diri meminangmu karena rasa ini kuat sekali dan tak pernah berubah sejak tiga tahun yang lalu hingga kamu sebentar lagi lulus.”
“Maaf!”
Rasya memotong kalimat Geo yang jika diteruskan akan sangat sia-sia dan hanya membuat dirinya lelah mendengarkan ocehan Geo yang jelas-jelas jawabnya tidak.
“Lelaki lain?”
Seketika Rasya membeku. Jantungnya berdebar kencang. Ia aku memiliki lelaki lain.
“Aku rasa jawabanku sudah mewakili semua, itulah jawaban yang bisa kusampaikan padamu. Kamu punya hak menyampaikan perasaanmu, aku wajib mendengar tetapi aku juga wajib menyampaikan jawaban yang tak kubuat-buat dan dalam waktu dekat kamu akan tahu. Maaf Mas!”
            Satu hal yang membuat Rasya benci dicintai oleh lelaki yang tak ia cintai. Menyakiti dan pergi meninggalkan tempat obrolan lalu tak ada lagi cerita canda tawa yang mengalir seperti sungai, pasti banyak sedikit akan berubah. Tak ada lagi diskusi matakuliah atau kegiatan kampus yang tak pernah serius, selalu dibumbui tawa keras. Dan bersama-sama memantulkan bola basket keringnya, itu pasti sirna.
            Rasya tak bergairah berlama-lama dikampus pasti yang ia temukan ialah Angel yang selalu memburunya pertanyaan dan Alif  kekasihnya yang selalu membuat hatinya sedikit terbakar api cemburu karena keganjenan mahasiswa-mahasiswa baru maupun lama. Ia hanya berjalan menuruti kemana langkah kakinya berjalan, tak mungkin menuju parkiran motor  karena Rasya harus memenuhi janji yang kedua dihari ini. Yaitu diskusi dengan para adek-adek BEM mengenai acara fakultas semester depan, tapi diskusi itu masih dua jam lagi lalu kemanakah ia harus berhenti dan membiarkan kakinya istirahat sejenak saja.
            “Sya!”
            Aku tak dengar itu. Jangan Angel, kumohon sekali ini saja.
            Rasya mempercepat langkahnya, namun Angel berlari membuat tangannya mampu diraih oleh Angel untuk memberhentikan langkahnya.  Rasya melempar senyum dan jadilah Angel membuatnya terduduk dengan paksa.
            Tak perlu ditebak karena memang pasti itulah yang akan dibahas Angel. Dirinya dan Mas Geo. Dan petanyaannya lengkap, 5W 1H. Mengapa menolak? Apa alasannya? Dimana kekurangan Geo? Sejak Kapan Rasya menjadi wanita yang PHP dan akhirnya menolak? Siapa lelaki yang dekat dengannya? Bagaimana bisa Rasya menyembunyikan hubungannya kepada Angel? Pertanyaan yang dua terakhir sangat memaksa dan tidak memiliki dasar, maka Rasya tidak akan menjawab.
            “Angel tolong, aku punya hak menolak. Lagian waktu itu mas Geo tidak memberiku kesempatan langsung menjawab tetapi menyuruhku memikirkan selama satu minggu padahalkan tanpa aku mikir aku sudah punya jawaban yaitu tidak! Tentang lelaki lain dan menyembunyikan padamu, memangnya aku memberikan alasan itu?”
            Nada bicara Rasya meninggi, Angel tak mau lagi memburu perilah lelaki yang dekat dengan Rasya kerena ia tahu itu akan membuat Rasya marah. Rasya memang tak suka marah, tetapi jika ia benar-benar tidak suka dan dipaksa maka tangan bisa saja melayang. Bukan memiliki watak keras, tetapi itulah cara jitu yang bisa membuat mulut membungkam dan tak adalagi pertanyaan menyebalkan.
            Menyembunyikan hubungannya dengan Alif selama hampir setengah tahun bukanlah kemaunnya tetapi ia hanya tak ingin menjadi bahan gunjingan mahaiswa sefakultas bahkan sekampus. Dan tak ingin ada seorangpun yang melihatnya aneh ketika dosen Alif sedang mengajar dikelasnya, tak ada yang cie-cie atau berdehem ketika Rasya mengajukan pertanyaan pada dosen Alif. Dan tak ada yang memintanya membujuk dosen Alif untuk membuat bagus nilai mereka. Tak ada, hanya itulah mimpi Rasya.
            “Sya...Maaf deh,” Angel mengalah dan memilih mengalihkan pembicaraan. Ia juga takut kalau Rasya marah, karena ia pernah merasa sakitnya ketika lengannya diperas oleh Rasya, sakit bukan main.
            “Oh iya, hari ini gak bimbingan atau ketemu sama dosen Alif?”
            Hati Rasya bukannya dingin tetapi semakin mendidih, kepalan tangannya yang mula-mula akan segera melemas kini kembali lagi mengepal kuat. Tapi ia tak cukup tega untuk membungkam paksa Angel, ia hanya korban ketiktahuan rahasia hubungannya dengan Alif. Masih selamat kauN.
            “Aduh kenapa dosen Alif lagi, dosen Alif lagi? Aku males dengan pertanyaanmu yang itu itu saja dan hari ini aku malas sama kamu Angel!”
            “Lowh kenapa jadi nyolot sih Sya kan aku cuma nanya, kamu kan juga tahu kalau aku kagum bahkan suka sama dosen Alif jadi ya itu pertanyaan wajarlah, akhir-akhir ini kamu aneh banget kalau kutanya tentang beliau. Hanya kamu ya cewek yang sepertinya bencii sama dosen ganteng itu. Kenapa ada masalah dengan bimbingan skripsimu, dia mencoret-coret skripsimu apa semua idemu dipatahkan? Atau sebaliknya kamu menyukainya mangkanya kamu enggak suka kalau aku banyak nanya?”
            “Aduh Angel! Pertanyaan terakhirmu itu lho...anak Abg banget!”
            Rasya berdiri dan langsung pergi menghindari Angel, ia tak mau sedikit demi sedikit rahasinya terbongkar. Namun Angel menahannya dan terus menyelediki sikap aneh Rasya, mau tak mau Rasya meladeni walau dengan raut muka sangat kusut. Ia berharap waktu cepat berputar membawanya berdiskusi dengan anak BEM, tapi ia juga tak yakin Angel akan berhenti memburunya hanya dihari ini bisa saja hari lain maka hari ini harus selesai.
            “Gini Sya, kemarinkan kamu tahu aku ngobrol sama dosen Alif dan itu enak banget nyambung banget rasa kagumku semakin besar dan aku yakin ini tak sekedar kagum. Karena aku tahu kamu sering bertemu dengan beliau ya aku minta bantuannya lah buat nyomblangin aku sama beliau, ya kalau kamu suka atau gimana sama beliau aku gak akan maju kan Sya, jadi gimana Sya?”
            “Huk huk huk!”
            Minum. Minum. Minum. Rasya seperti tersedak buah durian beserta kulitnya. Tenggorokannya gatal dan sakit. Sebenarnya tak ada yang aneh hanya saja Rasya terkejut luar biasa mendengar kalimat Angel. Ia pikir kekaguman kepada Alif hanya sekedar karena ganteng ternyata perasaannya juga.
            Katakan sejujurnya atau tidak atau mengalihkan pembicaraan. Tidak semua. Angel tak bisa dipercaya untuk menjaga rahasia dan jika mengalihkan pembicaraan dia akan semakin curiga.
            “Sya? Kamu suka juga sama pak Alif?”
            Kering. Kerongkongan Rasya benar-benar kering, tak ada lagi ludah yang bisa ia telan.
            “Sya! Katakan sama aku, kalau kamu juga suka sama pak Alif?” tersirat raut keseriusan di mata  Angel, sorot mata itu tak pernah Rasya temukan sebelumnya.
            “Biasa aja kok.” Rasya memejamkan matanya, ada sedikit sesal dihatinya.
            “Biasa aja, tapi kok mata kamu terpejam?” selidik Angel.
            “Hmmm kalau gitu kamu tanya lagi.”
            “Sya, apa kamu suka sama pak Alif?”
            “Biasa aja kok.” Kali ini mata Rasya tak memejam tetapi ia mengalihkan pandangan ke arah kiri.
            “Kalau biasa aja, kenapa tak berani menatapku?”
            “Memangnya kenapa aku harus menatapmu? Baiklah tanya sekali lagi.”
            “Rasya, katakan sejujurnya padaku bahwa kamu tidak suka dengan pak Alif dan tidak bermimpi memiliki hubungan apa-apa kecuali hanya sekedar dosen pada mahasiswanya!”
            Mendengar pertanyaan Angel, telinga Rasya terasa seperti tertusuk oleh linggis begitu menyakitkan. Jantungnyapun berdebar tak karuan, ada rasa amarah yang ingin segera terluap. Ingin ia ledakkan begitu keras, namun hatinya menyirami amarah itu dengan tangisan kecemburuan. Rasya harus mencari-cari kalimat yang  bisa membuat Angel tersekat, bahkan membuat mulutnya tak bisa berbicara lagi. Ah! Bodoh, itu bukan urusan Angel.
            “Saya, Rasya indah kusuma binti Haikal kusuma tidak pernah menyukai Dosen Alif Ilhamana. Puas kamu!”
            Rasya meninggalkan Angel dengan gurat penuh amarah diraut wajahnya. Namun jawaban Rasya tak membuat Angel merasa lega, tanda tanya besar justru menggelayut di ubun-ubunnya.
            Tak diketahui oleh Rasya maupun Angel. Dijalan sempit yang berpaving di sebelah pohon beringin seorang yang mereka kagumi sedang berjalan pelan meninggalkan tempat yang beberapa detik yang lalu menjadi saksi kebohongan besar Rasya. Sakit. Marah. Langkah itu begitu sulit, membuatnya tak segagah sebagai seorang dosen yang memiliki banyak idola.
TIGA BULAN KEMUDIAN
            Jum’at malam yang barokah menjadi saksi malam sakral di tempat tinggal Rasya. Menambahkan kebahagiaan yang tak bisa disamakan dengan hasil belajar memuaskan  selama 3.5 tahun berkuliah. Besok rasa memang bahagia, dia akan mengenakan Toga dan naik ke podium untuk menerima penghargaan karena lulus cepat dengan predikat cumloud dan terbaik ke-3 se-universitasnya. Malam inipun ia jauh lebih bahagia dan tak bisa digambarkan ataupun dibandingkan dengan hal lain.
            Muhammad Iman Tsabata. Lancar mengucapkan ijab qobul dalam bahasa Arab. Iman adalah teman masa SMAnya, mereka tak pernah bertemu semenjak Iman memutuskan meneruskan kuliah di Kairo Mesir. Tiga bulan yang lalu Iman datang kerumah Rasya dan sekaligus melamarnya. Malam ini ia resmi menjadi nyonya Iman setelah wisuda ia akan diboyong  ke Mesir karena Iman harus menyelesaikan kuliahnya.
            Malam sudah terlalu larut. Para tamu undanganpun sudah meninggalkan kediaman Rasya dan mungkin pula telah tertidur pulas. Namun ada satu tamu yang tak berniatan pulang, karena dia juga enggan menjadi tamu walaupun selembar undangan tergengam ditangnnya. Dosen Alif yang tak pernah rela ditinggalkan Rasya semenjak Angel menyukainya.
            Di kamar tidur Rasya, pasangan baru itu berbincang-bincang tentang kenangan dimasa SMA karena semenjak proses lamaran Iman kembali ke Kairo dan kembali lagi seminggu sebelum hari pernikahan. Ada kecangunggan sekaligus keromantisan.
            “Rahasia Tuhan sungguh indah ya mas, setengah tahun aku pacaran sama dosen muda yang kukira dialah jodohku dan aku mati-matian merahasiakan dari Angel sahabatku sendiri dan dari semua, ternyata jodohku temenku sendiri dan surprisenya itu lho... bagaimana caranya aku bersyukur kepada Allah?” tanya manja Rasya pada suaminya.
            Iman menatap mesra istrinya, ia tahu jawaban apa yang pas untuk mengkode Rasya. Tetapi Rasya merasa perlu ditanggapi dengan kalimat, ia ulang lagi pertanyaan yang sama kini dengan nada lebih manja.
“Ayolah mas...dijawab ntar keburu malam!”
“Loh emang kenapa kalau terlalu malam?”
“Aku besok wisuda kan mas, jadi...”
“ehem?”
“Em...ya dijawab...”
“Ehem...dijawab ya?”
            Iman justru diam dan tampak mikir. Tetapi Rasya tak sabar, menurutnya itu pertanyaan gampang bagi Iman seorang mahasiswa Kairo. Rasya tahu, itu hanyalah kode.
            Di luar terdengar suara mobil menderu dan semakin menjauhi rumah Rasya.



Bila pembaca ingin menCOPAS dimohon untuk Izin terlebih dahulu. Bagaimana pun ini adalah karya pernah saya perjuangkan dalam membuatnya.

Terima kasih

Salam Positif!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...