“Mbak Gokil…!”
Sapa aneh seorang cowok yang sedari tadi berdiri di bibir
pintu kelas X.8 (baca kelas sepuluh delapan) pada Rania yang berdiri di depan
pintu untuk menunggu temannya.
Rania
tersenyum geli mengingat kali pertama Rafa yang dulu belum dikenal memanggilnya
Mbak Gokil. Nyletuk begitu saja, enteng sekali. MBAK GOKIL. Dua kata misterius
itu yang sampai detik ini tak mampu Rania pecahkan. Ya, hanya Rafa yang tahu,
mengerti dan memahami apa di balik kata MBAK GOKIL.
“Ya enggak tahu, waktu itu aku ingin aja manggil kamu Mbak
Gokil dan apa alasannya ya rahasialah.”
Itulah
jawaban yang Rafa selalu keluarkan jika Rania mempertanyakan dibalik panggilan mbak
gokil yang disodorkan padanya.
Tapi kini, dua kata misterius itu tak pernah Rania dengar lagi dari mulut
Rafa. Rafa diam membisu. Mencoba menghapus kisah misteri di balik panggilan yang mbak gokil yang pernah Rafa sematkan
begitu saja tanpa ada pertanggung jawaban. menghembuskan rasa penasaran Rania. Seolah Mbak Gokil itu sudah
selesai dan hanya ada di dua tahun yang lalu. Episode ceritanya dipaksa habis di
kelas 3.IPA.4 (baca kelas tiga IPA empat) dan tak akan pernah berlanjut.
Dalam kelas yang begitu banyak
memberikan kesempatan pada Rafa untuk sering berbicara dengan Rania, justru
keadaan itu berbalik. Ia merasa ruang itu terlalu sempit hingga Rafa
tak di beri kesempatan untuk sekedar say
hello pada Rania. Jelas, Rania merasa aneh dengan perubahan sikap Rafa yang
berubah derastis. Jangankan berharap di panggil Mbak Gokil senyum padanya saja
tak pernah. Rania merasa dibenci
tanpa kejelasan oleh Rafa. Itu semua bukan tanpa alasan, ada alasan yang sulit
untuk di jelaskan.
Di saat Rafa hendak menyapa Rania lalu dengan tak sengaja Rania menoleh kepadanya
jantung Rafa
berdebar hebat. Lidahnya menjadi kelu, akhirnya ia tak jadi menyapa dan langsung
mengalihkan pandangan. Sejujurnya Rafa sangat ingin akrab seperti ia akrab pada
beberapa teman cewek di kelas. Namun kenyataannya
keinginan itu sulit untuk terwujud.
***
Tiga bulan berlalu.
Rania tampak sedang asyik bercanda dengan teman
sebangkunya. Tiba-tiba Rafa nekat duduk di depan meja bangku Rania. Rafa
memandangi Rania tanpa berkedip dan tidak berkata satu karakter hurufpun. Rania
salah tingkah.
Mengapa
Rafa semakin aneh. Kemarin-kemarin enggak ngenal, tapi sering memandangiku? Apalagi
kali ini Rafa ada di depanku. Rania
segera melupakan pertanyaannya sendiri. Tak
sengaja Rania membalas pandangan Rafa. Bertemulah
dua pasang bola mata itu. Mereka
saling bertatap tanpa saling berkata. Tatapan itu menyimpan sejuta arti dan mudah di
terjemahkan oleh siapa saja yang melihat peristiwa ini. Namun tatapan keduanya tak berlangsung lama. Aahh! Rania
enggak asyik. Rania tak tahan dengan tatapan Rafa yang
kian ditatap kian tajam.
“Rafa kamu kenapa sih, kes-surupan?” Selidik Rania, curiga.
“Eih enggaklah,
Mbak Gokil!” Eits
Rafa keceplosan. Sejurus kemudian ia memejamkan mata dan
mengepalkan tangan.
Dua kata misterius itu lagi. Rania membuncah. Kali ini ia
tak merasa aneh dipanggil Mbak Gokil justru ia bahagia. Sssttt
bahagia?
Rania meninggalkan Rafa yang masih
tetap menatapnya. Ia
pergi bukan takut dengan tatapan Rafa yang mirip orang kesurupan. Tapi entah mengapa tatapan mata Rafa membuat ia merasa nervous dan salah tingkah. Rania langsung
mengadu pada Farah yang dulu teman sebangkunya sebelum terjadi rolling tempat duduk. Anehnya Farah tak menanggapi Rania ia hanya
tersenyum dan tertawa. Entah apa yang membuat itu menjadi lucu? ANEH!
Satu jam sebelum bel pulang berbunyi dan tak ada
guru karena ada rapat di ruang guru. Rupanya keanehan Rafa dan Farah membuat Rania diam dan
tak peduli dengan suasana kelas. Biasanya kelas kosong seperti ini ia berbaur
dengan teman-temannya untuk membahas soal-soal UN atau sekedar gosip. Ya pasti
lebih banyak ngegosipnya, hehehe.
“Ran kok nge-galau sih, kenapa? Apa gara-gara Rafa?” Goda Suci teman di belakang
bangkunya.
Lah
kok Rafa sih? Apa Suci tahu kalau aku
mulai ada rasa pada Rafa?
“Kok Rafa? Dan kenapa juga akhir-akhir ini anak-anak
sekelas goda-godain aku sama Rafa. Ada apa tho???” Rania memburu pertanyaan pada
Suci, mukanya sedikit memelas bercampur
rasa penasaran.
“Masak sih enggak tahu? Enggak merasa?” Suci
berhenti sejenak, ia tersenyum geli pada Rania. “Rafa tuh suka sama kamu...”
“Ha...???” Rania membuka mulutnya lebar-lebar. Ia terkejut bukan main sampai tak
bisa berkata-kata.
“Rafa pernah keceplosan bilang kalau dia suka sama kamu.
Mangkanya anak-anak godain kamu sama Rafa, dan Rafa sikapnya anehkan sama kamu,
masa sih kamu enggak merasa? Hayo…” Goda Suci.
Rania diam. Dia
tak tahu harus menjawab apa. Bibirnya sedikit membuka tapi ia kembali diam.
Suci meninggalkan Rania sendiri
memberi ruang untuk Rania menyadari apa yang sedang terjadi. Lalu Rania
langsung ke tempat duduk Farah, ia terdiam sejenak dan menceritakan semuanya
pada Farah.
“Hahaha.” tawa keras Farah, “Aku sebenarnya udah tahu
kok, mangkanya waktu kemarin kamu cerita tentang sikap Rafa yang menatap kamu, aku
enggak merasa itu aneh, hehehe..” Farah terkekeh.
Rania semakin
tak mengerti.“Kok kamu diam aja Far?” Rania mengernyitkan dahi.
“Yah kata Rafa kita suruh diam, dan jujur ya Ran sebenarnya
aku udah ngerasa kalau Rafa memang suka sama kamu sejak lama.”
Rania
hanya mengernyitkan dahi dan menyipitkan mata tanda ia memperlihatkan ketidak
percayaan.
“Ran, tatapan Rafa ke kamu itu beda, mata itu gak bisa
berbohong Ran. Hahaha..” Farah tertawa keras melihat raut muka Rania yang
memperlihatkan ketidak pahaman.
“Kini
misteri tentang Mbak Gokil dan sikap anehmu telah terungkap Rafa. Baiklah Rafa
jika kamu memilih mengungkapkan perasaanmu kepada teman-teman sekelas, aku akan
lebih memilih menyimpan rapat-rapat dan membiarkan rasa ini tersimpan abadi
dalam kebisuan” goresnya di atas kertas putih rapih, lalu kertas itu Rania simpan di
celengan ayamnya. Loh kok celengan ayam, ia terserah Ranialah.
Tak bisa
Rania tepis ia juga menaruh rasa pada Rafa, namun Rania
sadar ia takkan bisa bersama dengan Rafa. Rafa punya pilihan lain, yaitu diam
dan tak mencoba mengatakannya.
Tak sengaja Rania menangkap Rafa yang sedang
memperhatikan dirinya, kedua mata itu bertemu untuk kesekian kalinya. Rafa jangan menatapku sedalam itu, aku takut
kedalaman sorot matamu hanya akan mampu mengungkapkan lewat tatapan tanpa
berkata, aku takut aku terjebak dalam cintamu yang tak mungkin kumiliki untuk
saat ini, elak dalam hati Rania.
Siang,
tepat pukul 14.00 bel pulang sekolah berbunyi. Namun, di luar hujan begitu
deras mengguyur bumi tempat manusia membuat dosa. Ah hujan, kau ini, umpat
Rania pada air yang terjun dari langit gelap itu. Rania terpaksa menunggu hujan
reda. Ia tak mau baju
dan sepatunya basah karena besok masih di pakai. Walau kebanyakan teman-temanya memilih nekat dan esoknya bisa alasan
untuk memakai sendal karena sepatu basah. Euh, itu bukan aku banget, gumam di
hatinya.
Telah lebih satu jam Rania menunggu hujan reda. Ia sudah
berkali-kali mondar-mandir keluar kelas udah mirip setrika aja, namun rasa
kecewa yang ia dapatkan. Hujan tidak kunjung reda, justru semakin deras. Haduh!
“Mbak Rania, pakai aja payung ini,”
kata adik kelas yang tiba-tiba memberinya payung berwarna putih, Rania cukup
terkejut tapi enggak sampai pingsan.
“Ini kan payung kamu dek, kok kamu kasih ke aku,”
tolak halus Rania.
“Enggak kok, ini payungnya mas Rafa. Pakai aja mbak,” adik kelasnya yang ternyata
suruhan Rafa itu langsung pergi.
“Eh!
pa…yung…nya…, ah pergi,”
Rania tak langsung menggunakan payung putih pemberian
Rafa itu. Ia hanya memandang aneh. Apa arti semua ini, kenapa harus Rafa dan Rafa
lagi? Ini hanya akan membuat aku sakit, kenapa semua harus seperti ini?
Seharusnya semua ini tak terjadi dan payung ini bukan hakku, umpat Rania di
dalam hatinya.
Rania
memutarkan pandangannya ke seantero ruang bumi jangkaunnya, mencari sosok
pemberi payung putih. Tak ada, pasti ia sedang bersembunyi. Kenapa kamu begitu
pengecut Rafa, umpatnya sekali lagi di hati. Rania langsung meletakkan payung
putih di lantai. Dia memilih menembus hujan.
Membiarkan baju dan tubuhnya di
siram oleh hujan. Berjalan pelan, menikmati sejuknya air hujan. sesekali menoleh
kebelakang, berharap ada Rafa mengejarnya. Namun, nihil. Tak ada Rafa. Rania
berlari kencang. Ia ingin segera sampai di rumah. Ingin segera mengadu pada Allah, Tuhan yang lihai
membolak-balikkan perasaan.
“Mbak Gokil....
!!!” teriakan Rafa terdengar begitu jauh.
“Sudah cukup! Jangan sebut kata itu lagi, aku enggak
GOKIL, please deh... ” umpat Rania di tengah hujan tanpa menoleh ke arah datangnya
panggilan itu.
“Mbak Gokil..!!!” teriakan ke dua Rafa.
Rania tetap tak menoleh justru ia mempercepat jalannya. Namun Rafa tetap
memanggilnya dengan sebutan yang sama hingga Rania akhirnya kalah. Rania
memutar badannya melihat Rafa berusaha mengejarnya, walau tak jelas karena
tirai hujan menghalangi pandangan mereka.
Rafa mematung. Tak mengejar Rania lagi,
ia hanya menatap sayu Rania dari kejauhan. Apa maumu Rafa, Tanya Rania dalam
hatinya.
Rania berjalan mundur menjauhkan dirinya dari Rafa
yang membeku. Hujan semakin deras, tak mengijinkan keduanya saling bertatap lagi.
Tirai hujan memudarkan pandangan keduanya dan Rania tetap berjalan mundur
berusaha masih bisa melihat Rafa. Dalam pandangan yang pudar Rania menangkap
senyuman Rafa. Senyum yang menyimpan sebuah rasa tulus, senyum yang menyimpan
rahasia suci. Rania membalas senyum itu. Senyum
keduanya itu sedetik kemudian
hilang. Rafa dan Rania tak bisa saling memandang lagi karena hujan telah ikut andil
menyimpan rahasia suci mereka.
Tak mungkin aku menghujat hujan. Titik demi titik air ini
adalah keromantisan. Hujan bukan menghalangi senyum suci kita, namun
menyimpannya untuk kemudian yang tak ditentukan kapan ujungnya.
Jangan memaki rinai hujan. Cacilah aku yang tak mampu
mengungkap kebenaran perasaan padamu. Hujan hanya memacu agar aku mengejarmu,
tak mau terhalangi oleh setitik air hujanpun di wajahmu. Pada kenyataannya, aku
memang kalah dengan keromantisan hujan. Aku tak mampu mendekap erat ketulusan
yang kumiliki seperti air hujan mendekapmu penuh dengan kebahagiaan.
Tak usah lagi aku menaruh harapan. Hujan hari ini. Besok.
Ataupun selamanya. Keromantisan hujan cukuplah senyummu padaku.
Banyuwangi.
Selamanya
Misteri yang
tetap misteri
Komentar
Posting Komentar