Langsung ke konten utama

Skripsiku: Alhamdulillah menjadi jurnal Internasional

Ekranisasi Novel Dschungelkind Karya Sabine Kuegler ke dalam Film Dschungelkind Karya Rolan Suso Rcihter



Ekranisasi sudah banyak dilakukan di dunia perfilman. Istilah ekranisasi dimunculkan pertama kali oleh Bluestone (1957:5) yang berarti proses pemindahan atau perubahan bentuk dari sebuah novel ke bentuk film. Berdasarkan asal katanya, Eneste (1991:60) mengartikan ekranisasi sebagai pelayar putihan atau pemindahan/pengangkatan sebuah novel ke dalam film (ecran dalam bahasa Perancis berarti layar). Proses ekraniasai mau tidak mau mengakibatkan timbulnya pelbagai perubahan. Keterbatasan durasi dalam penyajian sebuah film di layar lebar adalah salah satu penyebabnya. Cerita yang disajikan dalam novel dapat dinikmati dalam waktu berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan. Sedangkan film disajikan hanya dalam waktu sekitar seratus dua puluh menitan. 
Perubahan yang terjadi dikerenakan adanya proses ekranisasi bisa berupa penambahan, penciutan dan variasi. Sehingga semua hal yang diungkapkan dalam novel tidak akan dijumpai pada film. Seperti yang dikatakan oleh Eneste (1991:61), sebagian cerita, alur, tokoh-tokoh, latar ataupun suasana novel tidak akan ditemui dalam film. Sebab, sebelumnya pembuat film (penulis skenario dan sutradara) sudah memilih terlebih dahulu informasi-informasi yang dianggap penting. Sehingga yang terjadi ialah cerita yang ditampilkan dalam film tidak terikat pada urutan-urutan cerita pada novel lagi.
Alasan mendasar novel layak diangkat ke layar lebar dikarenakan menjadi bacaan terlaris atau bestseller. Dengan demikian, film yang diangkat dari novel terlaris akan memberikan efek positif yaitu mampu memiliki penonton sebanyak pembaca pada novel tersebut. Seperti yang diungkapkan dalam penelitian Kartika (2016), ketika film yang diadaptasi dari karya sastra, penonton datang ke bioskop bukan karena film itu sendiri tetapi buzz berita film tersebut, popularitas novel, dan tokoh. Pilihan produser film mengangkat cerita novel ke layar kaca menjadi strategi jitu. Film berbasis novel tersebut kemudian laris di bioskop karena penonton tersebut sebenarnya adalah pembaca novel.
Dalam pemindahan novel ke layar putih akan terjadi pula sebuah proses perubahan yang meliputi alur, penokohan, latar, gaya bahasa, ataupun tema. Khususnya pada alur cerita yang akan menyebabkan terjadinya perubahan fungsi.  Eneste (1991: 61-65) menyatakan, proses kreatif ekranisasi dapat berupa penambahan maupun pengurangan jalannya cerita dari novel yang akan diangkat ke layar putih. Berbagai penambahan atau pengurangan dengan berbagai variasi dapat memunculkan asumsi bahwa adanya perbedaan antara film hasil ekranisasi dan novel, akibat adanya perubahan fungsi khususnya dalam alur cerita.
Sebagaimana diuraikan di atas, perubahan plot juga terjadi pada novel Dschungelkind atau NDK (2006) karya Sabine Kuegler yang diangkat ke dalam film Dschungelkind (FDK) oleh sutradara asal Jerman yakni Roland Suso Richter tahun 2011. Dari novel Dschungelkind yang memiliki tebal 345 halaman harus diciutkan hanya menjadi 132 menit dalam film Dschungelkind atau FDK. Dengan durasi yang pendek tersebut, sutradara maupun penulis skenario harus mampu secara kreatif menguraikan rangkaian peristiwa yang panjang dari novel menjadi lebih ciut ke dalam film.



Jurnal di atas adalah kutipan latar belakang penelitian saya tentang ekranisasi Dschungelkind. Penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam melakukan penelitian yang serupa karena telah masuk dalam jurnal internasional. Bekerjasama dengan dosen pembimbing akhirnya setelah melalui proses seleksi, seminar dan revisi Jurnal dapat terbit di laman bergengsi.
kawan kawan dapat langsung mengunduh jurnal secara lengkap dalam bahasa inggris di ATLANTISPRESS di https://www.atlantis-press.com/proceedings/soshec-18/25903363 dalam bentuk PDF. Semoga bermanfaat.

terima kasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...