Langsung ke konten utama

Mengenal Suku Fayu Sahabat Orang Jerman Sejak Tahun 1980


Januari 1980, Sabine Kuegler dan keluarganya tiba di sebuah hutan terpencil di Papua Barat. Kedatangan keluarga Sabine dilatar belakangi oleh Klaus Kuegler (ayah Sabine) memilih meninggalkan Jerman dan menjalani kehidupan yang jauh berbeda sebagai ahli bahasa dan misionaris di sebuah suku pedalaman hutan Papua Barat yang baru ditemukan yaitu Suku Fayu.
Sebelumnya, Keluarga Kuegler (Kuegler adalah nama famili. Orang Jerman selalu memakai nama famili di bagian belakang yang berasal dari ayah atau keluarga ayah) telah hidup selama setahun di sebuah hutan kecil di Papua Barat, Indonesia, bagian barat dari Papua Nugini dengan ibukota Jaya Pura, terletak di pesisir.
Beberapa keluarga seperti keluarga Kuegler mendirikan pemukiman kecil di tengah hutan, pemukiman kecil itu mereka namai Danau Bira. Penghuni Danau Bira adalah para ahli bahasa, misionaris, antropolog, penerbang dan staf penunjang yang berasal dari berbagai negara. Di sana dibangun sebuah landasan mini pesawat terbang, sebuah kantor pos kecil, sebuah rumah pertemuan, sebuah penginapan, dan sebuah sekolah yang sangat sederhana.
Setahun sebelum Klaus Kuegler memborong kelauarganya pindah ke Papua Barat, Klaus telah lebih dulu mengunjungi Irian Jaya untuk melakukan ekspedisi. Setelah dilakukan beberapa kali ekpedidi, Klaus berhasil berhubungan dengan Suku Fayu, suku yang sebelumnya hanya dikenal dunia luar melalui mitos dan desas-desus, sama sekali belum tersentuh oleh peradaban dunia modern.
Dalam buku Dschungelkind (Jungle Child-dalam bahsa inggris) ditulis oleh Sabine Kuegler, diceritakan bahwa Sabine-tujuh tahun, Judith kakak perempuan-9 tahun, Cristian adik laki-laki-5 tahun dan Doris-ibu Sabine pertama kali menjejakkan kaki di Suku Fayu tahun 1980.
Suku Fayu memiliki postur lebih tinggi dibanding dengan suku Dani dan Suku Bauzi, berkulit gelap dengan rambut hitam keriting dan telanjang bulat. Kepala mereka ditutup oleh bulu burung Emu, burung khas hutam pedalaman Papua Barat. Terdapat tulang yang panjang dan tipis menembus jaringan lembut di pangkal hidung mereka-dua mengarah ke atas dan satu mendatar. Ada juga tulang pipih di tiap alis, ditahan dengan ikat kepala tipis yang terbuat dari kulit pohon. Tiap pria membawa busur dan anak panah di satu tangan serta kapak batu di tangan lainnya.
Sebagai ucapan salam, Ketua Baou (pemimpin Suku Fayu) menempelkan keningnya ke kening Sabine dan Keluarga lalu menggosok-gosokkan. Sejak saat ini Sabine dan Keluarganya menjalani kehidupan sama seperti Suku Fayu. Hidup di antara orang-orang Fayu, sebuah suku dari Zaman Batu yang dikenal sebagai kanibal dan sangat brutal, telah membuat Sabine berubah. Sabine tidak lagi merasa sebagai orang Jerman, seorang gadis kulit putih dari Eropa, tetapi menjadi penduduk asli Fayu. Sabine dan keluarganya berusaha melakukan kebiasaan orang Fayu, mulai dari mandi di sungai, tidak memakai alas kaki, bermain busur dan anak panah, memakan serangga, buaya, dan hewan buas lainnya.
Setelah berumur 17 tahun, Sabine harus kembali ke Eropa dan mengalami shock culture. Sabine selalu merindukan Kehidupan di hutan Papua Barat bersama orang-orang Fayu. Kehidupan di hutan telah mengajarkan kepedulian tanpa memandang status sosial, serta pentingnya menikmati hidup dari hal-hal yang sederhana. Ia juga belajar bahwa kebagiaan datang dari ketentraman hati, bukan dari materi.
Untuk mengenang kehidupannya bersama orang-orang Fayu yang telah menjadi sahabat masa kecil hingga usianya 17 tahun, sabine menuliskan kisahnya melalui beberapa buku. Buku pertama berjudul Dschungelkind yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Jungle Child: Rinduku pad Rimba Papua, tahun 2006. Buku tersebut juga telah di filmkan oleh Roland Suso Richer seorang sutradara asal Jerman, dengan latar belakang sesaui dengan buku karya Sabine Kuegler. Sayangnya, film tersebut tidak dibuat di Hutan Papua Barat melainkan di  Hutan Taman Nasional Malaysia dengan alasan hutan Papua banyak malaria. Namun latar suasana dibuat semirip mungkin, dengan mendatangkan orang-orang asli papua. Film tersebut telah diputar di bioskop Eropa, Amerika dan Asia.
Selain buku Dschungelkind, Sabine telah menulis beberapa judul seperti, Ruf des Dschungels (Panggilan kembali ke hutan) München 2006, Die Abenteuer der Dschungelkids (Petualangan anak-anak hutan) 2009, Das Dschungelabenteuer (Petualangan di Hutan), Köln 2010. Serta ibunya-Doris juga telah menulis buku tetang suku Fayu yang berjudul Dschungeljahre – Mein Leben bei den Ureinwohnern West-Papuas (Bertahun-tahun di hutan- kehidupanku bersama orang asli Papua Barat), Asslar 2011.
Hingga kini keluarga Kuegler masih membangun komunikasi dengan Suku Fayu, Doris-Ibu Sabine telah membangun sekolah, tempat generasi muda belajar baca-tulis, matematika, dan bicara dalam bahasa Indonesia.
Pemerintah setempat juga telah membantu keluarga Sabine untuk mempertahankan kebudayaan Fayu yang asli dan unik. Pemerintah telah mengutus delesgasi untuk meninjau Suku Fayu, untuk meyakinkan kepada mereka bahwa tanah mereka sangat berharga dan mereka juga mempunyai hak sebagai rakyat Indonesia.
Mereka menganjurkan orang Fayu untuk meneruskan keahlian membuat busur, anak panah, palu, batu dan jaring. Dan menyampaikan pelajaran betapa pentingnya bertahan hidup untuk kelangsungan generasi berikutnya. Suku Fayu kini telah menjadi suku yang penuh dengan kedamaian. Dengan seluruh kekuatan dan keberanian mereka untuk mengenal dunia luar, suku Fayu telah mencapai kemajuan yang signifikan.
Perlu diingat oleh kita semua, Suku Fayu adalah suatu suku yang unik dan istimewa. Kita sebagai saudara mereka layak berbangga pada tradisi yang mereka miliki dan ikut menjaga kekayaan budaya, seni dan alam Indonesia.

sumber: dari buku Jungle Child : Rinduku pada Papua Barat.
Artikel ini pernah saya terbitkan di Good News From Indonesia 2017 lalu. Menerbitkan lagi karena ingin mengulas lagi Dschungelkind yang merupakan sumber inti skripsi saya.

Vielen Dank!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...