Langsung ke konten utama

Pena dan Penghapusnya

(photo source : https://id.pngtree.com/freepng/hand-drawn-cartoon-eraser-signing-pen-paper-element_5760069.html)

Tumpukan kertas terselimut sampul tebal berwarna merah didominasi putih. Tergambar kue, pizza, hamburger dan es krim yang membuatnya tampak lucu. Disampingnya tergeletak sebuah pena dan penghapus kecil yang tampak tergerus terus menerus. Iya, penghapus kecil itu sedang istirahat sejenak dari kerja rodinya. Si tuan memperkerjakan tanpa henti untuk menghapus berbagai cerita kehidupannya. Tapi tampaknya tangan si tuan lelah. Ia hanya membeku menatap nanar pada sebuah cerita, tragis.

Berbeda dengan pena yang digunakan saat si tuan bergairah untuk menulis kisah hidupnya. Hari ini pena hanya diletakan tak beraturan begitu saja. Tak satupun huruf keluar dari serbuk hitamnya. Ya, tapi jika dia sudah bertugas menulis rautanpun berkali-kali melancipkan ujungnya. Hingga dia tampak semakin memendek akibat menguak rahasia si tuan.

Si tuan kembali memegang penghapus dengan penuh yakin tanpa ragu sedikitpun. Menggerakkan ke kanan ke kiri kadang juga ke atas ke bawah. Luka yang begitu menyayat hati. Belum kering karna tak pernah diobati dan terus ditempa oleh luka baru. 

Luka itu menggila. Menghipnotis, mempengaruhi pola pikir dan kepercayaan diri. Mental ilness itulah manusia modern menyebutnya. Fisik tak tampak berdarah darah maupun lebam atau biru biru. Bahkan senyum mengembang masih tergambar pada raut muka kepalsuan. Namun, otak penuh dengan tekanan. Pikiran-pikiran negatif yang membuat pusing tanpa henti. Tidur tak pernah nyenyak dan dada terasa begitu sesak. 

Lebih dari setengah perjalanan diisi dengan penghianatan. Kebohongan terus menerus dengan kepiawaian akal liciknya. Penerimaan yang berat tak pernah diindahkan hingga akhirnya menyerah. 

Menyerah tak semerta berhenti begitu saja. Bertahan cukup lama dengan luka tak pernah sembuh. Dengan beban begitu berat. Dada setiap saat sungguh terasa sesak. Tampak kuat namun air mata menbanjir dalam kesendirian.

Memerdekakan diri dari tekanan itulah pilihan terbaiknya.

Kini tlah selayaknya kisah kisah tragis itu dihapus. Bukan tak ingin menerima takdir dari Sang Maha Pengasih. Namun, ingin menghapus jejak luka yang sebetulnya tak pernah bisa. Ikhlas, hanya itu. 

Pena akan menuliskan kisah kisah baru dari bangkitnya si penderita mental ilness. Si tuan yang menciptakan kebagiaanya sendiri dengan lembaran baru. Menjadi manusia baru yang melepas gunungan beban dipundaknya. Menyembuhkan lukanya sendiri dengan pena warna warni. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...