Dia bukanlah gadis yang pandai mempercantik parasnya dengan bedak maupun perawatan wajah lainnya. Bukan pula gadis yang tertarik mengikuti gaya pakaian pada zamannya. Asal itu nyaman baginya maka ia akan kenakan. Hanya saja saat menatapnya ada kesejukan yang tiba-tiba menghembus dari pancaran auranya yang begitu kuat. Terasa tertarik ingin terus berada di dekatnya. Apalagi saat melihat dia tersenyum. Matanya ikut berbinar. Membuat dirinya tampak begitu cantik.
Aku mengenalnya tak kurang dari empat tahun lebih empat bulan empat hari. Selama itu pula aku seranjang dengannya. Merupakan keburuntungan besar dalam hidupku bisa mendapat sahabat sekaligus kakak di tempat yang jauh dari kota kelahiran. Hidupku akan selalu aman dan tidak akan menjadi berantakan seperti saat duduk di bangku SMA. Karena dia akan selalu mengingatkanku dengan nada lembut namun menohok. Tapi, kalimatnya tak menggurui. Dia juga tak hanya menasehati namun berbuat sesuai dengan apa yang keluar dari mulutnya.
Aisyah. Tak ada kepanjangan sehabis nama yang sama dengan istri Rosulullah SAW itu. Mbak Aisyah, aku memanggilnya. Aku memanggilnya mbak bukan karena dia lebih tua dariku. Kita seumuran hanya lahirku empat bulan sebelum dia. Pertama bertemu dengannya saat berada dalam kelompok OSPEK fakultas. Dia tak banyak bicara namun murah senyum. Aku yang menjadi ketua kelompok saat itu merasa sedikit sungkan dengannya. Kelakuanku heboh yang memang sudah melekat saat lahir di dunia merasa tidak enak saat melihat tingkah lembutnya. Jadi sejak hari kedua OSPEK aku menambahi "Mbak" di depan nama Aisyah.
Dia memang tak banyak bicara. Namun ketika berdiskusi kelompok justru dia yang paling aktif memberikan pendapat, saran dan sanggahan yang berlogika. Kinerjanya juga cepat dan tepat. Sebagai ketua pasti memiliki rasa senang dan suka memiliki anggota yang seperti itu. Walau dia lebih banyak diam ternyata tujuh di antara sepuluh lelaki di kelompokku menaruh perhatian padanya. Saat itu juga aku tahu bahwa Aisyah begitu cantik dengan matanya yang indah.
Satu kamar dengan mbak Aisyah awalnya merupakan ketidaksengajaan. Aku tak betah di kosku yang banyak aturan lalu memutuskan pindah dan Mbak Aisyah kebetulan sendirian karena teman sekamarnya baru saja lulus. Ibu kos menempatkanku di kamarnya. Awalnya cukup terkejut ketika tahu aku sekamar dengannya tapi ada rasa senang juga karena sudah pernah mengenalnya.
Kehidupanku yang tak teratur tiba-tiba berubah sedikit-demi-sedikit. Hampir setiap hari aku keluar malam hanya sekedar nongkrong di warung kopi sama teman-teman satu jurusan. Sering shopping membeli barang-barang yang tak terlalu dibutuhkan. Suka begadang hanya karena main HP dan paginya kesiangan ke kampus. Tetapi itu hanya berlangsung hampir setengah tahun setelah aku tinggal dengan Mbak Aisyah. Aku merasa malu dengan buruknya gaya hidupku bila kubandingkan dengannya. Hidupnya sangat bermanfaat. Sungguh berbanding terbalik denganku. Selalu membaca, Ngaji, sholat malam, belajar dan sesekali menonton film. Mungkin kesamaan aku dan dia cuma satu, yaitu kalau main HP enggak berhenti-berhenti. Tapi bedanya aku kepo-in media sosial orang lain. Kalu mbak Aisyah, hp nya rame dengan nomer nyasar yang pastinya cowok serta grup-grup Unit kegiatan Mahasiswa. Dia memang aktif di beberapa kegiatan kampus.
Mbak Aisyah yang lembut sering mengajakku sholat berjama'ah, walau tahu aku malas dan ogah-ogahan. Tapi dia tidak pernah lelah. Aku yang dulu ogah-ogahan lama-kelamaan tak enak hati sendiri. Jadi lah rajin solat berjama'ah. Juga dia sering mengajakku hadir dalam kegiatannya sehingga membuatku tertarik untuk gabung bersama organisasinya. Tugas-tugasku yang selalu tertunda juga terselesaikan dengan cepat dan tepat. Entah sengaja atau tidak, Mbak Aisyah sering bertanya "Ada tugas apa kamu Ra?". Setelah aku jawab, dia pasti bilang "Aku juga ada tugas nih, yuk ngerjain bareng." Sehingga membuatku lebih bersemangat untuk menyelesaikan tugas tanpa dadakan lagi.
Kebersamaan yang terjalin setiap hari membuat aku dan Mbak Aisyah menjadi sangat dekat. Terasa begitu lega ketika mengeluarkan segala unek-unek, kegalauan dan kekecewaan. Mbak Aisyah selalu memberikan solusi yang bisa memecahkan masalahku. Menasihatiku tanpa menggurui.
Dia tak pernah kudengar mengeluarkan kata yang membuatku sakit. Tak pernah kudengar juga keluh kesah dari bibirnya. Hanya sesekali tak sengaja kulihat mata eloknya menetes di atas sajadah di sepertiga malam. Setela itu, mata eloknya akan berbinar penuh rasa syukur menikmati waktu subuh. Dan tampak semakin bercahaya selepas menunaikan sholat dhuha. Mbak Aisyah tak pernah meninggalkan sholat dhuha, sebelum kuliah dia selalu menyempatkan empat rakaat. Mungkin itu juga yang membuat parasnya bersinar meneduhkan.
Mungkin orang yang belum mengenal Mbak Aisyah terlalu dekat akan mengira dia sosok wanita yang sangat tangguh. Pasalnya Mbak Aisyah memang tak pernah terlihat menyerah karena rasa sulit, beban hidup atau masalahnya. Ketika dia belum mencapai apa yang dia inginkan, justru dia semakin dekat dengan Tuhan dan semakin keras usahanya. Masalah yang bertubi-tubi datangpun disikapi dengan santai dan diselesaikan satu per satu. Dia juga tak pernah heboh memamerkan segala masalahnya kepadaku. Tak seperti aku yang pasti teriak-teriak memanggil Mbak Aisyah di depan pintu kamar karena tak sanggup memendam unek-unek di hati. Dengan nada lembut, dia hanya akan bilang memiliki kebimbingan selepas itu dia akan mengatakan, "Gak apa-apa di jalani aja sambil usaha dan do'a pasti berlalu." Dan aku hanya bisa berteriak."Semangat Mbak Cantikkkk pasti bisa dan selalu bisa." Lalu dia akan tersenyum manis dan berlalu mengambil air wudhu.
Padahal aku tahu, hidupnya cukup berat. Walaupun dia kuliah dengan beasiswa tetapi dia harus membagi beasiswanya untuk kedua adiknya agar tetap bisa sekolah. Ibunya menderita sakit lambung akut sehingga tidak bisa merasa lelah. Jadi untuk memenuhi kehidupannya, mbak Aisyah setiap jum'at sampai minggu menjadi asisten rumah tangga di salah satu perumahan dekat kampus. Tapi dia senang menjalani hidupnya.
Padahal aku tahu, hidupnya cukup berat. Walaupun dia kuliah dengan beasiswa tetapi dia harus membagi beasiswanya untuk kedua adiknya agar tetap bisa sekolah. Ibunya menderita sakit lambung akut sehingga tidak bisa merasa lelah. Jadi untuk memenuhi kehidupannya, mbak Aisyah setiap jum'at sampai minggu menjadi asisten rumah tangga di salah satu perumahan dekat kampus. Tapi dia senang menjalani hidupnya.
Namun, pernah aku melihat dia merenung di kasur tampak sedih sekali. Ketika aku hampiri dia langsung memelukku lalu meneteskan air mata. Dan tak lama, dia menarik nafas lalu tersenyum. Tak lupa mengucap istigfar berkali-kali. Rupanya hatinya begitu sedih karena ada seorang lelaki yang berkata kasar padanya. Lelaki itu begitu menginginkan Mbak Aisyah hingga dia pernah sakit karena Mbaknya tak lagi mau untuk menemuinya. Padahal, katanya lelaki itu sudah berkerja, parasnya bersih dan baik hati. Tetapi Mbak Aisyah belum memikirkan memiliki hubuangan dengan siapa pun. Juga tak ingin menikah muda karena memiliki tanggungjawab kepada ibu dan kedua adik kandungnya. Sehingga walau lelaki itu mengejar sampai sakit pun Mbak Aisyah tak juga tersentuh hatinya. Masih semerter lima dan ingin meraih mimpi-mimpi yang masih ia cita-citakan jadi bukan Mbaknya tega hanya saja laki-lakinya yang tidak mengerti. Mbak Aisyah perempuan taat yang modern jadi tidak akan jatuh kepelukan lelaki begitu saja. Bagiku, laki-laki itu sangat bodoh telah membentak Mbaknya dengan kata-kata kasar. Mbak Aisyah memang memiliki hati yang sangat lembut sehingga jika mendengar bentakan yang tak mendasar kekuatannya akan runtuh. Ya bagaimana tidak, lelaki itu berkata."Aisyah, kamu perempuan sombong! Sombong dan sok pintar mentang-mentang aku lebih memilih kerja dan enggak kuliah, jangan sombong kamu!" diikuti dengan nada tinggi.
Sejak itu aku benar-benar tahu kelemahan mbak Aisyah. Akan menangis jika ia mendengar bentakan yang seharusnya bisa dibicarakan baik-baik. Sebenarnya Mbaknya bisa membalas namun lebih memilih diam dan mengatakan maaf. Seharusnya tidak usah meminta maaf. Tetapi Mbaknya tak suka memiliki masalah dengan siapun. Dia lebih suka mengalah untuk kebaikan.
Dia benar-benar contoh yang sempurna bagi teman-teman dan kedua adikknya. Perempuan lembut yang tangguh. Dan aku belajar darinya bahwa mengeluh akan hanya membuat hidup semakin berat.
******
Wajah yang meneduhkan. Hati bersih bagai kertas putih tanpa coretan. Pandai merekatkan hati yang telah rapuh dengan motivasi yang keluar dari suara lembutnya. Dan senyumnya yang manis dengan mata berbinar bak mawar yang bermekaran di bawah mentari pagi. Beberapa hari kuperhatikan mata itu berbinar lebih menyilaukan seperti pelangi di balik gerimis ringan. Bibir yang selalu terlukis oleh senyumpun juga semakin merekah mendamaikan hati. Mbak Aisyahku rupanya sedang bahagia.
Aku menangkap keanehan pada tingkah laku yang sedikit tergeser dari biasanya. Mbak Aisyah yang biasanya khusyuk melantunkan berlembar-lembar ayat suci al qur'an selepas sholat magrib. Beberapa hari ini Pemandangan sedikit berbeda kala yang dipegang bukan hanya Al qur'an kesayangannya tetapi juga hp yang selama ini tak begitu dipedulikan. Ternyata bisa naik pangkat juga tuh hp. Setelah beberapa ayat dibaca mbak Aisyah terlihat membalas pesan yang entah dari siapa. Dan lucunya diikuti oleh senyum tipis yang membuat kulit putih wajahnya sedikit memerah.
Jam tidur mbak Aisyah juga lebih malam dari biasanya. Padahal dia begitu anti tidur malam walaupun didera tugas yang menumpuk. Dia meyayangkan waktu sepertiga malam dan memilih mengerjakan tugas setelah sholat tahajud. Mbak Aisyah memang tetap menarik selimutnya menutup seluruh badannya pada pukul 21 malam. Tetapi di balik selimut itu ada cahaya yang tak pernah padam diikuti oleh gerakan jari dan badan yang bergerak ke kiri ke kanan. Dan akan padam ketika mendekati tengah malam. Walau begitu mbak Aisyah tetap melaksanakan sholat tahajud meskipun sedikit telat. Ah iya, sering kudengar hpnya berdering bukan karena alarm tetapi seperti dering telepon sehingga mbak Aisyah dengan sigap terbangun.
Gerak gerik yang terlihat aneh karena itu adalah mbak Aisyah. Mungkin bila itu terjadi padaku pastilah sudah bukan menjadi keanehan lagi. Aku semakin yakin bahwa mbak Aisyah sedang jatuh cinta. Senyum-senyum sendiri karena jatuh cinta sudah pernah kualami sekian tahuuun yang lalu kala masih duduk di bangku SMP. Sehingga bukan rahasia sulit lagi untuk memecahkan keanehan pada diri mbak Aisyah.
Mbak Aisyah adalah sosok yang pandai mengunci rapat privasi hidupnya. Entah itu kesedihan, kegundahan, kerisauan ataupun kebahagiaan yang meluap-luap. Setelah kuyakin mbak Aisyah sedang jatuh cinta aku tidak pernah memaksan diri ini untuk mengintrogasi mbak Aisyah. Hanya saja ada rasa penasaran yang teramat. Siapa sih sosok lelaki yang dapat mengubah prinsip HP bukanlah segalanya menjadi begitu seketika berharga dalam hidup mbak Aisyah.
Mbak Aisyahku, sama seperti yang lain akupun menaruh rasa penasaran yang begitu mengumpal di hati. Pasalnya acap kali ketika aku tak sengaja berpapasan dengan teman mbak Aisyah, selalu bertanya ."Eh... Ray, kamu temen sekamarnya Aisyah kan?" lalu berlanjut dengan basa basi yang singkat dan terungkaplah pertanyaan. "Aisyah lagi deket sama siapa?" Setelah dipikir lagi memang banyak sekali yang penasaran dengan kisah cintanya mbak Aisyah. Aku pun juga tak pernah mendengar ataupun bertanya perihal laki-laki yang disukai ataupun sedang pedekate dengan siapa. Yaiyalah kan yang selalu curhat masalah cowo selalu aku, aku dan aku. Dan hebatnya mbak Aisyah selalu memberikan jawaban yang memuaskan walau ada keyakinan kuat bahwa menurutku mbak Aisyah akan memilih jalan jomblo fii sabilillah.
Dia itu sungguh mengangumkan. Selama ini jalan hidupnya lurus-lurus aja tanpa ada rasa risau melanda dalam hatinya walau jomblo. Senyum selalu mekar pagi, siang sampai doa tidur akan terlantunkan secara lirih saat mata akan terpejam. Tak pernah kulihat galau karena urusan cowo, padahalkan di usia seperti ini harusnya banyak cobaan yang berusaha menerobos hati sekalipun berdinding beton.
Apakah dinding beton itu kini telah diruntuhkan oleh si laki laki misterius itu? Pasti bukan sembarang lelaki yang mampu menelusup celah-celah kesucian hati mbak Aisyah selama ini. Hmmm kok aku jadi penasaran ya.
Bukan Raya namanya kalau tidak kepo tentang kehidupan orang lain. Aku tahu akan sulit mendapatkan jawaban tentang siapa lelaki misterius itu. Aku tak langsung bertanya tentang siapa sosok yang mampu menciptakan keanehan pada diri mbak Aisyah. Tak disangka justru mbak Aisyah langsung ke poin yang menjadi titik rasa penasaranku. Oh jadi lelaki itu yang sudah membuat mata mbak Aisyah berbinar lebih terang dari biasanya.
Dialah Syauqi, lelaki tampan dan sholeh dari kampus sebelah. Syauqi adalah pembaca Al qur'an yang begitu merdu dalam pembukaan seminar nasional dengan bintang tamu Hanan Attaki. Di sesi tanya jawab mbak Aisyah menjadi penanya pertama dari akhwat dan dari ikhwan Syauqi lah penanyanya. Di akhir sesi mereka berdua menjadi penanya terbaik sehingga mengharuskan mereka maju untuk mendapat bingkisan. Tak selesai di situ, di akhir acara mereka juga mendapat kesempatan berbincang di belakang panggung bersama Hanan Attaki. Dari situlah jatuh cinta pandangan pertama tumbuh di benak masing-masing.
Mbak Aisyah yang cuek sengaja selalu mengalihkan pandangan dari Syauqi padahal hatinya telah merekah. Syauqi tak kehabisan akal, dia mencari nama dan no HP mbak Aisyah dari daftar nama pengunjung semnas. Salam terjawab salam. Ungkapan pujian mengalir deras dari keduanya yang memang telah diliputi rasa kagum. Diskusi keagamaan, politik dan pengetahuan lainnya membuat keduanya seakan diikat agar terus tersambung. Syauqi juga memberanikan diri menemui mbak Aisyah di masjid kampus. Pertemuan itu ternyata tak hanya sekali. Mbak Aisyah hampir lengah dan terperdaya.
Kedekatan dengan Syauqi diakui oleh mbak Aisyah memang telah merubah banyak kehidupannya. Rasa resah sering kali menghantui hati suci yang selama ini teguh dengan prinsipnya. Mbak Aisyah juga mengaku jika waktunya banyak terbuang sia-sia karena sering chatingan. Waduh, bagaimana dengan waktuku yang selama ini scroll scroll instagram berjam-jam. Hehe merasa kesindir deh. Mbak Aisyah juga mengakui hatinya sering menyesali pertemuan berjam-jam itu. Walau memang hatinya bahagia sekali ketika dapat berbincang dan tertawa bersama. Tetapi mata mereka sering bertemu dan itu yang membuat hati mbak Aisyah semakin gundah. Kedua mata itu menyiratkan rasa cinta yang begitu dalam. Mungkin mbak Aisyah tak akan mampu menolaknya.
Sebelum bibir terlanjur mengatakan. Hati kalah oleh perasaan. Dan hawa nasfu akan menciderai prinsip yang telah tertanam kuat. Mbak Aisyah memilih mundur. Dan meminta Syauqi kembali kepada mbak Aisyah ketika iman keduanya sudah kokoh. Ketika Syauqi siap memintanya kepada Ibu dan adik-adiknya. Iya, mbak Aisyahku hanya menginginkan hubungan yang halal. Ntah berapa lelaki yang telah pupus cintanya ditolak oleh mbak Aisyah. Tetapi aku mendukung penuh keputusan mbak Aisyah. Pacaran hanya akan membuat hati resah. Apa yang pernah aku alami tak boleh mbak Aisyah rasakan juga. Biarlah hati yang suci akan tetap menjadi suci hingga tersentuh oleh hati yang suci pula.
Mbak Aisyah telah mampu memenangkan hatinya. Aku tahu, jatuh cinta kepada orang yang sesuai dengan harapan kita dan terbalas itu rasanya nano nano. Dan mbak Aisyah mampu menahan itu semua. Mbak Aisyah .... andai aku sepertimu cukuplah aku hanya merasakan sakit sekali saja. Semoga jika Syauqi adalah jodohmu dia akan kembali dengan iman yang kokoh dan niat yang baik melamarmu ya mbak. Aaaminn.
*******
Ada rasa sesak ketika mbak Aisyah mengatakan akan cuti kuliah selama satu atau dua semester. Keputusan ini telah ia pertimbangkan dengan sangat matang dan waktu yang tak singkat. Walau semua dosen sangat menyayangkan keputusan yang membuat hati sucinya dilema berhari-hari. Tapi ini memang harus mbak Aisyah lakukan dan tak bisa ditawar-tawar lagi.
Aku tahu selama hampir dua minggu ini mbak Aisyah dilema akut. Ia sholat lebih lama, berdoa lebih panjang dan sunnahnya dikencangkan. Selalu ada bulir tipis yang menetes di sudut matanya walau terus diusap namun semakin deras mengalir. Ia tak mau mengecewakan berbagai pihak. Keputusan matang diambil setelah konsultasi sana sini. Mahasiswa berbeasiswa tidak dibolehkan cuti dan mahasiswa aktif seperti mbak Aisyah dilarang cuti oleh teman-temannya. Tapi semua mengerti. Mereka berberat hati membiarkan mbak Aisyah cuti. Tapi mbak Aisyah begitu lunglai lemas seakan kupu kupu yang kehilangan sayapnya. Tak tega aku ini mbak melihat matamu begitu sayu tanpa binarannya.
Berulang kali mbak Aisyah bertanya padaku soal langkah terbaiknya yang harus diambil. Namun aku hanya seorang Raya yang tak sepandai mbak Aisyah dalam memberi saran. Tapi memang siapa pun akan sulit memberi solusi. Bagaimana tidak, ibu mbak Aisyah masuk rumah sakit lagi. Lambung akut yang memang sudah diderita lama kini kambuh dan membuat beliau tak berdaya di rumah sakit. Kedua adiknya yang masih SD dan SMP harus tetap sekolah, tidak boleh bolos. Sehingga ibunya di rumah sakit sendirian ketika ke dua adiknya sekolah.
Bersyukurnya, biaya rumah sakit ditanggung pemerintah namun kebutuan pribadi tetap mbak Aisyah yang harus berjuang. Mbak Aisyah juga bingung bila dia harus cuti maka tak akan ada lagi penghasilan. Seperti yang semua ketahui, ia kuliah sambil kerja. Lalu kalau cuti dan pulang, ia harus kerja di mana untuk memenuhi semua kebutuhan rumah dan sekolah adik-adiknya.
Keputusan harus segera diambil karna ia tak kuasa membayangkan ibunya sendirian di rumah sakit. Mbak Aisyah tak peduli bagaimana hidupnya setelah ia cuti. Ia hanya cukup meyakinkan pada hatinya bahwa semua akan mudah. Allah akan menolongnya dan memberi rezeki yang tak disangka-sangka. Itulah yang kukagumi dari mbak Aisyah, selalu yakin ada titik cahaya direlung yang gelap gulita. Optimis akan bisa melalui dengan mudah.
Hari masih gelap. Mentari pagi terlihat malas malas menampakkan kegagahannya. Embun dengan nakalnya masih membasahi apa pun yang tak terlindung. Sepagi itu hanya ada satu-dua lalu lalang melintasi jalan raya yang selalu padat di pagi hingga menjelang malam. Mbak Aisyah kuantar ke terminal bus kota. Aduh berat rasanya melepas mbak Aisyah tak tega juga membiarkan pulang sendirian dengan hatinya yang sesak. Kupeluk erat cukup lama dan tak terasa pipiku basah.
Dalam suara yang lirih, mbak Aisyah berbisik, "Ray, jangan lupa sholat lima waktunya doain ibuku dan aku ya, jangan keluar malam untuk nongkrong, tugas kuliahnya dikerjain tepat waktu dan satu lagi, jangan suka php'in cowok hehehe" ada senyum tipis mengulum di bibirnya. Aduh pesan terakhir buatku nyengir merasa malu.
Aku hanya mengangguk dan senyum tipis. Namun pipiku semakin basah nggak mau ditinggal lama oleh mbak Aisyahku. Dalam hatiku, aku berjanji akan melaksanakan semua pesan itu. Bagiku mbak Aisyah bukan hanya sahabat tapi guru spiritual
yang tak mungkin kukecewakan.
Hampir seminggu setelah kepulangan mbak Aisyah tak kudengar kabarnya sama sekali. Hpnya tak bisa ditelpon dan tak tahu harus menghubungi siapa. Aku hanya berharap mbak Aisyah dan keluarganya dalam keadaan baik, ibunya segera sembuh dan mbak Aisyah kembali kuliah.
Rasa khawatir yang mendera selama hilangnya kabar mbak Aisyah terjawab juga. Ternyata mbak Aisyah menjual hpnya untuk tambahan kebutuhan adik-adiknya. Kini ia juga bekerja di sekolah SMAnya dulu sebagai petugas Tata Usaha dan mengajar ekstrakulikuler Pramuka. Selain itu, di rumahnya ia juga membuka les privat untuk SD dan SMP.
Mbak Aisyah memang bagai cahaya dalam kegelapan. Situasi gelap yang melandanya segera ia ubah dengan cahaya yang menerangi setiap kemudahannya. Ia tak pernah mendahulukan keluh kesahnya. Selalu berfikir positif dan menanamkan jiwa optimis walau ia tak tahu harus berbuat apa. Yang paling penting, jalani saja dulu sebisa mungkin dengan usaha dan do'a yang kenceng.
Kenyataan yang kuketahui dari sosok berbakti yaitu mbak Aisyah membuatku berfikir lebih mendalam. Tentang sikapku yang tak baik selama ini kepada orang tuaku. Sekali lagi dan berulang kali mbak Aisyah membuka keegoisanku. Dan aku selalu bersyukur tentang itu.
Keadaan ibu mbak Aisyah jauh lebih baik dan sudah bisa melakukan aktifitas secara mandiri. Namun mbak Aisyah mengurungkan niatnya untuk kembali kuliah. Ia tak tega meninggalkan ibunya untuk mengurusi rumah. Ibunya tak boleh capek. Mbak Aisyah punya PR ringan yang tampak berat. Ia harus membuat adik adiknya yang kedua lelaki telaten seperti perempuan. Harus bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah. Kecuali masak, bagi ibunya masak bukanlah pekerjaan berat. Cukup memasak tanpa mencuci peralatan masak. Ia tak akan kembali sebelum melihat kenyataan bahwa adik adiknya dapat dipercaya.
Semua menunggu mbak Aisyah kembali. Tapi semua lebih menunggu mbak Aisyah kembali dengan keceriaan. Dengan senyum tanpa beban menggunung di pundak. Tanpa air mata yang merusak binarnya. Semua rindu dengan aura positif yang mbak Aisyah tebarkan. Rindu pula dengan manisnya senyum yang meronakan pipinya. Yang membuat binar matanya semakin elok dipandang.
Bersyukurnya, biaya rumah sakit ditanggung pemerintah namun kebutuan pribadi tetap mbak Aisyah yang harus berjuang. Mbak Aisyah juga bingung bila dia harus cuti maka tak akan ada lagi penghasilan. Seperti yang semua ketahui, ia kuliah sambil kerja. Lalu kalau cuti dan pulang, ia harus kerja di mana untuk memenuhi semua kebutuhan rumah dan sekolah adik-adiknya.
Keputusan harus segera diambil karna ia tak kuasa membayangkan ibunya sendirian di rumah sakit. Mbak Aisyah tak peduli bagaimana hidupnya setelah ia cuti. Ia hanya cukup meyakinkan pada hatinya bahwa semua akan mudah. Allah akan menolongnya dan memberi rezeki yang tak disangka-sangka. Itulah yang kukagumi dari mbak Aisyah, selalu yakin ada titik cahaya direlung yang gelap gulita. Optimis akan bisa melalui dengan mudah.
Hari masih gelap. Mentari pagi terlihat malas malas menampakkan kegagahannya. Embun dengan nakalnya masih membasahi apa pun yang tak terlindung. Sepagi itu hanya ada satu-dua lalu lalang melintasi jalan raya yang selalu padat di pagi hingga menjelang malam. Mbak Aisyah kuantar ke terminal bus kota. Aduh berat rasanya melepas mbak Aisyah tak tega juga membiarkan pulang sendirian dengan hatinya yang sesak. Kupeluk erat cukup lama dan tak terasa pipiku basah.
Dalam suara yang lirih, mbak Aisyah berbisik, "Ray, jangan lupa sholat lima waktunya doain ibuku dan aku ya, jangan keluar malam untuk nongkrong, tugas kuliahnya dikerjain tepat waktu dan satu lagi, jangan suka php'in cowok hehehe" ada senyum tipis mengulum di bibirnya. Aduh pesan terakhir buatku nyengir merasa malu.
Aku hanya mengangguk dan senyum tipis. Namun pipiku semakin basah nggak mau ditinggal lama oleh mbak Aisyahku. Dalam hatiku, aku berjanji akan melaksanakan semua pesan itu. Bagiku mbak Aisyah bukan hanya sahabat tapi guru spiritual
yang tak mungkin kukecewakan.
Hampir seminggu setelah kepulangan mbak Aisyah tak kudengar kabarnya sama sekali. Hpnya tak bisa ditelpon dan tak tahu harus menghubungi siapa. Aku hanya berharap mbak Aisyah dan keluarganya dalam keadaan baik, ibunya segera sembuh dan mbak Aisyah kembali kuliah.
Rasa khawatir yang mendera selama hilangnya kabar mbak Aisyah terjawab juga. Ternyata mbak Aisyah menjual hpnya untuk tambahan kebutuhan adik-adiknya. Kini ia juga bekerja di sekolah SMAnya dulu sebagai petugas Tata Usaha dan mengajar ekstrakulikuler Pramuka. Selain itu, di rumahnya ia juga membuka les privat untuk SD dan SMP.
Mbak Aisyah memang bagai cahaya dalam kegelapan. Situasi gelap yang melandanya segera ia ubah dengan cahaya yang menerangi setiap kemudahannya. Ia tak pernah mendahulukan keluh kesahnya. Selalu berfikir positif dan menanamkan jiwa optimis walau ia tak tahu harus berbuat apa. Yang paling penting, jalani saja dulu sebisa mungkin dengan usaha dan do'a yang kenceng.
Kenyataan yang kuketahui dari sosok berbakti yaitu mbak Aisyah membuatku berfikir lebih mendalam. Tentang sikapku yang tak baik selama ini kepada orang tuaku. Sekali lagi dan berulang kali mbak Aisyah membuka keegoisanku. Dan aku selalu bersyukur tentang itu.
Keadaan ibu mbak Aisyah jauh lebih baik dan sudah bisa melakukan aktifitas secara mandiri. Namun mbak Aisyah mengurungkan niatnya untuk kembali kuliah. Ia tak tega meninggalkan ibunya untuk mengurusi rumah. Ibunya tak boleh capek. Mbak Aisyah punya PR ringan yang tampak berat. Ia harus membuat adik adiknya yang kedua lelaki telaten seperti perempuan. Harus bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah. Kecuali masak, bagi ibunya masak bukanlah pekerjaan berat. Cukup memasak tanpa mencuci peralatan masak. Ia tak akan kembali sebelum melihat kenyataan bahwa adik adiknya dapat dipercaya.
Semua menunggu mbak Aisyah kembali. Tapi semua lebih menunggu mbak Aisyah kembali dengan keceriaan. Dengan senyum tanpa beban menggunung di pundak. Tanpa air mata yang merusak binarnya. Semua rindu dengan aura positif yang mbak Aisyah tebarkan. Rindu pula dengan manisnya senyum yang meronakan pipinya. Yang membuat binar matanya semakin elok dipandang.
*******
Dua minggu yang lalu aku menerima telepon dari Yusuf adik pertamaku. Suaranya bergetar mengatakan keadaan ibu yang tak berdaya berbaring di kasur rumah sakit. Kabar buruk itu melemaskan sendi sendi tulangku. Aku yang kala itu sedang menuruni tangga gedung jurusan mendadak terduduk lesuh di anak tangga. Tak terasa buliran tipis menestes dari sudut mataku.
Tanpa bertanya terlebih dulu aku bisa pulang atau enggak dia memintaku pulang secepatnya. Aku tak mempedulikan aktifitas kuliahku yang sedikit riweh karena proses penelitian skripsi, "Mbak akan pulang secepatnya," begitulah kataku. Sejak itulah aku berfikir keras mengatur semuanya agar tak ada yang disesalkan di kemudian hari.
Aku segera kembali ke kos karena tak ada jam kuliah lagi. Kakiku mengayun dengan cepat sedikit meloncat-loncat seperti akan diterkam oleh derasnya hujan. Bruk!Aku tersungkur. Kakiku terbelit rok panjangku sendiri. Sakit tapi tak sesakit sesaknya hatiku memikirkan keadaan ibu. Berdiri pun terasa berat seperti sedang tertimpa beton besar. Ya Allah...kuatkan hamba-Mu ini.
Tak boleh rapuh. Aku lah kekuatan mereka. Sayapku harus terus mengepak agar aku bisa terbang menggapai keindahan langit. Mataku tak boleh basah oeh kelemahan. Senyumku tak boeh pudar agar risauku tidak semakin menjadi. Allah ada untukku.
Raya yang berada di pojokan kasur sedang bermain HP langsung kupeluk erat. Air mataku tak dapat terbendung lagi. Aku sesenggukan sejadi-jadinya. Setelah beberapa lama Raya menyarankanku istighfar dan mengambil air wudhu. Itulah yang biasanya kusarankan padanya.
Dalam setiap sujud panjangku diiringi derai air mata kupanjatkan doa memohohan kesembuhan ibu. Kadang ketika selepas dhuha aku sampai lupa waktu untuk berangkat kuliah. Pikiranku sudah tak sampai untuk mengikuti perkuliahan. Hatiku begitu gundah gulana membayangkan keadaan ibu yang semakin memburuk setiap harinya. Tapi aku harus menyelesaikan tanggungjawabku dan tidak mengecewakan beberapa pihak.
Waktu dua minggu menjadi jadwal sibuk dalam hidupku. Bertemu Dosen Penasehat, Ketua Jurusan, Dekan sampai bagian beasiswa. Dengan berat hati aku harus mengikhlaskan beasiswaku dicabut dan mengurus kembali ketika aku aktif kuliah. Juga berusaha mencari kesepakatan penelitian skripsi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sehingga ketika aku kembali entah kapan itu kuliah bisa segera kuselesaikan.
Berpamitan kepada majikan tempatku bekerja juga menjadi tujuan utama. Agak berat mengatakan berhenti karena mereka sudah kuanggap keluarga. Aku beruntung bertemu dengan mereka yang tak pernah memaksaku bekerja di jam kuliah meski aku memang bekerja untuk mereka. Bunda Noi dan Ayah Noi justru memberiku uang saku dua kali lipat dari gajiku, Masya Allah Alhamdulillah wa Syukurillah.
Keputusan cuti dengan tempo waktu yang akupun tak tahu sampai kapan mungkin akan membuat hati Raya berat. Sejak aku berkata harus pulang dia terus-menerus menawarkan diri ikut ke kampung halaman untuk membantuku. Jelas dengan lembut aku menolaknya. Dia harus kuliah dan mengejar ketertinggalan beberapa mata kuliah yang dulu pernah dia tinggalkan. Raya harus membayar utang waktu untuk mengulang mata kuliah dan tak mengecewakan orang tuanya.
Kusadari teman sekamarku yang seperti petasan itu memang sangat peduli kepadaku. Setelah kularang ikut dia berniat ingin mengantarku pulang sampai tujuan, namun kutolak. Dia terus bergeming takut jika hidupnya berantaka lagi. Tugas kuliahnya menumpuk, mata kuliah tak lulus, pulang malam, hamburkan uang dan terlebih meninggalkan sholat. Tapi kuyakinkan padanya, dia berubah bukan karena aku tapi karena Allah dan kedua orang tua. Semoga kamu bisa jadi lebih baik dari yang aku harapkan ya Ra.
Sebelum naik bus aku berpesan lirih pada Raya "Ray, jangan lupa sholat lima waktunya doain ibuku dan aku ya, jangan keluar malam untuk nongkrong, tugas kuliahnya dikerjain tepat waktu dan satu lagi, jangan suka php'in cowok hehehe" Senyumnya tersipu. Dari jendela kulihat kesedihan di raut mukanya. Semoga kita segera berjumra Ra...
Setelah 10 jam perjalanan dari Surabaya ke Purwokerto tak membuatku lelah. Aku langsung menuju kamar rumah sakit ibu. Kupandangi wanita setengah baya yang kurus kering sedang tertidur pulas. Raut mukanya pucat pasi tak berdaya. Rambutnya semakin banyak yang memutih. Oh ibuku, kaulah juga ayahku yang bekerja keras banting tulang hingga tak dapat lagi bergerak bebas. Aku rapuh. Aku sesak melihatmu seperti ini untuk kesekian kali. Tapi aku kuat untuk menjadikan aku sebagai kekuatanmu ibu.
***
Mengandalkan uang pemberian keluarga Noi beberapa waktu lalu dan menjual Hp tidak akan cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Setelahkeadaan ibu membaik, ibu dinyatakan boleh pulang. Aku putuskan untuk mendatangi SMAku yang termasuk favorit di Purwokerto. Melemar kerja jadi apapun itu.
Tak kusangka sekolah menyambut baik lamaranku. Aku menjadi admin di ruang Tata Usaha. Sungguh aku semakin terpesona dengan segala kemudahan yang Allah berikan kepadaku. Cara Allah memberikan rezeky tak bisa ditebak, aku terkejut luar biasa. Sekolah juga memintaku menjadi kakak pembina pramuka. Aku menerima dengan antusias dan tak hentinya-hentinya bersyukur kepada Allah.
Tetangga sekitar rumah juga menyarankanku membuka les privat untuk mengajari anak-anaknya. katanya, jika besar nanti agar bisa kuliah sepertiku. Memang sih di kampung kecilku ini masih aku yang memulai merantau untuk kuliah di luar kota. Awalnya cibiran yang justru diterima oleh keluargaku. Tapi melihat aku yang jutsru dapat membantu ibu dan adik-adik jutsru berubah jadi kebanggakan desa.
Kini desa percaya kepadaku jika suatu hari nanti aku dapat membawa perubahan besar. Di mulai dari perubahan kecil untuk meningkatkan minat baca dan belajar untuk anak-anak.
Tak ada kesepakatan tarif di setiap pertemuan. Aku menerima seikhlasnya yang mereka mampu karena aku tahu keadaan mereka hampir sepertiku. Tapi justru sering kali aku mendapatkan lebih. Kepercayaan mereka semakin bertamabah di kala satu persatu dari mereka mulai berani ikut berbagai olimpiade. Tak sedikit juga yang membawa pulang piala. Masya Allah... wahai kekasihku terimalah persembahan cintaku di setiap sujudku.
Aktifitas padat ini membantuku untuk tak terlalu memikirkan kuliah yang terpaksa kutinggalkan. Raya dan teman-teman lambat laun mengerti dengan keadaan yang harus aku jalani. Aku masih memiliki segudang PR sebelum kembali ke bangku kuliah. Membelikan ibu obat setiap kali akan habis. Mengantar ibu kontrol ke dokter sebulan sekali. Membiyayai semua kebutuhan keluarga, mulai dari makan, listrik, sekolah dan kebutuhan lainnya.
Jangka panjangnya aku mempersiapkan tabungan untuk ibu dan adek-adek ketika aku kembali kuliah. Juga untuk keperluan kuliahku yang semakin banyak menjelang skripsian. Setelahnya apa kata Allah dengan usaha kerasku nanti.
wahai kekasihku, aku tahu Engkau memberikan cobaan padaku tak melebihi kemampuanku. Setiap detik aku menikmati proses hidup yang kau takdirkan untukku. Begitu indah membuai. Peluklah aku semakin erat. Tegurah aku jika hamba-Mu ini terlena lupa bersyukur. Terimalah persembahan cintaku di setiap sujud.
*******
Masa depan cemerlang telah menanti. Gelar pendidikan dan prestasi kebanggaan tak sabar dibawa ke kampung halaman dengan rasa syukur. Tak perlu risau setelah tali toga dipindahkan. Tak perlu tanya, akan ke manakah kaki melangkah. Dedikasi penuh cinta tlah menanam kepercayaan berbagai pihak.
Mbak Aisyah yang gigih dengan hormat telah diminta menjadi seorang guru di SMAnya dulu. SMA favorit pencetak siswa siswi berprestasi dan berkarakter seperti mbak Aisyah.
Pemerintah desa setempat juga mendukung aksi mbak Aisyah dalam pembangunan Bimbingan Belajar secara profesional dan terarah. Adik-adik SD dan SMP dibimbing mengenai akademik dan bakat. Adik-adik SMA akan diarahkan mengenai kuliah dan dunia kerja. Bagi yang mampu ada tarif dan yang tidak mampu asal niat, tentu gratis. Mbak Aisyah akan mendapat kompensasi dari perangkat desa. Pemerintah desa percaya, mbak Aisyah bisa menjadi pelopor kesuksesan muda mudi desanya. Bahkan dalam canda, Ia ditawari jadi wakil kepala desa dalam pemilihan selanjutnya. Hust! Ini rahasia ya.
Buah manis ini sangat disyukuri mbak Aisyah. Menyakini itu semua akan cukup memenuhi biaya hidupnya dan semua anggota keluarga.
"Aisyah, S.Pd, predikat cumloud dengan IPk 3,98 dari Jurusan. Putri Alm. Bapak Abu Bakar dan Ibu Siti Asiah. Dimohon untuk berdiri di podium mewakili wisudawati Wisudawan hari ini"
Mbak Aisyah melangkah dengan tegap dan percaya diri. Pandangan lurus ke depan menatap panggung dengan kikuk. Setelah bersalaman dengan semua dosen di atas panggung, mbak Aisyah berdiri di podium. Siap menyampaikan sambutan yang entah bagaimana bunyinya. Karena mbak Aisyah tak sedikitpun mempersiapkan secara lisan maupun goresan dikertas. Walau sehari sebelumnya mbak Aisyah sudah diminta menyiapkan sepatah patah kata.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh" Senyum mengembang mewarnai pipi merahnya.
Mbak Aisyah terlihat diam sejenak. Menarik nafas begitu dalam. Matanya juga terpejam. Terasa berat sekali sebagai seorang wisudawati terpilih yang harusnya telah fasih menguasai panggung. Tapi mbak Aisyah berberat hati. Ingin rasanya turun dan lari dari acara wisuda ini.
Membuka mata. Menghadapi kenyataan "Alhamdulillah... Puji syukur saya panjatkan kepada Sang Pemilik Takdir Allah Swt. menjadikan saya sekarang berdiri di sini. Shalawat dan Salam saya haturkan pada Nabi Agung Muhammad Saw., Keluarga, serta Para Sahabat. Terima kasih saya sampaikan kepada keluarga saya, Bapak Ibu Dosen yang begitu berjasa atas gelar yang saya dapatkan. Dan Juga terimakasih kepada teman-teman seperjuangan saya, kalian luar biasa baik dan hebat."
Mbak Aisyah kembali memejamkan mata. Menarik nafas dalam seperti berusaha menghilangkan sesak yang sedari tadi menggumpal begitu menghujam dada. Kali ini terlihat samar samar mata yang berbinar itu terlihat memerah. Menahan bongkahan krital bening yang berusaha ditahan. Sekuat hati mbak Aisyah melanjutkan.
"Sebenarnya saya sangat bermimpi, moment ini ditemani oleh orang yang selama ini saya perjuangkan. Saya ingin sekali mempersembahkan moment spesial ini pada ibu saya. Sedikit cerita, semoga menginspirasi teman-teman untuk selalu semangat. Sebelum saya berhasil berdiri di depan teman-teman dan bapak ibu wali mahasiswa, saya sempat cuti satu tahun. Ketika itu tinggal menjalani penelitian proses akhir. Namun saya harus pulang ke purwakarta karena ibu saya sedang berada di Rumah Sakit. Adik saya dua, masih SD dan SMP. Jadi memang harus pulang dalam waktu lumayan lama. Ketika cuti saya melepaskan beasiswa dan mulai bekerja apapun yang penting ibu sehat, adik-adik tetap sekolah dan dapur tetap mengepulkan asap alias kami bisa makan.
Saya ngelesi adik-adik SD,SMP dan SMA. Ada yang bayar seikhlasnya, ada yang bayar pakai beras dan ada yang enggak bayar sama sekali. Saya juga jadi staf atau bagian kantor, kadang operator, kadang supir motor ibu guru yang mau rapat jauh, saya juga ngajar pramuka. Lalu setengah tahun berlalu saya beranikan ke SMA saya dulu, melobi bapak ibu guru yang dulu cukup dekat dengan saya. Karena saya belum memiliki gelar S1, saya cukup jadi pegawai Tata usaha lagi, kadang juga diperpus, dikoperasi dan juga pramuka. Sampai pada masa di mana ibu saya sudah terlihat sehat, saya kembali kuliah mengejar waktu yang terus berjalan. Dan tibalah, H-2 minggu sebelum wisuda saya pulang dengan tujuan akan menjemput ibu dan adik adik untuk turut hadir di acara wisuda pada hari ini. Tapi sepandai pandainya manusia berencana, tetaplah Sang Maha Takdir yang berkuasa. Dua hari lalu saya kembali ke sini, sedirian. Karena....ka kar karena ...hiks Almarhum ibu saya telai usai tujuh harian."
Deg! Air mata yang sedari tadi ditahan terjungkal juga. Deras, diseka berkali kali tetap jatuh dan jatuh. Setiap kali akan membuka mulut melanjutkan bicara, tangan mbak Aisyah kembali menutup mulut menahan suara tangis yang berjubel ingin bersua.
Ibu dosen Kepala Program Studi, menghampiri mbak Aisyah dan memeluk erat, erat sekali. Keduanya hanyut dalam tangis yang begitu sesak. Pun semua hadirin tak terasa turut menetaskan air mata. Ada yang meronta-ronta sambil memeluk kedua orang tuanya. Ada yang gagal menahan tangis, berkali - kali menyaka tetap jatuh juga. Dan ada yang berusaha tersenyum berkaca-kaca menguatkan mbak Aisyah, yaitu Raya, yang sudah tahu semuanya. Suata tangis bak paduan suara menggema cukup lama diseantro gedung. Mbak Aisyah menyadari bahwa tangisnya membuat sedih semua hadirin. Mengumpulkan kekuatan yang tersisa. Menarik nafas dalam dalam. Menata ketegaran yang sudah benar benar rapuh. Dengan sesekali terisak, Aisyah terbata-bata melanjutkannya.
"Maaf..Maaf cukup ini yang bisa saya sampaikan. Untuk teman teman tetap semangat, perjuangkan yang memang harus kalian perjuangkan. Gunakan waktu sebaiknya. Saya yakin di luar sana ada banyak yang kisahnya jauh lebih sedih. Maka dari itu, yuk sama sama berjuang dan yakin, kita pasti bisa. Insya Allah, wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh"
Gemuruh tepuk tangan hadirin hanya untuk mbak Aisyah. Atmosfer kebanggan terpancar disetiap sudut bibir hadirin yang terasa mengembang ikhlas tanpa diminta. Tampaknya kali ini tak hanya Raya maupun sahabat sahabatnya yang terinspirasi tapi seluruh hadirin digedung wisuda ini.
Mbak Aisyah, kamu wanita kuat luar biasa, meneduhkan dan menyejukkan. Selepas pahitnya hidup yang kau jalani, semoga kisah manis segera menjemputmu. Bertemu dengan orang orang baik yang dengan tulus akan membantumu dikala tanganmu butuh uluran.
Semoga kelak ketika kau tlah mencapai titik terlelahmu. Dan titik itu sebagai pencapaian sukses yang kau impi impikan. Adik adikmu juga telah hidup kecukupan tanpa kau risau tentang masa depannya. Semoga disaat itulah akan datang pangeran sholeh yang akan menjadikanmu ratu bidadari. Memberikan kehidupan bahagia bak disurga.
Terima kasih sudah banyak berjasa. Aku juga ada digedung wisuda ini bersamamu adalah berkat kecerewetan agar aku bisa lulus setelah molor satu tahun. Sampai Jumpa lagi mbak Aisyah. Pertemuan dengan orang sebaik kamu akan selalu kunantikan...
karya oleh : Maria Umma Dewi, S.S
IG : @ayeshahidroponikbwi
youtube : ayeshahidroponik3799
fb : Maria Umma Dew

Komentar
Posting Komentar