Tulisan yang akan menjadi baris-baris kalimat ini
merupakan ungkapan yang belum mampu kuucapkan. Topik seseorang yang ada dalam
rangkaian kalimat ini juga pernah berada dalam tulisanku sebelumnya. Dulu,
judulnya adalah "Aku Ingin Menjadi Mbak". Yah isinya seputar
keinginan seorang Mbak yang ingin lebih berguna untuk adik lelakinya. Karena
Aku merasa dulu telah begitu jahat padanya. Seakan berupa kalimat penyesalan.
Ntah bagaimana aku memulai agar sedikit berkaitan
dengan judul yang kubuat. Ada kata "Sekarang" dan
"Sahabat". Oh! Mungkin akan sedikit kugambarkan siapa sosok tokoh
utama dalam tulisan ini.
Mbak yang dimaksud adalah saya, Maria Umma Dewi.
Pemilik Instagram dengan akun @dewummaria, emm gak nyambung deh ya. Saya
merupakan anak perempuan di antara ke tiga saudara laki-laki saya. Dan jika
kamu mengenal saya dengan apa yang biasanya saya pakai. Ya terkesan tidak
anggun ya mungkin itu alasannya, bisa juga ngeles.
Mbak memiliki adek yang bernama, Abduh Al Khumaisi.
Tapi dia dari kecil dipanggil Ido bahkan pohpo karena suka tokoh poo di
teletubies. Ido kecil menurutku dulu tidak lucu karena selalu membuatku kesal.
Tetapi belakangan aku mendengar dari saudaraku dia lucu sekali. Pasalnya di
lingkungan kami yang berbahasa jawa tulen tapi Ido dulu kalau ngomong selalu
memakai bahasa Indonesia. Kayak bener-bener bule karena memang parasnya yang
imut ya cocok saja.
Dia kini tumbuh menjadi pemuda berparas tampan. Bahkan
bisa disebut oppa semacam artis korea. Tapi menurutku lebih, karena artis korea
terkesan cantik. Ido dengan tubuhnya yang gempal jauh lebih macho dibanding
Oppa-oppa sana. Jujur, aku menaruh rasa iri padanya. Eist jangan berfikir
negatif dahulu. Pasalnya, dia anak terakhir dari empat bersaudara kurasa paling
sempurna. Dibandingkan denganku, dia memiliki kulit jauh lebih putih dan
bersih. Memiliki alis yang tebal. Bibirnya pun merah jambu seperti selalu
terkena lipstik. Beda jauh denganku, yang paling item, tidak punya alis dan
bibir kering. Menurutku, yang seharusnya dilimpahkan kepadaku satu satunya anak
perempuan ibu bapak eh malah ke Ido. Tapi... Itulah istimewanya anak terakhir.
Jadi bangga memiliki adek seganteng dia. Kan bisa di ajak jalan biar dikira
pacarnya, iya kan....
Eh ini kok malah begini tulisannya...
Mbak tahu, Ido bisa merasakan betapa hangatnya kasih
sayang mbak. Dan mbak tahu, Ido pasti juga sayang pada mbak. Tetapi mbak tidak
akan merasa puas kala mbak belum menjadi sahabat terbaikmu.
Sejak dia duduk di bangku kelas 6 SD sudah ditinggal
ibu pergi ke luar pulau. Seharusnya ia masih bisa bermanja-manja diusianya yang
sedemikian belia. Dia bagaikan tidak punya teman belajar atau pun menyampaikan
keinginannya. Karena mas yang pertama sudah berkeluarga dan tidak tinggal di
rumah. Mas kedua begitu pendiam dan lebih asyik diajak main game saja.
Sedangkan mbaknya, sibuk dengan urusannya sendiri. Kadang bisanya cuma
marah-marah gak jelas, ya itulah diriku dulu. Bapak? Beliau juga pendiam bukan
tipe ayah yang suka menasihati. Tapi Ido justru tumbuh menjadi anak yang
memiliki pikiran yang dewasa. Mungkin dia belajar dari pergaulan di sekolah dan
di luar sana. Tapi dia tak sedikit pun tumbuh menjadi anak yang nakal. Dia
cerdas. Kata orang, dia anak paling pemberani dan cekatan "kerjanya
cepat" dibanding dengan yang lain.
Aku tahu, kamu memiliki rasa bimbang. Bingung dan beribu
unek-unek di hati. Menyelamimu pun aku masih mencoba. Tapi mbak senang kadang
kala kamu begitu terbuka. Silahkan, silahkan dan silahkan. Jadikan aku ini tak
hanya sebagai mbakmu saja tapi juga sahabatmu. Apa pun yang kamu inginkan
sampaikan sesukamu. Aku pasti sudi mendengar. Bila tak bisa kuwujudkan sekarang
pasti atas ijinNya akan kupenuhi nanti. Aku masih kuat berada dikejauhan
karenamu jua. Aku ingin sukses karena ingin menyukseskanmu. Bagiku, sederhana.
Hidupmu harus lebih menarik dan baik dari pada hidupku. Bila apa yang kuraih
masih mendapat cacian maka aku tak rela engkau dicaci seuntai kata pun.
Ungkapkan, kebimbanganmu. Bila aku tak sanggup
memberikan solusi yang memuaskanmu. Setidaknya sedikit saja aku mampu melegakan
sesak di dadamu. Dan aku akan menjadi tahu. Apa yang harus kuperbuat.
Jika aku tak peduli dan tak ada kabar kumohon
tegurlah. Seperti yang pernah Ido lakukan. Sesuka hatimu, kapan saja harusnya
aku siap. Walau aku jauuuh sekali tapi bukan alasan bagiku atau bagimu untuk
saling tak peduli.
Sekarang di usiamu yang baru saja 18 tahun akan
semakin rumit hidupmu. Sebagaimana kebanyakan pemuda lainnya. Kadang eh sering
kali aku cerewet engga jelas itu bentuk peduliku. Katakan, jika kamu tak
menyukainya. Lalu katakan, apa yang harusnya kulakukan dek.
Eh... Katakan lagi jikalau ada wanita yang engkau
suka. Aku tahu banyak cewe cewe yang modus mendekatimu. Ah! Yang lebih penting
untuk sekarang. Sungguh tak bisa memaksamu mengikuti apa mauku. Sebenarnya
bukan hanya mauku. Kadang itu kemauan ibu yang diungkap lewat mbak dan meminta
menyampaikan padamu. Mimpimu besar dan mulia. Aku salut. Dan yang tahu
kemampuanmu ya dirimu sendiri. Tapi kami hanya ingin yang terbaik untukmu.
Bila apa yang kami inginkan tidak bisa kau penuhi.
Mohon dan mohon. Ungkapkan apa yang ada dibenakmu. Agar kami tak melukai
mimpimu.
Di akhir tulisan panjang ini hanya ada satu pinta.
Mungkin sahabatmu emang banyak tapi jadikan mbak salah satu saja sahabat
terbaikmu.
Selamat tambah tua dan umur berkurang Idoku.

Komentar
Posting Komentar