Langsung ke konten utama

Pengingkaran Yang Tak Dusta

Di jalan khas desa yang lumayan terpencil, cukup terjal dihiasi dengan batu-batu segede kelapa muda. Becek juga menyertainya. Kadang menanjak membuat kaki ini berat melangkah dan ngos-ngosan. Lalu menurun hingga terpaksa membuat kaki terlari hingga sulit diberhentikan, disitulah aku berjalan berdua denganmu. Lagi.
    Desa ini masih tampak sama tak banyak yang berbeda dari lima tahun lalu, warganya juga masih sangat ramah pada kami walau telah lama tak berjumpa. Hanya satu yang mencolok menunjukkan bahwa desa kecil disudut selatan kabupaten Malang yang bernama Bandungrejo ini yaitu lampu listrik yang tergantung ditiang-tiang beton setinggi tiga meter.
Lampu-lampu bertiang beton itu adalah salah satu jasa kami pada 5 tahun lalu. Aku dan seorang yang berjalan denganku dan lebih sering berjalan mendahuluiku itu adalah penyelenggara bakti karya mahasiswa. Kami berbaur bersama warga, bercocok tanam, memandikan sapi, kerbau, kambing dan sekaligus mencari rumput untuk makanan mereka. Tak ketinggalan juga mendadak menjadi guru TK-SMP. Kami memberikan banyak peninggalan bermanfaat, salah satunya lampu listrik bertiang beton itu.
Lima tahun yang lalu dan masih kunikmati kenyamanannya hingga sekarang. Tetapi kamu...
Bruk!
Ah! Sial. Aku terpleset. Dan kamu terus berjalan, sama sekali tak memutar kepala sekedar memastikanku baik-baik saja. Dulu kamu begitu melindungiku. Ingat! Itu dulu, 5 tahun lalu.
“Ayolah Vin, cepat berdiri enggak usah manja. Sudah tahu jalanan becek, pake nglamun segala!”
Dingin. Kamu sama sekali tak pedulikanku, menoleh saja kamu enggan. Ya, memang aku tak berhak lagi mengharapkan perhatianmu. Kesalahanku padamu pasti membuatmu sangat terluka. Tak hanya sekedar terluka, menaggal hingga jasadmu tertelan bumi. Aku siap kamu membenciku, jika itu membuatmu sedikit saja lega.
Aku mengikutimu tanpa mengeluh sedikitpun. Jika aku boleh meminta sesuatu, aku ingin duduk. Kakiku terasa semakin sakit, mungkin terkilir akibat terpeleset tadi tapi biarlah sakit dikakiku hanya sebuah debu dibanding dengan sakitmu.
“Empat tahun setengah Vin...”
Kalimat yang terasa berat keluar dari bibirmu, adalah sentakan keras untukku. Jika di dunia ini ada wanita yang paling merasa bersalah karena kebodohannya. Wanita tak tahu terimakasih dicintai begitu tulus. Yah! Semua ialah aku. Aku wanita bodoh dan tak tahu terimakasih itu.
Aku hanya bisa menunduk. Dalam hati kecilku, kuingin memelukmu tapi itu tak mungkin kulakukan.
“Kamu ingat gubuk mungil di tengah sawah itu?”
mataku mengikuti arah telunjukkmu.
Gubuk? Ingatanku dengan cepat berlari mundur  menjemput kenangan yang mungkin pernah kami tanggalkan di gubuk mungil itu. Gubuk sangat sederhana itu adalah tempat kami berteduh dari panas, istirahat dari bertani seharian dan makan bekal. Dan janji.  Namun ada satu yang kulupa, di sana ada dua gubuk mungil. Dimanakah aku melakukan semua itu? Gubuk yang dikelilingi tanaman tomat atau cabai atau apalah itu nama tanamnnya. Seingatku dulu padi. Mungkin kamu tahu.
“Ia...aku ingat, gubuk di tengah tanaman cabai itu ya?”
Kupandang lekat wajahmu, berharap ada senyum yang menghinggap di sana. Kamu menoleh kearahku, memandangku dengan tatapan sinis. Oh Tuhan, aku salah bicara.
“Bukan gubuk yang itu, hei Vin kamu itu lulusan terbaik sarjana pertanian kayak gitu dibilang cabai!” Kamu sempatkan mencubit hidungku dengan keras sebelum membenarkan dugaanku.” Itu tanaman terong!”
Seharusnya ku tolak mentah cubitan khasmu itu, tapi aku menikmati. Biarlah ini yang terakhir terasa manis.
“Hei...sakit Van, lagian kan jauh mataku tak bisa menjakau.”
“Alasan!”
Menjulurkan lidah sambil mengerrnyitkan dahi dan memejamkan satu mata, itu caraku mengejekmu agar mukaku terlihat lucu dihadapanmu. Tetap, mukamu sinis. Entah bagaimana caraku bisa mengembalian Vandy yang humoris dan selalu tersenyum itu. Aku tahu itu tidak akan mungkin terjadi, kekecewaan yang terlalu besar itulah penyebab keabadian sinismu. Tetapi tak ada kebahagiaan melebihi aku bisa berjalan lagi denganmu di hari ini, di tempat penuh kenangan di antara kita. Sepenggal sejarah kehidupan kita berdua telah terukir manis di desa ini, dan akupun sangat bahagia kau mengingat cuil demi secuil kisah kita.
“Vin, jika kamu menemuiku kesini hanya untuk melamun mending kamu tinggalkan aku sendiri,”
“Maaf”
Aduh bodoh sekali aku membuatmu semakin marah padaku. Seharusnya aku tak membawa perasaanku disaat yang langka seperti ini, tetapi hatiku memang tak bisa berbohong.
Vandy menghentikan langkahnya tepat dihadapanku, matanya bagaikan pedang samurai tepat menusukkan di kedua mataku. Entah apa yang kulihat, di sana aku menemukan kemarahan sekaligus kesedihan yang begitu menyakitkan. Dia memaku tanpa berbicara. Itulah tatapan yang telah kurindukan, yang kini akan menjadi dusta bila kutatap dengan mesra. Tapi aku tak sanggup berlama-lama menatap mata itu, jangan! Jangan ada air mata di matamu.
“Vin, di gubuk itu kita telah berjanji akan selalu bersama walau ombak besar akan berusaha mengombang-ngambingkan hubungan kita, kamu juga berjanji akan selalu denganku walau dunia ini melarang kita bersama. Ia kan Vin, seperti itukan janjimu?”
Hatiku berdebat. Haruskah aku mengiyakan? Haruskah aku membenarkan? Haruskah menjawab, apapun jawaban yang akan aku keluarkan akan membuat hatiku sakit terlebih hatimu yang sangat mengharapkan janji itu.
“Jawab Vin!”
Vandy membentakku dengan keras, selama hidup aku mengenal Vandy tak pernah kudengar suara keras dan menakutkan dari mulutnya. Tetapi ini adalah perlakuan yang sangat pantas untukku, bahkan jika ia sampai tega menamparku aku tak akan terkejut ataupun marah. Aku berharap dia melakukan apapun yang membuatnya puas dan senang, agar aku tak terus merasa bersalah.
Aku juga tak akan terkejut bilapun kamu menyebutku dengan pembohong, pengkhianat ataupun pendusta setelah apa yang kulakukan padamu. Karena aku tahu kamu sudah melakukan segalanya untukku dan hubungan kita. Kamu berjuang mempertahankan hubungan terlarang kita, jatuh bangun mendapatkan restu dari orang tuaku hingga beberapa kali bersujud di kaki mereka dan akhirnya pengorbananmu yang tak kecil membuahkan hasil, restu itu kita dapat.
“Vin... aku sudah mempersiapkan segalanya, tinggal menghitung hari.”
    Kulihat jarimu menyeka air  kristal dikedua sudut matamu yang sejak tadi kamu tahan dengan memandang langit. Aku tahu, aku salah bahkan bodoh sekali menyakiti lelaki sebaik kamu, lelaki yang sangat mencintaiku. Kamu mempersiapkan pernikahan kita tanpa merepotkanku dan keluarga sedikitpun. Dan kini aku merusak segalanya. Merusak impian terbesar dihidupmu, yaitu menikah denganku.
    Aku memang berjanji akan selalu denganmu, selalu bersamamu dan hanya untukmu. Tetapi janji itu kudustai sendiri dan mendustai cintamu tetapi tidak bagi Tuhanku. Tidak selalu denganmu, tidak selalu bersamamu dan tidak hanya untukmu. Jika aku tidak menjaga perasaanmu, akan kukatakan yang sebenarnya aku disini bersama Salman calon suamiku. Yang berkeyakinan sama denganku, tapi aku tak terlalu tega setelah akhirnya tangis yang kamu pendam terjun juga.
    “Van...ketika itu aku memang berjanji seperti itu, tapi maafkan aku janji itu sudah kumusnakan sejak lima bulan yang lalu, sejak aku memutuskan memakai hijab ini. Aku bersyukur dengan hijab ini seketika semua terbuka. Hidayah langsung muncul dihidupku, termasuk pilihan siapa seseorang yang seharusnya mendampingi imanku. Yaitu seseorang yang bisa menjadi imamku untuk aku lebih mendekatkan diri kepadanya dengan cara beribadah di dalam sebuah rumah tangga dengan imam yang seiman. Cinta kita tidak salah, hanya saja agamaku dengan keras tidak membolehkan pernikahan beda keyakinan. Aku memang mencintaimu tetapi aku lebih mencintai Tuhanku. Maaf Van.. Assalamu’alaikum,”
   Subhanallah...Allah memang adil , ketika salam terucap dari bibirku ada suatu beban yang terlepas begitu saja. Empat tahun setengah tidak tenang dan merasakan beban yang begitu berat tapi aku tidak menyadari, kini aku sadar bebanku selama ini adalah kamu. Cinta memang tak bisa begitu saja dilupakan ataupun dihapus. Allah menganugerahkan cinta dan kebebasan bagi manusia untuk mencintai siapa saja, tapi kadang manusia lupa cinta juga memiliki aturan tegas yang bila dilanggar maka akan menjadi  pedang yang siap merobek-robek ketenangan hidup.
    Mungkin aku belum bisa mencintai Salman seperti aku mencintaimu. Tapi aku akan terus belajar seperti aku yang tak pernah lelah belajar mencintai Tuhanku. Dan aku akan mengajari hatiku untuk mencintai Salman seperti Salman mengajariku mencintai Tuhanku.  Ah ya, tentang bagaimana aku bertemu Salman, dan menerimanya sebagai calon imamku, itu adalah takdir terindah Tuhan yang diberikan untukku. Aku tak akan menghianati Tuhan untuk yang kedua kalinya.
      “Assalamu’alaikum.”
Suara seorang pemuda yang terdengar lembut namun berat membuatku terbangun dari lamunan. Seketika ku memutar badan kearah datangnya suara itu, aku melihat wajah pemuda itu bersinar dengan melemparkan senyum kearahku. Inilah jawaban Tuhan.
      “Walaikumsalam, mas Salman.”
Oh Tuhan, mengapa jantung ini berdegup begitu dahsyat. Lebih dahsyat dari percintaan selama empat setengah tahun yang selama ini aku jalani. Benarkah pemuda sebaik malaikat didepan mata ini adalah calon imam hamba, atau malaikat menjelma manusia atau apalah bentuknya dia ku mohon berikan dia untukku.

Aku semakin yakin dialah yang terbaik untukku. Sekarang aku berada disini, tempat sejuta kenangan manis bersama Vandy untuk membicaran akhir kisah kami tanpa memberi tahu keberadaan mas Salman adalah izin dan sarannya. Ku mohon segeralah hapus Vandy dari hatiku dan gantilah dengan malaikat di depanku.


Dilarang ambil Karya tanpa izin terlebih dahulu. Belajar tidak mencuri walau pemilik tidak tahu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...