“Asyhadu al laa
ilaaha illa-l-Laah wa Asyhadu anna muhammada-r-Rasulu-l-Laah.” Kalimat syahadat Maria ucapkan dengan lancar
dan sakral. Serta di iringi oleh air mata bahagia.
Detik itu juga Maria telah menjadi
seorang mualaf. Gadis yang sebentar lagi
berusia tujuh belas tahun itu
mantap memutuskan menjadi
gadis muslimah. Dia memang
memiliki darah muslim melalui ibunya, namun ibu memilih menjadi seorang katholik setelah menikah
dengan ayahnya.
“Saya masuk islam
salah satunya juga karena ibu saya, saya ingin ibu kembali memeluk islam,”
cerita Maria di tengah-tengah jama’ah masjid yang menyaksikan keislamannya.
Sebelum
ibu saya menikah dengan ayah yang seorang katholik, beliau adalah seorang muslimah
yang sangat taat. Konon kata tante adik kandung ibu yang sangat mirip dengannya,
ibu sangat rajin sholatnya. Bacaan Al-qur’an ibu sangat merdu membuat semua
orang jatuh cinta. Beliau juga adalah idola karena seringnya memenangkan lomba
qiro’ah. Dan sering ditunjuk menjadi pemimpin pengajian anak muda di
kampungnya. Ilmu pengetahuan ibu tentang islam juga sangat luas, beliau sangat
paham dengan sejarah-sejarah islami dari nabi Adam Alaihi Salam, hingga Wali Songo. Terbukti di rumah nenek banyak
sekali bacaan islami yang dulu dibeli ibu.
Mungkin
memang benar, bahwa cinta itu buta. Buktinya setelah ibu saya mengenal ayah
yang ketika itu seorang dosen muda di tempat ibu kuliah, ibu seolah
terhipnotis. Apa yang selama hidup
telah beliau
genggam erat terlepas begitu saja. Saya tidak tahu dan tantepun juga
tidak tahu apa menariknya dari seorang dosen muda yang menjadi ayah saya itu.
Yang jelas, ayah berjanji pada ibu bahwa beliau tak akan memaksa ibu untuk
mengikuti keyakinan ayah.
Semua keluarga ibu sebenarnya menolak dengan keras
pernikahan beda agama itu. Namun cucuran
air mata ibu akhirnya meluluhkan kakek dan nenek untuk merestui pernikahan ibu.
Apalagi selama hidupnya ibu tak pernah menyusahkan kedua orang tuanya, bahkan
tidak pernah membantah perkataan orang tua. Ketika kuliah, ibu juga bekerja dan
semua gajinya dengan ikhlas ibu limpahkan pada orang tua. Untuk urusan biaya
kuliah sudah ditanggung pemerintah alias mendapat beasiswa.
Melihat
semua pengorbanan dan kebaikan ibu, dengan berat hati akhirnya orang tua
merestui. Akan tetapi tetap dengan syarat: Ibu tetap menjadi seorang muslimah,
titik. Namun setelah aku terlahir di dunia ayah memaksa ibu mengikuti keyakinan
beliau. Jika tidak ayah akan meninggalkan ibu dan melupakan saya selamanya
dengan kata lain akan membuang kami.
Ibu mencintai agamanya, mencintai saya dan tentunya
mencintai ayah. Ya, benar ibu memilih mencintai ayah sepenuhnya dengan ikut
memeluk agama ayah. Setelah aku berumur 15 tahun, tepatnya dua tahun yang lalu
ayah meninggalkan kami semua. Namun ibu tetap memeluk agama ayah. Tetap
mencintai ayah. Apa yang membuat saya memutuskan benar-benar menjadi seorang
muslimah, karena Al-qur’an.
Tidak sengaja, ketika saya masuk ke kamar ibu hendak mencari
buku kumpulan resep memasak. Saya membuka-buka
hampir semua laci yang ada di kamar ibu yang belum pernah kubuka selama ini pun
terpaksa kubuka. Hampir putus asa tak menemukan yang kucari dengan malas aku
membuka laci paling bawah. Agak ragu karena ada kunci yang tergantung beda
dengan yang lain tanpa kunci. Saya
membuka pelan lalu mengoyak-ngoyak tumpukan koran. Tak saya sangka, pada bagian
paling bawah membuat saya seketika terperanjat. Saya tahu, itu adalah Al-qur’an.
Mungkin milik keluarga ibu karena sering menginap di sini. Tapi, letaknya
sangat tersembunyi bukannya Al-qur’an sangat disucikan umat islam. Ah, mungkin
karena tidak digunakan mangkanya ibu menaruhnya di situ. Saya waktu itu tidak
berfikir terlalu jauh dan cuek aja walaupun cukup terkejut. Keesokannya ketika
saya pulang sekolah, saya melihat ibu sedang membuka lembar demi lembar
Al-qur’an. Kenapa ibu membuka-buka al-qur’an, buat apa? Pikir saya ketika itu.
Lalu dengan rasa penasaran saya bertanya pada ibu .
“Loh, itukan Al-qur’an Bu, buat apa Ibu membuka Al-qur’an?”
Tanya saya
penuh heran dan tak terima.
Ibu tak langsung menjawab. Dari sikapnya yang salah tingkah saya menangkap ada
kebimbangan untuk menjawab. Lalu ada setetes air bening yang keluar dari mata
bulatnya. Saya menjadi semakin bingung dan tak mengerti. Saya bertanya lagi,
“Loh kok ibu menangis, kenapa?”. Lagi-lagi ibu tak menjawab pertanyaan saya. Yang
membuat saya terkejut lagi ibu tiba-tiba melantunkan ayat suci Al-qur’an dengan
sangat merdu. Detik itu juga saya jatuh cinta dengan Al-qur’an. Lalu saya
bertanya lebih rinci lagi.
“Ibu masih bisa membaca Al-qur’an, Maria pikir ibu sudah
melupakannya”
Saat itu ibu terdiam beberapa saat lalu menjawab jujur. “Ibu
tak bisa melupakannya sayang, Ibu menyimpan Al-qur’an ini tanpa sepengetahuan
ayahmu dan selama lima belas tahun ibu tak membaca, setelah ayahmu meningal
baru ibu kembali membacanya.”
Dalam hati saya tidak bisa menerima alasan ibu. Karena
selama ini yang saya peluk adalah khatolik dan saya sudah menyatu dengan Tuhan
saya. Lalu saya tanyakan lebih rinci lagi. “Apa Ibu ingin kembali memeluk
islam?”
Ibu kembali menangis dan kali ini tersedu-sedu. Saya merasakan
ada rasa kerinduan yang begitu dalam pada islam dan cinta begitu besar pada
ayah.“Keinginan itu ada, tapi Ibu sudah berjanji pada ayahmu dan Ibu tidak akan
menghianati ayahmu,” itulah jawaban ibu yang sampai sekarang tak saya mengerti.
Setelah percakapan
itu, saya rajin ke rumah tante untuk menanyakan keislaman ibu. Mengapa ibu
dahulu bisa menjadi seorang katholik, padahal semua keluarganya muslim.
Mendengar cerita tante, saya ingin protes kepada ibu tentang berpalingnya
beliau dari islam tapi tante mencegahku.
“Islam tidak memaksa, Maria.” Itulah kata tante. Dan tante menunjukkan terjemahan surah
al-kafirun. Di situ saya mulai berpikiran, islam begitu memberikan
kebebasan. Agama yang indah.
Diam-diam saya mempelajari islam dan aktif bertanya pada
tante tentang islam. Serta sering berkunjung ke rumah kakek-nenek untuk sekedar
membaca buku-buku islami yang ternyata koleksian ibu. Saya juga tidak malu
berdiskusi dengan teman-teman untuk memperdalam ilmu keislaman saya. Senangnya,
teman-teman sangat antusias menjelaskan semua yang saya tanyakan. Saya juga
tergerak untuk belajar membaca Al-qur’an. Adalah Anna teman dekat saya yang
dengan sabar mengajari saya dari mulai mengenal huruf hijaiah hingga menghafal surah-surah pendek.
Jika saya di hari itu sedang beruntung dan bisa dengan
mudah menangkap apa yang diajarkan Anna, saya mendapat hadiah yaitu bisa
mendengarkan suara emasnya. Memang itulah yang saya tungu-tungu dari Anna. Secara
jujur saya mengatakan sangat menyukai caranya membaca Al-qur’an.
Tidak
ada keinginan untuk menutupi semuanya dari ibu. Sejujurnya saya ingin ibu tahu
kalau saya tertarik dengan agama yang dulu beliau anut. Tapi saya tidak berani
takut kalau ibu marah. Sehingga tetaplah saya bersembunyi belajar islam dengan
tanpa sepengetahuan ibu. Tapi ternyata upaya saya gagal untuk menutupi semua
dari ibu.
Ceritanya, seminggu yang lalu saya di kamar sedang
berusaha menghafal surah An-nnas. Aku
memejamkan mata, konsentrasi. Lupa,
di tengah-tengah hafalan aku terlupa ada rasa kesal yang
mendera. Kenapa susah banget, keluhku. Tiba-tiba suara seseorang menuntun saya
untuk kembali mengingat hafalan, suara itu, ibu. Beliau duduk di samping menuntun
hafalan saya dengan mata berkaca-kaca. Saya langsung memeluk ibu tanpa berkata dan
air matapun ikut terjun entah karena takut, terharu atau bahagia.
“Kamu mencintai islam Nak?” Tanya ibu dengan suara lirih. Aku hanya mengangguk
pelan, terus meneteskan air mata.
“Ibu tahu, akhir-akhir ini kamu banyak belajar tentang
islam dari tante Aisyah dan detik ini ibu semakin yakin bahwa kamu tidak
main-main dengan agama islam. Jika kamu benar-benar yakin dengan pilihanmu,
peluklah islam sebagai keyakinan dan agamamu. Islam agama yang indah, jika kamu
sudah memeluknya jangan sampai kamu main-main dengan islam, ibu mendukung
apapun keputusanmu,” itulah pesan ibu, yang akhirnya membuat saya memutuskan
untuk menjadi seorang mua’alaf.
Cerita
yang tak singkat dari Maria membuat semua jama’ah yang ikut menyaksikan
keislamannya terharu bahkan di antara mereka ada yang menangis. Sungguh hari
itu menjadi sejarah terpenting di dalam hidupnya.
Semenjak Maria menjadi mu’alaf hatinya selalu terasa
sejuk. Kebersamaan dengan teman-temannya sangat terasa karena kini ia bisa
shalat dan mengaji bersama. Namun terlepas dari semua itu, setiap ia
melaksanakan shalat air matanya bercucuran menyesali ibu yang tak mengikuti
jejaknya. Do’a selalu terpanjat dari bibirnya, agar ibu kembali menjadi seorang
muslimah yang didambakan keluarga dan masyarakat yang mengenalnya.
Maria
tak pernah secara langsung mengungkapkan keinginannya secara langsung. Tetapi
walau begitu, ibu pasti mengetahui karena Maria menulis keinginanya itu di kaca
lemarinya. Setiap ibu masuk ke kamarnya pasti ibu telah membaca keinginanya,
namun sekali lagi ibunya tak bisa menghianati ayah. Ibu lebih mencintai ayah
daripada agamanya dulu.
Perubahan
awal yang dilakukan Maria adalah menyortir baju-baju yang tak pantas dipakai
oleh seorang muslimah. Menyulap kamarnya dengan tulisan-tulisan kaligrafi.
Membuat perpustakaan pribadi di kamarnya dengan buku-buku koleksi barunya dan
semua tantang islam. Mencicil koleksian baju muslim serta kerudung, walau Maria
belum sepenuhnya menutup aurat dengan berhijab. Hanya di saat ia belajar ngaji,
mengunjungi pengajian dan acara keluarga saja baru ia mengenakan kerudung.
Semangat
semakin mencintai islam justru datang dari ibu yang bukan seagama dengannya. Orang
yang pertama kali mengajari Maria untuk mengenakan kerudung adalah ibunya. Pujian cantik, anggun ketika Maria
mengenakan kerudungpun dengan tulus keluar dari bibir ibu. Ketika Maria mulai menunda-nunda shalat, ibu dengan cerewetnya mengingatkan
dan menasehati Maria seolah sedang mendengar ceramah ustadjah.
Bacaan Al-qur’an
Maria pun semakin indah. Semua itu karena ibu. Ada waktu wajib yang ibu terapkan
untuk Maria belajar mengaji, yaitu setelah shalat magrib. Tapi bukan ibu yang
mengajari Maria mengaji, dengan khusus ibu meminta seorang ustadjah muda untuk
mengajari Maria mengaji. Jika Maria malas, ibunya akan marah. Inilah kadang
yang membuat Maria menangis di depan ustadjahnya. Tangis itu karena ibu selalu
menyemangati agar ia menjadi wanita yang sholeha tetapi ibunya sendiri murtad. Hanya
keajaiban yang mampu mengubah semuanya.
“Ibu, tadi Maria menangis lagi kepada saya, perihal
keinginan Maria untuk ibu bisa kembali masuk islam. Karena semakin ibu
mendukung keislamannya, Maria semakin sedih Bu. Dengan semua sikap yang Ibu
terapkan pada Maria, saya bisa menangkap bahwa sebenarnya ibu merindukan
masa-masa di mana Ibu berjaya sebagai seorang muslim, benarkah itu Bu?”
Tanpa sepengetahuan Maria, ustadnya menyampaikan keluh
kesahnya pada ibunya. Tapi diam-diam Maria
mendegar percakapan itu. Lagi-lagi air mata yang mewakili perasaannya. Ibunya
hanya diam, tak lama kemudian sedikit demi sedikit air bening terjun dari kedua
sudut matanya.
“Benar sekali ustadjah, saya hanya mampu membalas rindu
itu dengan dukungan penuh yang saya berikan pada Maria. Bangga melihat Maria
shalat dan mengaji. Dan Saya tak bisa berbuat apa-apa, janji kepada ayah Maria lah
yang selalu saya ingat. Saya tidak bisa menghianati janji itu,”
“Bisa, janji itu bukan janji kepada Allah. Ibu, Maria saja bisa melakukan mengapa Ibu begitu
lemah…? Kasian Maria Bu, Maria telah menemukan kebenaran dan dia ingin ibunya juga
demikian,”
“Entahlah ..”
Maria
tak kuasa lagi mendengarkan percakapan antara ibu dan
ustadjahnya. Yang maria tangkap, ibu tetap tak ingin menghianati ayahnya.
Artinya Maria tak akan
pernah bisa shalat berjama’ah bersama ibunya, hanya akan menjadi mimpi.
***
15
maret 2014. Tepat hari ulang tahun Maria yang ke tujuh belas tahun. Tidak ada yang special di hari itu, handphone Maria pun juga sepi dari
ucapan selamat. Tapi jangan salah, di media sosial ratusan ucapan selamat ada di dinding facebooknya. Ibu pun yang biasanya
menjadi orang pertama mengucapkan dan memberinya hadiah dari pagi tidak
terlihat. Mungkin di pasar atau ke gereja kan ini hari minggu, pikir positif Maria untuk menghibur diri.
Hari sudah siang, ibu belum
menunjukkan kemunculannya. Tak biasanya juga teman-temannya mengabaikan ulang
tahunnya apalagi ini ulang tahun pertama sebagai seorang muslimah. Untuk menghibur diri Maria membuat kue bolu agar nantinya
bisa dinikmati oleh ibu dan ustadjahnya sebagai rasa syukur pertambahan usia. Eits
bukan pertambahan tetapi berkurangnya jatah hidup.
“Happy birth day….,” teriak teman-teman Maria yang tiba-tiba
datang mengejutkan.
“Selamat ulang tahun Maria, cieh…udah tujuh belas tahun
nih,” ucap Anna sahabatnya yang bersuara emas itu.
“Sorry ya, kita gak ada lilin karena tiup lilin gak ada
dalam ajaran islam, iyakan say…, dan hadianya individu menyusul ya, ini hadiah
titipan ibu kamu say…” tambah temannya
yang lain.
“Thanks banget sahabat-sahabatku kekasih Allah, aku gak
mengharap hadiah kalian. Doa
lebih utama bagiku,”
“Eh eh bentar! dari ibu, terus ibu mana?”
“Nan-nan-ti juga pulang,”
Jawab Anna sedikit terbata.
Maria bingung. Aneh sekali ibu menitipkan hadiah kepada
teman-temannya. Sebenarnya ibu kemana. Kenapa lama sekali kalaupun ke pasar
atau ke gereja, gelisah Maria. Namun kegelisahan itu tak lama, Anna mengoleskan
krim ke muka Maria alhasil balas membalas dan semua ikut saling mengoleskan ke
muka Maria. Seru sekali.
“Maria buka kado dari ibumu dong, penasaran nih.” Suruh Anna.
“Kalian ketemu ibu di mana? Dari
tadi ibu gak ada.” Maria semakin tak
mengerti di balik ini semua.
Semua serempak diam. Menutupi sebuah rahasia yang tak
sama sekali Maria pahami. Annalah yang pertama kali memecahkan kebekuan, “Tadi
kami ketemu di… depan gang sana sedang... ah kamu buka saja kadonya nanti pasti
kamu tahu.”
“Apa-apaan
sih kalian, pakai rahasia-rahasiaan segala. Oke aku buka.” Maria segera membuka
kado dari ibunya diliputi rasa penasaran yang tak karuan.
Dua sajadah berwarna putih bersih dengan gambar Ka’bah. Itulah hadiah dari ibu. Tapi yang menjadi aneh, mengapa
dua sajadah? Tak lama kemudia ibu datang dengan tampilan yang sangat berbeda.
Ibu terlihat begitu cantik, bersinar dan menyejukkan. Yang membuat ibu berbeda
adalah gamis putih lengkap dengan kerudung putih menutupi kepalanya. Sontak
tangis Maria pecah. Ia langsung
berlari menghampiri ibu. Bersimpuh di kaki ibu sambil tersedu-sedu.
Terima kasih telah membaca. Bila ingin menyalin, mohon izin terlebih dahulu karena ini adalah karya yang sempat saya perjuangkan.
Salam Positif!
Komentar
Posting Komentar