Kata orang galau, move on dari orang yang begitu kita
cintai dan harapkan susahnya melebihi menyembuhkan luka karena sakit hati.
Memang! Saat rasa ini sudah tertanam kuat maka akan sulit dicabut, kalaupun
dicabut akarnya tidak akan mati. Terus hidup dan tumbuh bahkan bunganya bisa
mekar lagi. Itulah yang mungkin Ara alami. Hatinya terasa terikat erat
mencintai laki-laki yang ia panggil Abang. Menurutnya, abang tidaklah rupawan
dibanding dengan kebanyakan laki-laki yang menunggunya. Abang hanyalah
laki-laki biasa yang memiliki cara unik mencintai Tuhan, karena itulah Ara
menaruh harapan yang tak hanya harapan biasa.
Ara tahu, ia bukanlah wanita yang pantas berada di
sisi Abang. Beberapa kali ia menepis perasaannya namun sebuah misteri yang
pernah menjadi kisah di antara mereka selalu bergelayut di memori tajamnya.
Saling suka diam diam pada masa SMA dan tak bisa saling memiliki. Serta anehnya
tingkah Abang kala salah tingkah di depan mata Ara. Itu semua menggemaskan
untuk di kenang. Ara tak pernah bisa melupakan walau ia sempat memiliki
komitmen dengan seorang yang berparas manis dan baik hati. Seluruh kasih yang
ia tumpahkan kepada seorang itu tak mampu menutupi harapan tingginya pada
Abang. Apalagi Ara yang berusaha tulus telah sedikit merasakan sakitnya
dikhianati. Belum dikhianati, hampir. Apa pun namanya tetaplah itu membuat
hatinya tergores.
Dan Ara kembali patah. Kembali memiliki
harapan-harapan yang tak pernah usai pada Abang. Ntah kenapa keyakinan itu
begitu besar ia miliki. Bahwa Abang suatu saat akan datang bertamu kerumah dan
langsung meminangnya.
Gelap terus berkejaran dengan sinaran mentari. Pikiran
Ara disibukkan dengan segala mimpi yang harus ia raih. Lama-lama kelamaan ia
benar-benar sadar. Harapan yang ia miliki bagaikan seorang yang melukis di atas
air. Percuma. Percuma dan. Percuma.
Move on. Mungkin itulah yang harus dilakukan Ara.
Namun dengan siapa? Apakah seorang itu mampu membuat dirinya terkagum melebihi
kekaguman kepada Abang? Apakah bisa membuatnya tak ingat lagi? Entahlah
Ia memilih diam. Menutup hati rapat-rapat. Menganggap
semua laki laki di sekelilingnya hanyalah teman yang tak perlu diambil hati.
Mendekatkan diri kepada Sang Pemilik hati.
Tak ada kisah. Rasa. Kagum ataupun harapan. Ara yang
sedang mengunci hatinya rapat-rapat tiba-tiba seperti menemukan cahaya pada
celah yang begitu kecil.
Armand, seorang pemuda sederhana yang dikenal unik.
Dengan begitu tiba-tiba mengungkapkan rasa sukanya yang telah lama dipendam.
Dia tak banyak kata ataupun membuktikan rasa yang ia miliki pada Ara. Seperti,
bila Ara menerima dia akan senang tapi bila Ara menolak dia sedih dan akan
mengikhlaskan. Ara adalah tipe perempuan yang suka diperjuangkan. Tapi Armand
tak melakukan itu.
Kejujuran Armand merupakan hal yang sulit dipercaya.
Pasalnya, Ara tahu bahwa Armand adalah teman dekat yang enak diajak ngobrol,
berpatner dalam kegiatan kampus, saling olok dan tidak mungkin saling suka. Ara
pun tak pernah berfikir akan menyukai manusia unik seperti Armand.
Namun perasaan dan fikiran sering tak bisa bersatu.
Apalagi Armand seperti cerminan dari Abang, lelaki yang begitu ia harapkan.
Armand juga tak kalah unik dalam mencintai Tuhan. Dia juga memiliki sifat
humoris, yang tak dimiliki oleh Abang. Dan perasaan itupun tiba-tiba menjadi
yakin.
Di saat Ara jujur mengapa ia yakin dengan rasa yang
tiba-tiba itu. Ara mengungkap bahwa Armand cerminan dari Abang. Justru Armand
menyakinkan bahwa dia akan membuat Ara mencintainya dan tidak akan memberi
kesempatan pada Ara untuk mengingat Abang. Dewasa. Poin plus yang dimiliki
Armand, semakin membuat Ara yakin dan gagah berdo'a bahwa ia ingin dipersatukan
dengan Armand.
Entah apa yang diberikan Armand sehingga membuat Ara
benar-benar lupa akan harapannya dulu. Bahkan Armand tak pernah mengatakan
cinta, sayang atau apalah. Tidak juga perhatian. Namun ia memberi ketulusan dan
keseriusan. Itulah yang memperkuat keyakinannyan akan Armand. Dan nama Armand
berhasil menjadi baris-baris do'a Ara di setiap lima waktu. Tanpa menghakimi
Tuhan, Ara pasrahkan rasa cintanya. Namun yang ia inginkan dan terlebih
butuhkan adalah Armand. Tak ada rasa berlebihan. Karena Ara tak mau kembali
patah dan tersungkur.
Pemuda unik itu juga berhasil mengambil perhatian
tulusnya. Saat Armand sakit, Ara dengan tak terang-terangan memberikan
perhatian secara tertulis dan tindakan. Sungguh itu bukanlah Ara yang dikenal
kebanyakan orang. Rupanya ia benar-benar memiliki ketulusan pada Armand.
Armand serius. Pemuda yang merupakan anak terakhir dari
4 saudara itu begitu dekat dengan ibunya. Hubungan yang entah apa namanya ini,
baru berjalan tak lebih dua bulan sudah ia ceritakan pada ibunya. Namun justru
kejujuran yang ia ungkapkan pada ibunya menjadi boomerang bagi dirinya dan Ara.
" Mand, sebenarnya ibu akan menjodohkan kamu
dengan anaknya.....dan sudah ke sini tinggal menunggu jawaban. Kamu jangan
memberikan harapan pada wanita.... ''
Itulah kalimat yang sebenarnya panjang jika ditulis
yang membuat hati keduanya dilanda kebimbangan.
Tentu! Seketika air mata Ara menetes pelan yang
kemudian sulit dibendung. Hampir dua bulan ini ia terbang tapi tiba-tiba
sayapnya mendadak patah begitu saja.
Hati Ara tak hanya hancur. Tapi benar-benar hancur
berkeping-keping yang mungkin akan sangat sulit ditata dengan rapih.
Belum sempat Ara mengabarkan pada daun yang berdzikir.
Pada ilalang yang bergoyang. Pada kupu-kupu yang terbang. Pada bumi yang ia
pijak. Pada langit yang menjadi saksi. Pada telinga yang akan bereaksi. Namun,
sudah tak ada yang bisa ia katakan. Hanya sakit dan sesak di dada.
Tak pernah ia menangis sesakit ini. Tak pernah dadanya
begitu sesak hingga berhari-hari. Ia juga tak pernah murung hanya karena
masalah rasa. Kali ini perasaannya benar-benar hancur.
Armand tak bisa menjanjikan apa-apa. Dia hanyalah
lelaki biasa yang masih berjuang untuk masa depannya. Jika perjodohan itu akan
terjadi, dia juga tidak akan menolak permintaan ibu yang amat ia cintai.
Meninggalkan Ara, ia juga tak bisa. Tetapi memiliki
Ara juga tak mampu ia lakukan. Ditinggalkan Ara, ia juga tak rela. Namun, ia
sadar akan hanya membuat Ara terluka. Pasrah dan ikhlas, itulah Armand.
Dua minggu menjadi sejarah dalam hidup Ara. Sakit hati
dan terus memikirkan kelanjutan kisah dirinya dengan Armand. Marah. Benci dan
kecewa tentu Ara miliki. Ia juga berniat tak ingin lagi melakukan komunikasi
dalam bentuk apapun dengan Armand. Segala kekecewaan ia tumpahkan. Tangis tak
ia bendung seperti biasanya. Biarlah rasa sakit puas menggerogoti hatinya. Ia
juga bingung akan menata hatinya lagi.
Namun ia sadar. Armand tidaklah salah. Cinta saling
mereka miliki namun memang kehancuran harus ia terima. Keduanya sama-sama
terluka dan tak tahu bagaimana menjalaninya. Membenci Armand bukanlah jalan
yang pantas ia lewati.
Setelah Ara memahami dengan semua yang terjadi.
Mengetahui hancurnya hati Armand dan berbaktinya ia pada ibunya. Ara membuka
hatinya lebar-lebar. Menata kata bijak dan memberikan senyum manis.
Keputusan melepas Armand menjadi pilihan terbaik Ara.
Toh Ara tahu, siapa wanita yang selama ini menjadi dambaan Armand. Jika ikhlas
dan takdir berbaik hati maka Armand akam kembali padanya.
Tak akan setuju bila itu dinamakan menyerah. Ara hanya
tak tahu apa yang seharusnya ia perbuat. Maju, tetap bersama Armand dia tidak
cukup kuat karena pihak orang tua memiliki pilihan lain. Ara tak pernah mundur.
Hanya saja dirinya tak mau salah langkah.
Ara kembali menutup hati rapat-rapat!
Tak akan berbicara pada dunia jika itu bukanlah yang
pantas menerima kehangatan pelukannya.
Judul awal adalah Belum Sampai Dunia Tahu. Diganti karena memang dunia tidak perlu tahu karena begitu menyesakkan dada, hahaha
Komentar
Posting Komentar