Langsung ke konten utama

Binar Mata Aisyah : Akhir Sebuah Kisah

    


Masa depan cemerlang telah menanti. Gelar pendidikan dan prestasi kebanggaan tak sabar dibawa ke kampung halaman dengan rasa syukur. Tak perlu risau setelah tali toga dipindahkan. Tak perlu tanya, akan ke manakah kaki melangkah. Dedikasi penuh cinta tlah menanam kepercayaan berbagai pihak.
   Mbak Aisyah yang gigih dengan hormat telah diminta menjadi seorang guru di SMAnya dulu. SMA favorit pencetak siswa siswi berprestasi dan berkarakter seperti mbak Aisyah.
   Pemerintah desa setempat juga mendukung aksi mbak Aisyah dalam pembangunan Bimbingan Belajar secara profesional dan terarah. Adik-adik SD dan SMP dibimbing mengenai akademik dan bakat. Adik-adik SMA akan diarahkan mengenai kuliah dan dunia kerja. Bagi yang mampu ada tarif dan yang tidak mampu asal niat, tentu gratis. Mbak Aisyah akan mendapat kompensasi dari perangkat desa. Pemerintah desa percaya, mbak Aisyah bisa menjadi pelopor kesuksesan muda mudi desanya. Bahkan dalam canda, Ia ditawari jadi wakil kepala desa dalam pemilihan selanjutnya. Hust! Ini rahasia ya.
    Buah manis ini sangat disyukuri mbak Aisyah. Menyakini itu semua akan cukup memenuhi biaya hidupnya dan semua anggota keluarga.
   "Aisyah, S.Pd, predikat cumloud dengan IPk 3,98 dari Jurusan. Putri Alm. Bapak Abu Bakar dan Ibu Siti Asiah. Dimohon untuk berdiri di podium mewakili wisudawati Wisudawan hari ini" 
  Mbak Aisyah melangkah dengan tegap dan percaya diri. Pandangan lurus ke depan menatap panggung dengan kikuk. Setelah bersalaman dengan semua dosen di atas panggung, mbak Aisyah berdiri di podium. Siap menyampaikan sambutan yang entah bagaimana bunyinya. Karena mbak Aisyah tak sedikitpun mempersiapkan secara lisan maupun goresan dikertas. Walau sehari sebelumnya mbak Aisyah sudah diminta menyiapkan sepatah patah kata. 
  "Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh" Senyum mengembang mewarnai pipi merahnya. 
Mbak Aisyah terlihat diam sejenak. Menarik nafas begitu dalam. Matanya juga terpejam. Terasa berat sekali sebagai seorang wisudawati terpilih yang harusnya telah fasih menguasai panggung. Tapi mbak Aisyah berberat hati. Ingin rasanya turun dan lari dari acara wisuda ini. 
   Membuka mata. Menghadapi kenyataan "Alhamdulillah... Puji syukur saya panjatkan kepada Sang Pemilik Takdir Allah Swt. menjadikan saya sekarang berdiri di sini. Shalawat dan Salam saya haturkan pada Nabi Agung Muhammad Saw., Keluarga, serta Para Sahabat. Terima kasih saya sampaikan kepada keluarga saya, Bapak Ibu Dosen yang begitu berjasa atas gelar yang saya dapatkan. Dan Juga terimakasih kepada teman-teman seperjuangan saya, kalian luar biasa baik dan hebat."
   Mbak Aisyah kembali memejamkan mata. Menarik nafas dalam seperti berusaha menghilangkan sesak yang sedari tadi menggumpal begitu menghujam dada. Kali ini terlihat samar samar mata yang berbinar itu terlihat memerah. Menahan bongkahan krital bening yang berusaha ditahan. Sekuat hati mbak Aisyah melanjutkan.
"Sebenarnya saya sangat bermimpi, moment ini ditemani oleh orang yang selama ini saya perjuangkan. Saya ingin sekali mempersembahkan moment spesial ini pada ibu saya. Sedikit cerita, semoga menginspirasi teman-teman untuk selalu semangat. Sebelum saya berhasil berdiri di depan teman-teman dan bapak ibu wali mahasiswa, saya sempat cuti satu tahun. Ketika itu tinggal menjalani penelitian proses akhir. Namun saya harus pulang ke purwakarta karena ibu saya sedang berada di Rumah Sakit. Adik saya dua, masih SD dan SMP. Jadi memang harus pulang dalam waktu lumayan lama. Ketika cuti saya melepaskan beasiswa dan mulai bekerja apapun yang penting ibu sehat, adik-adik tetap sekolah dan dapur tetap mengepulkan asap alias kami bisa makan.
Saya ngelesi adik-adik SD,SMP dan SMA. Ada yang bayar seikhlasnya, ada yang bayar pakai beras dan ada yang enggak bayar sama sekali. Saya juga jadi staf atau bagian kantor, kadang operator, kadang supir motor ibu guru yang mau rapat jauh, saya juga ngajar pramuka. Lalu setengah tahun berlalu saya beranikan ke SMA saya dulu, melobi bapak ibu guru yang dulu cukup dekat dengan saya. Karena saya belum memiliki gelar S1, saya cukup jadi pegawai Tata usaha lagi, kadang juga diperpus, dikoperasi dan juga pramuka. Sampai pada masa di mana ibu saya sudah terlihat sehat, saya kembali kuliah mengejar waktu yang terus berjalan. Dan tibalah, H-2 minggu sebelum wisuda saya pulang dengan tujuan akan menjemput ibu dan adik adik untuk turut hadir di acara wisuda pada hari ini. Tapi sepandai pandainya manusia berencana, tetaplah Sang Maha Takdir yang berkuasa. Dua hari lalu saya kembali ke sini, sedirian. Karena....ka kar karena ...hiks Almarhum ibu saya telai usai tujuh harian."
 Deg! Air mata yang sedari tadi ditahan terjungkal juga. Deras, diseka berkali kali tetap jatuh dan jatuh. Setiap kali akan membuka mulut melanjutkan bicara, tangan mbak Aisyah kembali menutup mulut menahan suara tangis yang berjubel ingin bersua. 
Ibu dosen Kepala Program Studi, menghampiri mbak Aisyah dan memeluk erat, erat sekali. Keduanya hanyut dalam tangis yang begitu sesak. Pun semua hadirin tak terasa turut menetaskan air mata. Ada yang meronta-ronta sambil memeluk kedua orang tuanya. Ada yang gagal menahan tangis, berkali - kali menyaka tetap jatuh juga. Dan ada yang berusaha tersenyum berkaca-kaca menguatkan mbak Aisyah, yaitu Raya, yang sudah tahu semuanya. Suata tangis bak paduan suara menggema cukup lama diseantro gedung. Mbak Aisyah menyadari bahwa tangisnya membuat sedih semua hadirin. Mengumpulkan kekuatan yang tersisa. Menarik nafas dalam dalam. Menata ketegaran yang sudah benar benar rapuh. Dengan sesekali terisak, Aisyah terbata-bata melanjutkannya.
"Maaf..Maaf cukup ini yang bisa saya sampaikan. Untuk teman teman tetap semangat, perjuangkan yang memang harus kalian perjuangkan. Gunakan waktu sebaiknya. Saya yakin di luar sana ada banyak yang kisahnya jauh lebih sedih. Maka dari itu, yuk sama sama berjuang dan yakin, kita pasti bisa. Insya Allah, wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh"
    Gemuruh tepuk tangan hadirin hanya untuk mbak Aisyah. Atmosfer kebanggan terpancar disetiap sudut bibir hadirin yang terasa mengembang ikhlas tanpa diminta. Tampaknya kali ini tak hanya Raya maupun sahabat sahabatnya yang terinspirasi tapi seluruh hadirin digedung wisuda ini.
   Mbak Aisyah, kamu wanita kuat luar biasa, meneduhkan dan menyejukkan. Selepas pahitnya hidup yang kau jalani, semoga kisah manis segera menjemputmu. Bertemu dengan orang orang baik yang dengan tulus akan membantumu dikala tanganmu butuh uluran.
 Semoga kelak ketika kau tlah mencapai titik terlelahmu. Dan titik itu sebagai pencapaian sukses yang kau impi impikan. Adik adikmu juga telah hidup kecukupan tanpa kau risau tentang masa depannya. Semoga disaat itulah akan datang pangeran sholeh yang akan menjadikanmu ratu bidadari. Memberikan kehidupan bahagia bak disurga.
Terima kasih sudah banyak berjasa. Aku juga ada digedung wisuda ini bersamamu adalah berkat kecerewetan agar aku bisa lulus setelah molor satu tahun. Sampai Jumpa lagi mbak Aisyah. Pertemuan dengan orang sebaik kamu akan selalu kunantikan...

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...