Pemandangan tak seperti biasa terlihat di depan rumah
sederhana berasitektur bangunan joglo kuno. Rumah yang didominasi bahan kayu
itu memang peninggalan kakek dari Pak Sobrun. Walaupun sudah dua kali dilakukan
renovasi Pak Sobrun tak berniat mengubah gaya rumah peninggalan itu. Rumah tua
itu memiliki halaman yang luas dengan tanah yang ditutupi oleh rumput gajah
mini. Membuat sejauh mata memandang hamparan hijau luas bagaikan replika padang
rumput di desa Pak Sobrun.
Rumah Pak Sobrun pagi ini terlihat lebih segar kala
dipandang. Ternyata tak hanya isinya yang membuat rumah itu menjadi elok karena
kecantikan anak pak Sobrun. Hana, anak satu-satunya Pak Sobrun memang memiliki
paras begitu rupawan. Kulitnya kuning bersih dan senyumnya semanis madu alami.
Semua sudah tak asing lagi dengan semua keistimewaan yang dimiliki oleh Hana.
Dia piawai dalam segala hal termasuk mempercantik halaman rumahnya.
Seminggu yang lalu Hana tengah asyik menanam mawar di
pot yang lumayan besar dengan tanaman sekecil itu. Dia juga membuat mulutnya
bernyanyi dengan lagu-lagu pop, dangdut dan kadang khosidahan. Matanya tampak
berbinar bahagia menatap bunga mawar yang ditanamnya. Sambil sesekali
membisikkan suatu harapan yang seolah di"ia"kan oleh mawar itu.
Setiap pagi, Hana menyiram mawar kebanggaannya itu dengan rona bahagia juga tak
lupa mendendangkan lagu. Kala malam di bawah taburan gugusan bintang di
angkasa, Hana menatap mawarnya yang kian subur. Ntah mengapa tatapan Hana
selalu berbeda dengan pagi hari. Malam membuat air matanya selalu meleleh
dengan mulusnya. Tapi tak mengurangi kecantikan parasnya karena ia selalu tak
lupa menyunggingkan bibir.
Kasih tulus yang ia sematkan pada mawar yang bisa
mengubah senyum menjadi luka itu berbuah sangat manis. Mentari pagi ikut
bahagia menyambut mawar merah yang merekah begitu elok. Memiliki tangkai gemuk,
duri yang tak begitu tajam dan bunga yang besar.
Hana tak sabar menghampirinya kala tak sengaja melihat
mawarnya dari jendela kama. Kakinya mantap melangkah dengan lengkap membawa
gunting, botol bekas yang sudah di iris jadi dua, dua pot yang sudah terisi
tanah serta air yang diletakkan dalam botol. Lekat-lekat Hana memandang mawar
merah sempurna di hadapannya. Memetik daun-daun coklatnya dan memotong tangkai
yang sudah tua untuk ditanam kembali dalam pot baru. Terakhir, Hana memotong
tangkai yang ujungnya terdapat mawar. Iya, mawar yang baru merekah sempurna itu
Hana potong dan diletakkan pada botol yang telah terisi air. Mawar itu akan
mempercantik meja kamarnya. Juga membuat harum seantero ruang tidur luasnya.
Bukan Hana tak ingin mawarnya menjadi semakin indah dengan kemunculan
mawar-mawar indah ditangkai yang lain. Tetapi memang telah menjadi rencana Hana
untuk memetik mawar yang pertama kali merekah dari mawar yang kini menjadi
malang itu. Rupanya mawar itu adalah simbol janji dari kekasih Hana.
Jaka, kekasihnya bersua padanya sambil membawa pot
kecil dengan tangkai mawar yang baru di tanamnya. Pemuda berkulit putih itu
meminta Hana menunggunya untuk bertamu dan melamar setelah urusannya selesai.
Katanya, dia akan meninggalkan semua wanita yang menyukainya karena memang tak
ada hubungan apa pun. Jaka memang memiliki banyak penggemar sampai lebih dari
lima kali ia telah dilamar perempuan. Dari yang sangat kaya hingga cantiknya
melebihi Hana, tapi hati Jaka hanya untuk Hana. Orang tua Jaka memintanya untuk
tidak memberatkan Hana dan menyuruh melirik wanita-wanita yang menyukainya.
Alasannya, karena Hana terlahir dari seorang ibu yang belum bersuami dengan Pak
Sobrun. Tapi Hana tumbuh menjadi perempuan tulus dan lembut walau tanpa kasih
ibu karena pergi entah kemana.
Jaka meminta Hana memindahkan mawar ke pot yang lebih
besar. Jika mawar telah berbunga maka Hana harus memetik dan menaruhnya di
kamar. Biarkan kelopaknya jatuh satu per satu hingga tak tersisa barulah Jaka
akan datang. Hana terus memikirkan janji itu. Ia begitu takut jikalau Jaka tak
memenuhi janjinya.
Kelopak mawar yang tak lagi berwarna merah segar jatuh
satu persatu. Hana masih memiliki keyaninan akan janji Jaka. Ia masih menunggu.
Perasaannya selalu tak karuan melihat kelopak yang kian berkurang. Harusnya ia
bahagia tetapi mengapa hatinya semakin gundah. Hana juga tak tahu bagaimana
menjelaskan rasa itu.
Hampir empat puluh hari berlalu. Kelopak tersisa satu.
Hana tahu ia harus menghubungi Jaka untuk datak ke rumahnya esok hari. Namun
hati Hana enggan melakukannya.
Kelopak yang belum jatuh itu Hana jatuhkan sendiri
dengan lembut. Ia genggam dengat erat hingga hancur menjadi debu yang siap
ditiup. Sedetik kemudian kelopak itu bertebaran dan hilang terbawa angin malam.
Hilangnya kelopak itu menandakan hilangnya kepercayaan
Hana pada Jaka. Hana yakin Jaka akan datang bila ia mengabari yang sebenarnya.
Entah datang dengan kebahagiaan karena keikhlasan orang tua Jaka menerimanya
atau luka karena alasan masa lalu Hana.
Pikirnya, yang entah itu egois atau prinsip yang bagus
atau sekedar keras kepala. Harusnya Jaka tak membuat janji yang harus membuat
ia menunggu seperti itu. Jika Jaka ingin memiliki Hana seutuhnya harusnya tak
memikirkan wanita-wanita penggemarnya. Tentang orang tuanya, biarlah mereka
mendengar langsung dari tetangga sekitar bukan membandingkan dengan yang lain.
Wanita lain memiliki masa lalu bagus tetapi tak setulus Hana, bukan itu yang
Hana harapkan.
Cinta bukanlah seseder"hana" yang
difikirkan. Perjuangannya berbeda dari mendapatkan apa pun termasuk rezeky dari
yang Maha Tinggi. Hana tidaklah rumit. Ia hanya ingin menjadi satu-satunya.
Komentar
Posting Komentar