Langsung ke konten utama

Tak Seseder"Hana" Itu

Pemandangan tak seperti biasa terlihat di depan rumah sederhana berasitektur bangunan joglo kuno. Rumah yang didominasi bahan kayu itu memang peninggalan kakek dari Pak Sobrun. Walaupun sudah dua kali dilakukan renovasi Pak Sobrun tak berniat mengubah gaya rumah peninggalan itu. Rumah tua itu memiliki halaman yang luas dengan tanah yang ditutupi oleh rumput gajah mini. Membuat sejauh mata memandang hamparan hijau luas bagaikan replika padang rumput di desa Pak Sobrun.

Rumah Pak Sobrun pagi ini terlihat lebih segar kala dipandang. Ternyata tak hanya isinya yang membuat rumah itu menjadi elok karena kecantikan anak pak Sobrun. Hana, anak satu-satunya Pak Sobrun memang memiliki paras begitu rupawan. Kulitnya kuning bersih dan senyumnya semanis madu alami. Semua sudah tak asing lagi dengan semua keistimewaan yang dimiliki oleh Hana. Dia piawai dalam segala hal termasuk mempercantik halaman rumahnya.

Seminggu yang lalu Hana tengah asyik menanam mawar di pot yang lumayan besar dengan tanaman sekecil itu. Dia juga membuat mulutnya bernyanyi dengan lagu-lagu pop, dangdut dan kadang khosidahan. Matanya tampak berbinar bahagia menatap bunga mawar yang ditanamnya. Sambil sesekali membisikkan suatu harapan yang seolah di"ia"kan oleh mawar itu. Setiap pagi, Hana menyiram mawar kebanggaannya itu dengan rona bahagia juga tak lupa mendendangkan lagu. Kala malam di bawah taburan gugusan bintang di angkasa, Hana menatap mawarnya yang kian subur. Ntah mengapa tatapan Hana selalu berbeda dengan pagi hari. Malam membuat air matanya selalu meleleh dengan mulusnya. Tapi tak mengurangi kecantikan parasnya karena ia selalu tak lupa menyunggingkan bibir.

Kasih tulus yang ia sematkan pada mawar yang bisa mengubah senyum menjadi luka itu berbuah sangat manis. Mentari pagi ikut bahagia menyambut mawar merah yang merekah begitu elok. Memiliki tangkai gemuk, duri yang tak begitu tajam dan bunga yang besar.

Hana tak sabar menghampirinya kala tak sengaja melihat mawarnya dari jendela kama. Kakinya mantap melangkah dengan lengkap membawa gunting, botol bekas yang sudah di iris jadi dua, dua pot yang sudah terisi tanah serta air yang diletakkan dalam botol. Lekat-lekat Hana memandang mawar merah sempurna di hadapannya. Memetik daun-daun coklatnya dan memotong tangkai yang sudah tua untuk ditanam kembali dalam pot baru. Terakhir, Hana memotong tangkai yang ujungnya terdapat mawar. Iya, mawar yang baru merekah sempurna itu Hana potong dan diletakkan pada botol yang telah terisi air. Mawar itu akan mempercantik meja kamarnya. Juga membuat harum seantero ruang tidur luasnya. Bukan Hana tak ingin mawarnya menjadi semakin indah dengan kemunculan mawar-mawar indah ditangkai yang lain. Tetapi memang telah menjadi rencana Hana untuk memetik mawar yang pertama kali merekah dari mawar yang kini menjadi malang itu. Rupanya mawar itu adalah simbol janji dari kekasih Hana.

Jaka, kekasihnya bersua padanya sambil membawa pot kecil dengan tangkai mawar yang baru di tanamnya. Pemuda berkulit putih itu meminta Hana menunggunya untuk bertamu dan melamar setelah urusannya selesai. Katanya, dia akan meninggalkan semua wanita yang menyukainya karena memang tak ada hubungan apa pun. Jaka memang memiliki banyak penggemar sampai lebih dari lima kali ia telah dilamar perempuan. Dari yang sangat kaya hingga cantiknya melebihi Hana, tapi hati Jaka hanya untuk Hana. Orang tua Jaka memintanya untuk tidak memberatkan Hana dan menyuruh melirik wanita-wanita yang menyukainya. Alasannya, karena Hana terlahir dari seorang ibu yang belum bersuami dengan Pak Sobrun. Tapi Hana tumbuh menjadi perempuan tulus dan lembut walau tanpa kasih ibu karena pergi entah kemana.

Jaka meminta Hana memindahkan mawar ke pot yang lebih besar. Jika mawar telah berbunga maka Hana harus memetik dan menaruhnya di kamar. Biarkan kelopaknya jatuh satu per satu hingga tak tersisa barulah Jaka akan datang. Hana terus memikirkan janji itu. Ia begitu takut jikalau Jaka tak memenuhi janjinya.

Kelopak mawar yang tak lagi berwarna merah segar jatuh satu persatu. Hana masih memiliki keyaninan akan janji Jaka. Ia masih menunggu. Perasaannya selalu tak karuan melihat kelopak yang kian berkurang. Harusnya ia bahagia tetapi mengapa hatinya semakin gundah. Hana juga tak tahu bagaimana menjelaskan rasa itu.

Hampir empat puluh hari berlalu. Kelopak tersisa satu. Hana tahu ia harus menghubungi Jaka untuk datak ke rumahnya esok hari. Namun hati Hana enggan melakukannya.
Kelopak yang belum jatuh itu Hana jatuhkan sendiri dengan lembut. Ia genggam dengat erat hingga hancur menjadi debu yang siap ditiup. Sedetik kemudian kelopak itu bertebaran dan hilang terbawa angin malam.

Hilangnya kelopak itu menandakan hilangnya kepercayaan Hana pada Jaka. Hana yakin Jaka akan datang bila ia mengabari yang sebenarnya. Entah datang dengan kebahagiaan karena keikhlasan orang tua Jaka menerimanya atau luka karena alasan masa lalu Hana.
Pikirnya, yang entah itu egois atau prinsip yang bagus atau sekedar keras kepala. Harusnya Jaka tak membuat janji yang harus membuat ia menunggu seperti itu. Jika Jaka ingin memiliki Hana seutuhnya harusnya tak memikirkan wanita-wanita penggemarnya. Tentang orang tuanya, biarlah mereka mendengar langsung dari tetangga sekitar bukan membandingkan dengan yang lain. Wanita lain memiliki masa lalu bagus tetapi tak setulus Hana, bukan itu yang Hana harapkan.

Cinta bukanlah seseder"hana" yang difikirkan. Perjuangannya berbeda dari mendapatkan apa pun termasuk rezeky dari yang Maha Tinggi. Hana tidaklah rumit. Ia hanya ingin menjadi satu-satunya.



Pertama dipublikasikan di FB dengan akun Maria Umma Dew
Jika ingin mengutip mohon izin dulu ya...
Ig: @dewummaria
Fb: Maria Umma Dew

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...