Ada rasa sesak ketika mbak Aisyah mengatakan akan cuti kuliah selama satu atau dua semester. Keputusan ini telah ia pertimbangkan dengan sangat matang dan waktu yang tak singkat. Walau semua dosen sangat menyayangkan keputusan yang membuat hati sucinya dilema berhari-hari. Tapi ini memang harus mbak Aisyah lakukan dan tak bisa ditawar-tawar lagi.
Aku tahu selama hampir dua minggu ini mbak Aisyah dilema akut. Ia sholat lebih lama, berdoa lebih panjang dan sunnahnya dikencangkan. Selalu ada bulir tipis yang menetes di sudut matanya walau terus diusap namun semakin deras mengalir. Ia tak mau mengecewakan berbagai pihak. Keputusan matang diambil setelah konsultasi sana sini. Mahasiswa berbeasiswa tidak dibolehkan cuti dan mahasiswa aktif seperti mbak Aisyah dilarang cuti oleh teman-temannya. Tapi semua mengerti. Mereka berberat hati membiarkan mbak Aisyah cuti. Tapi mbak Aisyah begitu lunglai lemas seakan kupu kupu yang kehilangan sayapnya. Tak tega aku ini mbak melihat matamu begitu sayu tanpa binarannya.
Berulang kali mbak Aisyah bertanya padaku soal langkah terbaiknya yang harus diambil. Namun aku hanya seorang Raya yang tak sepandai mbak Aisyah dalam memberi saran. Tapi memang siapa pun akan sulit memberi solusi. Bagaimana tidak, ibu mbak Aisyah masuk rumah sakit lagi. Lambung akut yang memang sudah diderita lama kini kambuh dan membuat beliau tak berdaya di rumah sakit. Kedua adiknya yang masih SD dan SMP harus tetap sekolah, tidak boleh bolos. Sehingga ibunya di rumah sakit sendirian ketika ke dua adiknya sekolah.
Bersyukurnya, biaya rumah sakit ditanggung pemerintah namun kebutuan pribadi tetap mbak Aisyah yang harus berjuang. Mbak Aisyah juga bingung bila dia harus cuti maka tak akan ada lagi penghasilan. Seperti yang semua ketahui, ia kuliah sambil kerja. Lalu kalau cuti dan pulang, ia harus kerja di mana untuk memenuhi semua kebutuhan rumah dan sekolah adik-adiknya.
Keputusan harus segera diambil karna ia tak kuasa membayangkan ibunya sendirian di rumah sakit. Mbak Aisyah tak peduli bagaimana hidupnya setelah ia cuti. Ia hanya cukup meyakinkan pada hatinya bahwa semua akan mudah. Allah akan menolongnya dan memberi rezeki yang tak disangka-sangka. Itulah yang kukagumi dari mbak Aisyah, selalu yakin ada titik cahaya direlung yang gelap gulita. Optimis akan bisa melalui dengan mudah.
Hari masih gelap. Mentari pagi terlihat malas malas menampakkan kegagahannya. Embun dengan nakalnya masih membasahi apa pun yang tak terlindung. Sepagi itu hanya ada satu-dua lalu lalang melintasi jalan raya yang selalu padat di pagi hingga menjelang malam. Mbak Aisyah kuantar ke terminal bus kota. Aduh berat rasanya melepas mbak Aisyah tak tega juga membiarkan pulang sendirian dengan hatinya yang sesak. Kupeluk erat cukup lama dan tak terasa pipiku basah.
Dalam suara yang lirih, mbak Aisyah berbisik, "Ray, jangan lupa sholat lima waktunya doain ibuku dan aku ya, jangan keluar malam untuk nongkrong, tugas kuliahnya dikerjain tepat waktu dan satu lagi, jangan suka php'in cowok hehehe" ada senyum tipis mengulum di bibirnya. Aduh pesan terakhir buatku nyengir merasa malu.
Aku hanya mengangguk dan senyum tipis. Namun pipiku semakin basah nggak mau ditinggal lama oleh mbak Aisyahku. Dalam hatiku, aku berjanji akan melaksanakan semua pesan itu. Bagiku mbak Aisyah bukan hanya sahabat tapi guru spiritual
yang tak mungkin kukecewakan.
Hampir seminggu setelah kepulangan mbak Aisyah tak kudengar kabarnya sama sekali. Hpnya tak bisa ditelpon dan tak tahu harus menghubungi siapa. Aku hanya berharap mbak Aisyah dan keluarganya dalam keadaan baik, ibunya segera sembuh dan mbak Aisyah kembali kuliah.
Rasa khawatir yang mendera selama hilangnya kabar mbak Aisyah terjawab juga. Ternyata mbak Aisyah menjual hpnya untuk tambahan kebutuhan adik-adiknya. Kini ia juga bekerja di sekolah SMAnya dulu sebagai petugas Tata Usaha dan mengajar ekstrakulikuler Pramuka. Selain itu, di rumahnya ia juga membuka les privat untuk SD dan SMP.
Mbak Aisyah memang bagai cahaya dalam kegelapan. Situasi gelap yang melandanya segera ia ubah dengan cahaya yang menerangi setiap kemudahannya. Ia tak pernah mendahulukan keluh kesahnya. Selalu berfikir positif dan menanamkan jiwa optimis walau ia tak tahu harus berbuat apa. Yang paling penting, jalani saja dulu sebisa mungkin dengan usaha dan do'a yang kenceng.
Kenyataan yang kuketahui dari sosok berbakti yaitu mbak Aisyah membuatku berfikir lebih mendalam. Tentang sikapku yang tak baik selama ini kepada orang tuaku. Sekali lagi dan berulang kali mbak Aisyah membuka keegoisanku. Dan aku selalu bersyukur tentang itu.
Keadaan ibu mbak Aisyah jauh lebih baik dan sudah bisa melakukan aktifitas secara mandiri. Namun mbak Aisyah mengurungkan niatnya untuk kembali kuliah. Ia tak tega meninggalkan ibunya untuk mengurusi rumah. Ibunya tak boleh capek. Mbak Aisyah punya PR ringan yang tampak berat. Ia harus membuat adik adiknya yang kedua lelaki telaten seperti perempuan. Harus bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah. Kecuali masak, bagi ibunya masak bukanlah pekerjaan berat. Cukup memasak tanpa mencuci peralatan masak. Ia tak akan kembali sebelum melihat kenyataan bahwa adik adiknya dapat dipercaya.
Semua menunggu mbak Aisyah kembali. Tapi semua lebih menunggu mbak Aisyah kembali dengan keceriaan. Dengan senyum tanpa beban menggunung di pundak. Tanpa air mata yang merusak binarnya. Semua rindu dengan aura positif yang mbak Aisyah tebarkan. Rindu pula dengan manisnya senyum yang meronakan pipinya. Yang membuat binar matanya semakin elok dipandang.
Mbak Aisyah Sequel
Aku tahu selama hampir dua minggu ini mbak Aisyah dilema akut. Ia sholat lebih lama, berdoa lebih panjang dan sunnahnya dikencangkan. Selalu ada bulir tipis yang menetes di sudut matanya walau terus diusap namun semakin deras mengalir. Ia tak mau mengecewakan berbagai pihak. Keputusan matang diambil setelah konsultasi sana sini. Mahasiswa berbeasiswa tidak dibolehkan cuti dan mahasiswa aktif seperti mbak Aisyah dilarang cuti oleh teman-temannya. Tapi semua mengerti. Mereka berberat hati membiarkan mbak Aisyah cuti. Tapi mbak Aisyah begitu lunglai lemas seakan kupu kupu yang kehilangan sayapnya. Tak tega aku ini mbak melihat matamu begitu sayu tanpa binarannya.
Berulang kali mbak Aisyah bertanya padaku soal langkah terbaiknya yang harus diambil. Namun aku hanya seorang Raya yang tak sepandai mbak Aisyah dalam memberi saran. Tapi memang siapa pun akan sulit memberi solusi. Bagaimana tidak, ibu mbak Aisyah masuk rumah sakit lagi. Lambung akut yang memang sudah diderita lama kini kambuh dan membuat beliau tak berdaya di rumah sakit. Kedua adiknya yang masih SD dan SMP harus tetap sekolah, tidak boleh bolos. Sehingga ibunya di rumah sakit sendirian ketika ke dua adiknya sekolah.
Bersyukurnya, biaya rumah sakit ditanggung pemerintah namun kebutuan pribadi tetap mbak Aisyah yang harus berjuang. Mbak Aisyah juga bingung bila dia harus cuti maka tak akan ada lagi penghasilan. Seperti yang semua ketahui, ia kuliah sambil kerja. Lalu kalau cuti dan pulang, ia harus kerja di mana untuk memenuhi semua kebutuhan rumah dan sekolah adik-adiknya.
Keputusan harus segera diambil karna ia tak kuasa membayangkan ibunya sendirian di rumah sakit. Mbak Aisyah tak peduli bagaimana hidupnya setelah ia cuti. Ia hanya cukup meyakinkan pada hatinya bahwa semua akan mudah. Allah akan menolongnya dan memberi rezeki yang tak disangka-sangka. Itulah yang kukagumi dari mbak Aisyah, selalu yakin ada titik cahaya direlung yang gelap gulita. Optimis akan bisa melalui dengan mudah.
Hari masih gelap. Mentari pagi terlihat malas malas menampakkan kegagahannya. Embun dengan nakalnya masih membasahi apa pun yang tak terlindung. Sepagi itu hanya ada satu-dua lalu lalang melintasi jalan raya yang selalu padat di pagi hingga menjelang malam. Mbak Aisyah kuantar ke terminal bus kota. Aduh berat rasanya melepas mbak Aisyah tak tega juga membiarkan pulang sendirian dengan hatinya yang sesak. Kupeluk erat cukup lama dan tak terasa pipiku basah.
Dalam suara yang lirih, mbak Aisyah berbisik, "Ray, jangan lupa sholat lima waktunya doain ibuku dan aku ya, jangan keluar malam untuk nongkrong, tugas kuliahnya dikerjain tepat waktu dan satu lagi, jangan suka php'in cowok hehehe" ada senyum tipis mengulum di bibirnya. Aduh pesan terakhir buatku nyengir merasa malu.
Aku hanya mengangguk dan senyum tipis. Namun pipiku semakin basah nggak mau ditinggal lama oleh mbak Aisyahku. Dalam hatiku, aku berjanji akan melaksanakan semua pesan itu. Bagiku mbak Aisyah bukan hanya sahabat tapi guru spiritual
yang tak mungkin kukecewakan.
Hampir seminggu setelah kepulangan mbak Aisyah tak kudengar kabarnya sama sekali. Hpnya tak bisa ditelpon dan tak tahu harus menghubungi siapa. Aku hanya berharap mbak Aisyah dan keluarganya dalam keadaan baik, ibunya segera sembuh dan mbak Aisyah kembali kuliah.
Rasa khawatir yang mendera selama hilangnya kabar mbak Aisyah terjawab juga. Ternyata mbak Aisyah menjual hpnya untuk tambahan kebutuhan adik-adiknya. Kini ia juga bekerja di sekolah SMAnya dulu sebagai petugas Tata Usaha dan mengajar ekstrakulikuler Pramuka. Selain itu, di rumahnya ia juga membuka les privat untuk SD dan SMP.
Mbak Aisyah memang bagai cahaya dalam kegelapan. Situasi gelap yang melandanya segera ia ubah dengan cahaya yang menerangi setiap kemudahannya. Ia tak pernah mendahulukan keluh kesahnya. Selalu berfikir positif dan menanamkan jiwa optimis walau ia tak tahu harus berbuat apa. Yang paling penting, jalani saja dulu sebisa mungkin dengan usaha dan do'a yang kenceng.
Kenyataan yang kuketahui dari sosok berbakti yaitu mbak Aisyah membuatku berfikir lebih mendalam. Tentang sikapku yang tak baik selama ini kepada orang tuaku. Sekali lagi dan berulang kali mbak Aisyah membuka keegoisanku. Dan aku selalu bersyukur tentang itu.
Keadaan ibu mbak Aisyah jauh lebih baik dan sudah bisa melakukan aktifitas secara mandiri. Namun mbak Aisyah mengurungkan niatnya untuk kembali kuliah. Ia tak tega meninggalkan ibunya untuk mengurusi rumah. Ibunya tak boleh capek. Mbak Aisyah punya PR ringan yang tampak berat. Ia harus membuat adik adiknya yang kedua lelaki telaten seperti perempuan. Harus bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah. Kecuali masak, bagi ibunya masak bukanlah pekerjaan berat. Cukup memasak tanpa mencuci peralatan masak. Ia tak akan kembali sebelum melihat kenyataan bahwa adik adiknya dapat dipercaya.
Semua menunggu mbak Aisyah kembali. Tapi semua lebih menunggu mbak Aisyah kembali dengan keceriaan. Dengan senyum tanpa beban menggunung di pundak. Tanpa air mata yang merusak binarnya. Semua rindu dengan aura positif yang mbak Aisyah tebarkan. Rindu pula dengan manisnya senyum yang meronakan pipinya. Yang membuat binar matanya semakin elok dipandang.
Mbak Aisyah Sequel

Komentar
Posting Komentar