“Nayla, ini sudah malam kok masih disini?”
Suara
ayah membuat Nayla
sigap menghapus sisa-sisa air bening yang menemaninya dalam kebisuan. Ia tak
lagi menatap tajam langit yang memberinya kedamaian. Tatap matanya beralih pada laki-laki yang selalu
memberinya kekuatan dalam keterpurukan hidupnya. Bibirpun Nayla paksakan
menyungging walau segumpal sesak memenuhi dadanya.
“Nayla...”
Ayah duduk di sebelah Nayla begitu dekat. Menggengam erat
tangannya. “Ayah tahu, tapi Nay...”
Hening. Terlihat ayah menarik nafas panjang namun tak jua
melanjutkan kalimatnya. Ayah tahu bahwa anaknya tak perlu dinasehati lagi
karena Nayla telah tumbuh menjadi gadis yang kuat. Namun, rasa ibanya selalu
mengalahkannya. Tak mau menangis di depan Nayla. Apalagi menangis di saat Nayla
butuh pundaknya. Diam dan menatap langit mungkin adalah pilihan jitu ayah
menutupi sesak dalam dadanya. Ada genangan air di kelopak mata ayah yang tertangkap
oleh Nayla.
“Ayah...”
Nayla memecahkan keheningan.
“Kalau ayah ingin menangis, menangislah. Selama dua belas
tahun ayah selalu berusaha menghadirkan senyum kekuatan pada Nay. Nayla
bukan anak delapan tahun lagi yah...”
Jika yang bicara bukanlah Nayla anak satu-satunya.
Jika tadi ayah tidak duduk di sebelah Nayla. Jika Nayla tak menyinggung soal
bundanya. Jika…jika dan jika. Ayah tak akan sebeku ini. Pertahanannya
terkalahkan oleh kekuatan dahsyat Nayla.
Ayah pun
pecah. Berusaha menahan air
yang terjun dari kedua matanya namun arus terlalu deras. Tatapan ke langitpun
sia-sia, tak bisa membantu membendung air mata. Rapuh, akhirnya ayah mengaku
kalah di depan Nayla satu-satunya orang yang ada di dalam janjinya. Aku tidak akan menangis di depan Nayla.
Mengkhianati bukanlah pilihan ayah, tapi…itulah.
Nayla merengkuh tubuh ayah yang tampak mendadak
berbeda selama dua belas tahun ini, tak berdaya. Tubuh ayah bergetar, itukah
tangis yang selama ini ayah tahan. Harusnya Nayla bisa merasakan suara hati
ayah yang sama terpukulnya dengannya. Nayla sangat kehilangan bunda, tapi ayah pasti jauh lebih kehilangan. Harusnya
Nayla tahu soal itu!
Tangan yang tak lagi mungil meraba pipi ayah dengan
lembut. Jari-jari lentik Nayla perlahan mengusap air mata yang
seolah tak mampu berhenti. Bentuk pemberontakankah
itu?
Ayah
jangan menangis pinta dalam hati Nayla yang tak mungkin ia utarakan detik
ini juga.
“Ayah…”
Ayah
memaksakan senyum, hatinya terlalu teriris.
“Ayah
bukan menangisi bunda sayang. Tapi
ayah sangat bangga dengan anak yang tumbuh berkat didikan bunda.” Bisik ayah,
lirih.
Ayah
berbohong, Nay tahu sampai sekarang ayah merindukan bunda sama seperti Nay.
Kesedihan tak harus abadi. Memang kehilangan
bunda masih begitu terasa hingga kini tetapi saatnya kini Nay menjadi rembulan
di kegelapan malam bagi ayah.
Sedikit ragu Nayla nekat curhat colongan
alias curcol pada ayah mengenai laki-laki yang berusaha mengambil hatinya. Mungkin itulah pilihan
hiburan paling menarik, pendapat Nayla
sedikit memaksa.
Nayla
jatuh cinta. Setidaknya itulah yang bisa di tangkap ayah, dari caranya
bercerita yang dibumbui senyum dengan wajah berseri-seri. Nay bukanlah gadis
kecil lagi yang bisa di ajak kejar-kejaran, main petak umpet, atau
lempar-lemparan bola. Ia sudah mengenal
lawan jenis bahkan sudah pandai
merancang masa depan.
“Dia baik yah, sangat sopan pada
perempuan dan yang Nayla tahu dia penghafal al-qur’an dan…”
“Dan Nay suka sama laki-laki itu,”
ledek ayah sedikit menggoda.
Ekspresi terkejut terlihat jelas di raut muka Nayla. Ia
tersipu.
Ia
ayah, Nayla suka pada bang Aqil, jawab Nayla yang hanya ada di dalam hati.
“Ah ayah…”
“Ayo ngaku sama Ayah, siapa dia dan
kapan mau datang kerumah untuk me-?”
“Stop! Ayah kejauhan…”
Ayah
terlalu membuatnya jengkel karena terus memaksa Nay untuk menceritakan
kehidupan pribadinya. Malu mengakui perasaannya pada ayah, walau paksaan yang
penuh dengan nada menggoda terus ayah gencarkan untuk memojokkan Nay. Ya bukan
Nayla namanya kalau tidak menang dalam menata rapih rahasia yang belum saatnya
di ceritakan pada ayahnya.
“Baiklah,
ayah kalah tapi tetap ayah harus kenal dengan laki-laki itu,”
Nayla
mengangguk dengan mengangkat kedua jempolnya. Ayah masuk kerumah meninggalkan
Nayla yang masih asyik menikmati malam. Ia kembali melamun, menusukkan tatapan
tajam kearah bintang. Binar matanya bercerita. Rindu.
***
“Bunda
di surga,”
Nayla mengatakan dengan ragu. Senyum manis gadis
kecil berumur 8 tahun itu tiba-tiba pudar. Mata indahnya mendadak menumpahkan
butiran bening, tangis itu pun
pecah. Riuhnya sorakan kebanggaan atas suara emas Nayla, berubah menjadi pilu.
Hening.
Pembawa
acara lomba hafalan al-qur’an memeluk Nayla. Menghapus air matanya.
“Nayla sayang…kakak, semua juri dan
penonton menyayangi Nayla, Nayla anak yang hebat, pasti mama bangga di surganya
Allah,” elusan lembutpun mengalir dikepalanya.
Nayla masih diam. Terlihat gadis kecil itu menarik
nafas, memejamkan mata. Ingatannnya berjalan mundur tiga bulan yang lalu,
terakhir kalinya ia berjumpa pada bundanya.
Rumah
sakit Bunda. Detik-detik sebelum bunda meninggal.
Gadis
sekecil Nayla harus memahami ganasnya penyakit yang membuat bundanya beberapa
hari ini menginap di rumah sakit. Kanker rahim stadium lanjut, yang sebenarnya
telah dideritanya semenjak mengandung Nayla. Tapi berkat keajaiban Allah bunda
bisa bertahan selama ini. Untuk sementara rumah Nayla berpindah tempat di rumah sakit. Sepulang sekolah Nayla ke rumah sakit begitupun setelah
ia menyetorkan hafalan Al-Qur’annya pada ustadjah Aisyah. Nayla terpaksa harus
lebih lama di tempat ustadjahnya karena ia tak bisa lagi menghafal bersama-sama
bunda. Di rumah sakit pun bunda terlihat lemas. Terpaksa harus menghafal sendiri PR (pekerjaan rumah) hafalan
yang di berikan oleh ustadjah Aisyah.
“Sayang, selama ini kan bunda dan Nayla sudah
belajar menghafal Al-qur’an bersama. Walau bunda mungkin tak bisa menemani Nayla
untuk menghafal Alqur’an tapi bunda berpesan, tetaplah Nayla menjadi penghafal
Al-qur’an dan lanjutkan hafalan itu sampai jus 30 dan kelak ciptakan anak-anak
penghafal Al-qur’an seperti Nayla.”
Suara bunda mulai terbata-bata.
“Bun-da se-se-lalu di-dekat Nay.”
Nayla mengangguk pelan.
Bunda tersenyum hangat padanya. Tangan lembutnya mengelus
kepala Nayla yang tertutup jilbab putih dan tak lama kemudian kehadiran Jibril
terasa. Subhanallah Nayla memimpin
bunda melafalkan kalimat syahadat dalam nafas yang sudah di ujung tenggorokan.
Ayah, suster, dokter dan seluruh keluarga serempak meneteskan air mata.
Ditambah lagi melihat air mata yang keluar perlahan dari mata bulat Nayla. Semua bisa merasakan kesedihan gadis
belia yang baru saja berumur 8 tahun yang harus menyaksikan bundanya menutup
usia di depan matanya sendiri.
Bunda membeku.
“Bunda.....”
Jerit Nayla pecah. Bocah yang tadi terlihat tegar, kini ia
menjadi begitu tak berdaya. Ayah yang berdiri di belakangnya tak bisa
berbuat apa-apa selain memeluknya. Ayah langsung menggendongnya dengan berusaha menenangkannya
namun Nayla memberontak keras tak mau jauh dari bunda.
Setelah mengecup kening istrinya, ayah segera menutup wajah
bunda dengan kain putih bersih. Namun Nayla
berusaha membuka. Gadis cilik itu menatap nanar kewajah bundanya.
“Bunda...”
Jerit itu melengking lagi dan akhirnya tak ada suara
tangis Nayla lagi. Ia pingsan.
“Nayla
sayang…kenapa kok bengong?” Suara salah satu juri menyadarkan Nayla dari
lamunannya.
“Bunda yang mengajari Nay menghafal Al-qur’an, Nayla
kangen Bunda…”
Suara polos Nayla semakin menyayat terdengar oleh
seluruh penonton. Ayah memutuskan melangkahkan kaki keatas panggung dan mata penonton terbagi
oleh dua pemandangan. Tangis Nayla serta
langkah lelaki yang terlihat menyeka air matanya menuju panggung.
Ayah merengkuh tubuh mungil gadis kecilnya. Mengusap
air mata Nay, ah bukan Nayla
namanya bila tak membanggakan. Ia juga mengusap air mata ayahnya. Mengecup kedua
pipi dan kening ayah. Juri meminta ayah tetap menemani Nayla selama di atas
panggung.
“Kami yakin suara emas Nayla bisa mengantarkan Nayla
menjadi juara, jadi jangan menangis ya sayang…” komentar juri pertama.
Sekarang giliran juri kedua yang berkomentar.
“Benar, subhanallah
Nayla ini hebat sekali masih umur delapan tahun sudah hafal 10 jus beserta
artinya, dengar-dengar Nayla ini setiap menghafal Al-qur’an
sambil memeluk foto bundanya. Bener sayang?”
Nayla mengangguk pelan.
Juri kedua meneruskan
komentarnya.
“Insya Allah nanti Nayla bisa bertemu
bunda di surga, aamiin.”
Teriakan aamiin pun meluncur
ikhlas dari bibir seluruh penonton.
Ayah berbisik pelan di telinga Nayla. “Ingat kata bunda,
Nayla gak boleh nangis, senyum seperti
ayah.”
Nayla mengangkat wajahnya, pelan menyunggingkan bibirnya.
“Terimakasih,”
***
Bulir-bulir bening
dari pojok mata Nayla kembali mengalir pelan. Dua belas tahun berlalu namun
peristiwa pahit itu tak pernah ia lupakan. Nayla tetaplah anak biasa. Walau ia
telah mandiri, tetaplah dia butuh pelukan seorang ibu. Saat sedih ia ingin merasakan di hibur seorang ibu dan saat
menagis ia ingin air matanya di usap oleh bunda. Walau semua itu tetap bisa didapatkan
dari ayahnya satu-satu orang yang setiap hari ia temui di rumah dan selalu ada.
Tapi rasa itu berbeda. Dan lagi, Ayah tetaplah seorang ayah yang tak bisa
menjelma menjadi seorang bunda.
Doa dan pesan di detik sebelum meninggal menjadi motivasi
dalam langkah hidup Nayla. Di usia dua puluh tahun kini Nayla sudah berhasil
menghafal seluruh isi Al-qur’an beserta arti dan maknanya.
Tak hanya menjadi rembulan malam untuk ayah, Nayla juga
menjadi mentari pagi untuk anak-anak di sekitarnya yang ingin belajar Al-qur’an.
Sesuai dengan pesan bundanya pula, di dekat rumahnya ia membangun sebuah gubuk
kecil dan taman bermain, dilengkapi kolam ikan untuk sekedar menyalurkan hobi
bersama ayahnya, memancing. Gubuk itu ia jadikan tempat belajar mengaji untuk
anak-anak di sekitar rumahnya dan sekaligus tempat belajar menghafal Al-qur’an sesuai yang di pesan
bundanya.
“Bunda… Nay rindu…”
Hanya kata yang bisa membalas kerinduannya.
Ah
ya, soal bang Aqil, biarlah Nayla yang melanjutkan ceritanya sendiri. Bagaimana
ia memulai, menjalani dan mengakhiri. Atau tak pernah di mulai, sehingga tak
pernah berakhir. Belum bisa di tebak, karena Nayla masih enggan bercerita
dengan siapa pun
tentang bang Aqil, apa alasannya? Ya, eh… hanya Nayla yang tahu.
Jika pembaca ingin menyalin cerpen ini mohon izin terlebih dahulu. Bagaimana pun ini adalah karya pribadi yang saya buat dengan perjuangan hehehe
Salam Positif!
Komentar
Posting Komentar