Langsung ke konten utama

Bohong

Pernah tidak Sahabat Kisah mendengar "Sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga"? 

Pasti sering ya? 

Saya mau kaitkan pribahasa di atas dengan " Pembohong" atau orang yang suka berbohong, terbiasa berbohong atau pandai memanipulasi fakta.



Berbohong atau menutupi sebuah fakta tidak ada istilah "untuk kebaikan". Kebaikan bukan timbul dari ketidak benaran. Sesuatu yang tidak benar sudah pasti tidak baik. 

Kebohongan kecil yang sering kali disepelekan itulah awal mula kebohongan besar dan memiliki bobot berat. 

Kenapa bisa begitu?

Seseorang yang membiasakan dirinya berbohong akan memiliki keberanian melanjutkan kebohongan berikutnya. 
Mungkin bisa dikatakan awalnya terpaksa karna suatu keadaan. Lalu menganggap keadaan itu bisa diselesaikan tanpa harus katakan jujur. Kemudian keadaan itu semakin rumit sehingga merasa kesulitan menjelaskan apa yang terjadi. Akhirnya memilih menumpuk kebohongan menjadi lebih besar.

Dia menjadi pandai menutupi kebenaran. Bukan tidak berani mengungkapkan kenyataan yang ada. Tetapi kebohongan itu terlanjur menumpuk dan bila diungkap pasti menimbulkan perdebatan, amarah, kecewa bahkan perpecahan. 

Lalu apa yang selanjutnya terjadi? 

Si pembohong akan menggunakan seluruh akal untuk menutupinya. Iya seluruh...lalu syetan membisikinya untuk berbuat semakin bringas. Membuat ia tak merasa bersalah seakan tidak sedang menutupi apapun. Ia menata rapi mulus tak terlihat. Akal liciknya pun bermain main tanpa dosa. 
Bahkan ia rela mengorbankan nama orang lain seperti teman, sahabat patner atau pasangnnya guna menutupi kebenaran. Lebih tepatkan ke arah fitnah. Ngeri ya?

Dia seolah sedang menjadi seorang penulis naskah drama. Tak hanya penulis, ia juga berperan menjadi lakon handal dalam permainannya sendiri. Tak hanya itu ia juga menjadi sutradara dengan mengatur semuanya agar berjalan lancar. 

Tapi... Ada yang dia lupa. Bahwa sepandainya seorang berbohong kebenaran akan tetap muncul diakhir cerita.

Serapat rapatnya menyimpan bangkai pasti akan tercium baunya. Tapi dia lupa di atas sutradara masih ada produser yang lebih berkuasa. Produser yang menentukan drama itu terus diproduksi atau diberhentikan karena ceritanya tak lagi apik. Produser itu Allah SWT. 

Dia lupa ada Allah yang mengawasi setiap gerak geriknya. Oh iya, imannya telah tertutup oleh hati yang kotor jua. 

Bersihkan hati. Kebohongan yang berkali-kali hanya akan membuat orang disekitar tak akan pernah mempercayaimu lagi. Sekalipun kamu sudah benar yang tertanam adalah kamu seorang pembohong.


Ingat ya, tidak ada kebohongan yang baik. Kebohongan pasti kalah dengan kebenaran. Ditutup rapat pun pasti terdapat celah keluar. Dan celah itu yang lambat laun mengungkapkan semua. Karna sesungguhnya seorang yang berbohong terlihat dari perilakunya. 

Jika kamu memiliki feeling yang kuat tentang seseorang yang membohongimu, yakinlah itu benar

Photo Source from google

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...