Langsung ke konten utama

Binar Mata Aisyah: Suara Hati Mbak Aisyah


Dua minggu yang lalu  aku menerima telepon dari Yusuf adik pertamaku. Suaranya bergetar mengatakan keadaan ibu yang tak berdaya berbaring di kasur  rumah sakit. Kabar buruk itu melemaskan sendi sendi tulangku. Aku yang kala itu sedang menuruni tangga gedung jurusan mendadak terduduk lesuh di anak tangga. Tak terasa buliran tipis menestes dari sudut mataku.

Tanpa bertanya terlebih dulu aku bisa pulang atau enggak dia memintaku pulang secepatnya. Aku tak mempedulikan aktifitas kuliahku yang sedikit riweh karena proses penelitian skripsi, "Mbak akan pulang secepatnya," begitulah kataku. Sejak itulah aku berfikir keras mengatur semuanya agar tak ada yang disesalkan di kemudian hari.

Aku segera kembali ke kos karena tak ada jam kuliah lagi. Kakiku mengayun dengan cepat sedikit meloncat-loncat seperti akan diterkam oleh derasnya hujan. Bruk!Aku tersungkur. Kakiku terbelit rok panjangku sendiri. Sakit tapi tak sesakit sesaknya hatiku memikirkan keadaan ibu. Berdiri pun terasa berat seperti sedang tertimpa beton besar. Ya Allah...kuatkan hamba-Mu ini.

Tak boleh rapuh. Aku lah kekuatan mereka. Sayapku harus terus mengepak agar aku bisa terbang menggapai keindahan langit. Mataku tak boleh basah oeh kelemahan. Senyumku tak boeh pudar agar risauku tidak semakin menjadi. Allah ada untukku.

Raya yang berada di pojokan kasur sedang bermain HP langsung kupeluk erat. Air mataku tak dapat terbendung lagi. Aku sesenggukan sejadi-jadinya. Setelah beberapa lama Raya menyarankanku istighfar dan mengambil air wudhu. Itulah yang biasanya kusarankan padanya.

Dalam setiap sujud panjangku diiringi derai air mata kupanjatkan doa memohohan kesembuhan ibu. Kadang ketika selepas dhuha aku sampai lupa waktu untuk berangkat kuliah. Pikiranku sudah tak sampai untuk mengikuti perkuliahan. Hatiku begitu gundah gulana membayangkan keadaan ibu yang semakin memburuk setiap harinya. Tapi aku harus menyelesaikan tanggungjawabku dan tidak mengecewakan beberapa pihak.

Waktu dua minggu menjadi jadwal sibuk dalam hidupku. Bertemu Dosen Penasehat, Ketua Jurusan, Dekan sampai bagian beasiswa. Dengan berat hati aku harus mengikhlaskan beasiswaku dicabut dan mengurus kembali ketika aku aktif kuliah. Juga berusaha mencari kesepakatan penelitian skripsi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sehingga ketika aku kembali entah kapan itu kuliah bisa segera kuselesaikan.

Berpamitan kepada majikan tempatku bekerja juga menjadi tujuan utama. Agak berat mengatakan berhenti karena mereka sudah kuanggap keluarga. Aku beruntung bertemu dengan mereka yang tak pernah memaksaku bekerja di jam kuliah meski aku memang bekerja untuk mereka. Bunda Noi dan Ayah Noi justru memberiku uang saku dua kali lipat dari gajiku, Masya Allah Alhamdulillah wa Syukurillah.

Keputusan cuti dengan tempo waktu yang akupun tak tahu sampai kapan mungkin akan membuat hati Raya berat. Sejak aku berkata harus pulang dia terus-menerus menawarkan diri ikut ke kampung halaman untuk membantuku. Jelas dengan lembut aku menolaknya. Dia harus kuliah dan mengejar ketertinggalan beberapa mata kuliah yang dulu pernah dia tinggalkan. Raya harus membayar utang waktu untuk mengulang mata kuliah dan tak mengecewakan orang tuanya.

Kusadari teman sekamarku yang seperti petasan itu memang sangat peduli kepadaku. Setelah kularang ikut dia berniat ingin mengantarku pulang sampai tujuan, namun kutolak. Dia terus bergeming takut jika hidupnya berantaka lagi. Tugas kuliahnya menumpuk, mata kuliah tak lulus, pulang malam, hamburkan uang dan terlebih meninggalkan sholat. Tapi kuyakinkan padanya, dia berubah bukan karena aku tapi karena Allah dan kedua orang tua. Semoga kamu bisa jadi lebih baik dari yang aku harapkan ya Ra.

Sebelum naik bus aku berpesan lirih pada Raya "Ray,  jangan lupa sholat lima waktunya doain ibuku dan aku ya,  jangan keluar malam untuk nongkrong,  tugas kuliahnya dikerjain tepat waktu dan satu lagi,  jangan suka php'in cowok hehehe" Senyumnya tersipu. Dari jendela kulihat kesedihan di raut mukanya. Semoga kita segera berjumra Ra...

Setelah 10 jam perjalanan dari Surabaya ke Purwokerto tak membuatku lelah. Aku langsung menuju kamar rumah sakit ibu. Kupandangi wanita setengah baya yang kurus kering sedang tertidur pulas. Raut mukanya pucat pasi tak berdaya. Rambutnya semakin banyak yang memutih. Oh ibuku, kaulah juga ayahku yang bekerja keras banting tulang hingga tak dapat lagi bergerak bebas. Aku rapuh. Aku sesak melihatmu seperti ini untuk kesekian kali. Tapi aku kuat untuk menjadikan aku sebagai kekuatanmu ibu.


***

Mengandalkan uang pemberian keluarga Noi beberapa waktu lalu dan menjual Hp tidak akan cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Setelahkeadaan ibu membaik, ibu dinyatakan boleh pulang. Aku putuskan untuk mendatangi SMAku yang termasuk favorit di Purwokerto. Melemar kerja jadi apapun itu. 

Tak kusangka sekolah menyambut baik lamaranku. Aku menjadi admin di ruang Tata Usaha. Sungguh aku semakin terpesona dengan segala kemudahan yang Allah berikan kepadaku. Cara Allah memberikan rezeky tak bisa ditebak, aku terkejut luar biasa. Sekolah juga memintaku menjadi kakak pembina pramuka. Aku menerima dengan antusias dan tak hentinya-hentinya bersyukur kepada Allah.

Tetangga sekitar rumah juga menyarankanku membuka les privat untuk mengajari anak-anaknya. katanya, jika besar nanti agar bisa kuliah sepertiku. Memang sih di kampung kecilku ini masih aku yang memulai merantau untuk kuliah di luar kota. Awalnya cibiran yang justru diterima oleh keluargaku. Tapi melihat aku yang jutsru dapat membantu ibu dan adik-adik jutsru berubah jadi kebanggakan desa. 

Kini desa percaya kepadaku jika suatu hari nanti aku dapat membawa perubahan besar. Di mulai dari perubahan kecil untuk meningkatkan minat baca dan belajar untuk anak-anak. 

Tak ada kesepakatan tarif di setiap pertemuan. Aku menerima seikhlasnya yang mereka mampu karena aku tahu keadaan mereka hampir sepertiku. Tapi justru sering kali aku mendapatkan lebih. Kepercayaan mereka semakin bertamabah di kala satu persatu dari mereka mulai berani ikut berbagai olimpiade. Tak sedikit juga yang membawa pulang piala. Masya Allah... wahai kekasihku terimalah persembahan cintaku di setiap sujudku.

Aktifitas padat ini membantuku untuk tak terlalu memikirkan kuliah yang terpaksa kutinggalkan. Raya dan teman-teman lambat laun mengerti dengan keadaan yang harus aku jalani. Aku masih memiliki segudang PR sebelum kembali ke bangku kuliah. Membelikan ibu obat setiap kali akan habis. Mengantar ibu kontrol ke dokter sebulan sekali. Membiyayai semua kebutuhan keluarga, mulai dari makan, listrik, sekolah dan kebutuhan lainnya. 

Jangka panjangnya aku mempersiapkan tabungan untuk ibu dan adek-adek ketika aku kembali kuliah. Juga untuk keperluan kuliahku yang semakin banyak menjelang skripsian. Setelahnya apa kata Allah dengan usaha kerasku nanti.

wahai kekasihku, aku tahu Engkau memberikan cobaan padaku tak melebihi kemampuanku. Setiap detik aku menikmati proses hidup yang kau takdirkan untukku. Begitu indah membuai. Peluklah aku semakin erat. Tegurah aku jika hamba-Mu ini terlena lupa bersyukur. Terimalah persembahan cintaku di setiap sujud. 



Mbak Aisyah Sequel episode 4



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banyuwangi Sebelum dan Setelah di Benahi Azwar Anas

                            Surabaya-Banyuwangi- Sebelum memasuki tahun 2010 nama kabupaten Banyuwangi belumlah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang berseberangan dengan pulau Bali. Jika hendak ke Bali dengan menyeberang lautan harus ke pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Jadilah hanya sebuah Kabupaten tempat singgah saja.  Masyarakat luar Banyuwangi juga hanya mengenal Kabupaten yang kini berjuluk " sun rise of Java " itu dengan desas desus sebagai kota santet. Berita dari mulut ke mulut yang belum tentu benar itu dengan mudah menyebar ke se-antero negeri ini. Banyuwangi juga dikenali dengan keangkeran Alas Purwo yang merupakan peninggalan Majapahit. Padahal di balik hutan atau alas yang terkenal angker itu tersimpan surga yang kini dikenal dengan G-Land. Pendidikan di Banyuwangi pun terbilang rendah. Tidak ada Universitas yang berjuluk negeri. Banyak anak yang...

Senyum Palsu si Mental Illness

( Photo Source: https://aihms.in/blog/importance-of-mental-health/)  Di bawah sinar mentari ia masih tampak bersinar dengan senyum manis menghiasi wajah berjerawatnya. Seperti bunga mawar mekar di pagi hari dengan butiran embun menghiasi kelopak indahnya.  Kaki masih kokoh menopang tubuh yang bergerak lebih sering dari biasanya. Tak terlihat rapuh sedikitpun. Padahal harusnya kaki itu lunglai tak sanggup berjalan. Tapi nyatanya tidak.   Dia justru dituntut menjadi kuat melewati arus deras kehidupan. Melewati badai yang harusnya mampu memporak porandakan hati, mental dan fisiknya.  Dia tak tumbang. Tak juga terlihat pucat diraut mukanya. Senyumnya tak lepas walau kadang tipis. Tidak bersembunyi di dalam goa yang gelap  untuk menghindari tatapan sepasang mata lain. Tidak peduli apa yang bergelayut di kepala manusia-manusia itu.  Titik tertinggi dari rasa kecewa dan amarah telah membuatnya diam. Pasrah dengan ombak besar yang berulang menerjangnya. D...